Tata Cara Sholat Dhuha dan Bacaannya Surat Pendek
tata cara sholat dhuha dan bacaannya tergantung dari jumlah rakaat yang akan dikerjakan.
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Musahadah
SURYA.CO.ID - Tata cara Sholat Dhuha dan bacaannya tergantung dari jumlah rakaat yang akan dikerjakan.
Jumlah rakaat Sholat Dhuha minimal 2 rakaat, adapun bacaan surat pendeknya menurut hadist adalah Surat Asy Syams dan Ad Dhuha.
Hadist riwayat 'Uqbah bin 'Amir: "Rasulullah pernah memerintahkan pada kami mengerjakan sholat dhuha dengan membaca Surah Asy-Syams dan Surah Ad-Dhuha." (HR At-Thabrani).
Sholat Dhuha juga boleh dikerjakan 4 rakaat, adapun caranya adalah setiap dua rakaat mengucap salam.
Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghathafani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ
“Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang” (HR. Tirmidzi no. 475, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 4342).
Dari Ummu Hani’ binti Abi Thalib , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakan Sholat dhuha sebanyak delapan rakaat. Pada setiap dua rakaat, beliau mengucap salam. (HR. Abu Dawud; shahih).
Menurut Ustadz Arif Rahman dalam buku Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah Saw, jumlah Sholat Dhuha paling banyak adalah 8 rakaat.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ummu Hani', saudara perempuan Ali bin Abi Thalib yang menuturkan, "Rasulullah SAW mengerjakan sholat dhuha sebanyak delapan rakaat." (HR Bukhari dan Muslim).
Berikut tata cara sholat dhuha dua rakaat dan bacaan surat pendeknya:
Niat Sholat Dhuha
أُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنَ لِلَّهِ تَعَالَى
Usholli sunnatadh dhuhaa rok’ataini lillaahi ta’aalaa
Artinya: “Aku niat Sholat Sunah Dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala”
Bacaan Surat Sholat Dhuha
Berikut bacaan surat pendek Sholat Dhuha, yang dibaca setelah Al Fatihah pada rakaat pertama dan kedua.
1. Asy-Syams
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
• وَالشَّمْسِ وَضُحٰهَاۖ
Wasy-syamsi wa ḍuḥāhā.
"Demi matahari dan sinarnya pada waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),"
• وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰهَاۖ
Wal-qamari iżā talāhā.
"demi bulan saat mengiringinya,"
• وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰهَاۖ
Wan-nahāri iżā jallāhā.
"demi siang saat menampakkannya,"
• وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰهَاۖ
Wal-laili iżā yagsyāhā.
"demi malam saat menutupinya (gelap gulita),"
• وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰهَاۖ
Was-samā'i wa mā banāhā.
"demi langit serta pembuatannya,"
• وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰهَاۖ
Wal-arḍi wa mā ṭaḥāhā.
"demi bumi serta penghamparannya,"
• وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰهَاۖ
Wa nafsiw wa mā sawwāhā.
"dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya,"
• فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰهَاۖ
Fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā.
"lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,"
• قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰهَاۖ
Qad aflaḥa man zakkāhā.
"sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)"
• وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰهَاۗ
Wa qad khāba man dassāhā.
"dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."
• كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِطَغْوٰهَآ ۖ
Każżabat ṡamūdu biṭagwāhā.
"(Kaum) Samud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas"
• اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰهَاۖ
Iżimba‘aṡa asyqāhā.
"ketika orang yang paling celaka di antara mereka bangkit (untuk menyembelih unta betina Allah)."
• فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَاقَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَاۗ
Fa qāla lahum rasūlullāhi nāqatallāhi wa suqyāhā.
Rasul Allah (Saleh) lalu berkata kepada mereka, “(Biarkanlah) unta betina Allah ini beserta minumannya.”
• فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَاۖ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمْ فَسَوّٰهَاۖ
Fa każżabūhu fa ‘aqarūhā fa damdama ‘alaihim rabbuhum biżambihim fa sawwāhā.
Namun, mereka kemudian mendustakannya (Saleh) dan menyembelih (unta betina) itu. Maka, Tuhan membinasakan mereka karena dosa-dosanya, lalu meratakan mereka (dengan tanah).
• وَلَا يَخَافُ عُقْبٰهَا ࣖ
Wa lā yakhāfu ‘uqbāhā.
Dia tidak takut terhadap akibatnya.
2. Ad-Dhuha
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
• وَالضُّحٰىۙ
waḍ-ḍuḥā
Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),
• وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ
wal-laili iżā sajādan
Demi malam apabila telah sunyi,
• مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ
mā wadda'aka rabbuka wa mā qalā
Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,
• وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ
wa lal-ākhiratu khairul laka minal-ụlādan
Sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.
• وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ
wa lasaufa yu'ṭīka rabbuka fa tarḍā
Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.
• اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ
a lam yajidka yatīman fa āwāBukankah
Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),
• وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ
wa wajadaka ḍāllan fa hadādan
Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk,
• وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ
wa wajadaka 'ā`ilan fa agnādan
Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
• فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ
fa ammal-yatīma fa lā taq-har
Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
• وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ
wa ammas-sā`ila fa lā tan-har
Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).
• وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
wa ammā bini'mati rabbika fa ḥaddiṡ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/ilustrasi-tata-cara-sholat-idul-adha.jpg)