Sabtu, 25 April 2026

Citizen Reporter

Healing di Pasar Oro-Oro Dowo Kota Malang

Kota Malang menjadi salah satu lokasi yang pas untuk healing dan menenteramkan mental yang kusut akibat rutinitas sehari-hari.

Editor: irwan sy
ist
Penjual jajanan di Pasar Oro-Oro Dowo Kota Malang. 

SURYA.co.id - Kota Malang menjadi salah satu lokasi yang pas untuk healing dan menenteramkan mental yang kusut akibat rutinitas sehari-hari.

Meluncur dari arah mana pun, Malang mudah dijangkau.

Di akhir pekan, memang harus diwaspadai peningkatan volume kendaraan.

Akan tetapi, bukankah itu sepaket dengan kesenangan yang didapat?

Erlina Rahmawati menemukan kios-kios menjanjikan di dalam pasar.

Ada apa lagi di Malang? Rasanya semua lokasi sudah pernah diubek.

Jangan khawatir, selalu ada selempitan-selempitan yang luput dari pandangan dan patut didatangi.

Tentu saja itu membuat pengunjung yang pernah ke Malang harus membuat agenda lagi untuk kembali ke sana.

Mal sudah banyak, seperti juga mal di kota-kota besar lain.

Jadi, apa yang mau didatangi lagi di Malang?

Agenda yang dibuat harus jelas jika waktu yang tersedia tidak terlalu banyak.

Jika bisa menginap, tentu itu perjalanan yang sempurna.

Masalahnya, ada banyak hal yang membuat rencana sempurna itu sulit diwujudkan.

Berangkat dari Surabaya, awal Februari lalu, bekal rancangan akan ke mana dan mau apa, sudah dibuat.

Jalan tol memudahkan akses dari Surabaya ke Malang.

Jika lewat jalan tol, jarak tinggal sekedip mata.

Tentu jika tidak ada kemacetan.

Jika pun ada, itu adalah bonus yang menjadi penyeimbang pencarian tempat untuk melenturkan ketegangan di sepanjang minggu.

Perjalanan dari utara kali itu dengan agenda sederhana.

Singgah di Taman Malabar untuk mengisi paru-paru dengan udara segar di antara pepohonan.

Meski suhu di Malang sudah tidak sesejuk 10 tahun lalu, di Taman Malabar masih ada kesejukan itu.

Incaran di Taman Malabar mungkin bagi sebagian orang tidak asyik.

Untuk apa jauh-jauh ke Malang jika hanya menikmati hutan kota?

Jangan salah, hutan kota ini istimewa.

Pemkot Malang merancangnya supaya siapa pun bisa beristirahat di antara kesejukan pepohonan, bersih dan terawat.

Tentu saja pengunjung harus pintar melihat situasi.

Saat musim hujan, duduk di bawah pepohonan tentu bukan pilihan yang tepat.

Mengapa menunjuk Taman Malabar?

Itu karena lokasinya berdekatan dengan sasaran utama datang ke Malang.

Sasaran utamanya adalah Pasar Oro-Oro Dowo.

Itu adalah lokasi yang direkomendasikan untuk mereka yang ingin mencari perjalanan yang tidak biasa.

Pasar Oro-Oro Dowo menjadi pilihan unik yang bisa dijadikan alternatif titik temu di Malang.

Pasar tradisional yang dibuat sejak zaman Belanda dan terletak di Jalan Guntur, Klojen itu, kini sudah berubah menjadi pasar rakyat yang bersih, sehat, dan mampu bersaing dengan pasar modern.

Dalam panduan web internasional pariwisata Tripadvisor.com, Pasar Oro-Oro Dowo menduduki peringkat 2 tempat yang harus didatangi di Malang untuk kategori gedung yang menarik untuk dikunjungi.

Jika brand yang dipasang menggunakan kata pasar, jangan apriori dulu.

Persepsi tentang pasar tradisional yang becek, beraroma menyengat, dan panas harus dicoret.

Pasar Oro-Oro Dowo ditata cukup rapi.

Itu sebabnya, lokasi itu bisa menjadi area pertemuan untuk mencari rahasia di dalamnya.

Berbeda dengan aroma pasar tradisional yang menyengat, begitu memasuki pintu pasar, pengunjung justru disambut dengan beragam aroma yang menggugah selera.

Harum manis kue lumpur kentang dan onde-onde yang baru matang berbaur dengan aroma gurih bakso goreng yang masih bermandi minyak panas di penggorengan.

Aktivitas seperti itu tentu saja tidak boleh ditolak.

Masuk lokasi saja sudah seperti menyaksikan reels di media sosial.

Di sebelah sana ada tangan terampil yang lincah mencungkil kue lumpur.

Aroma gosong yang khas seperti tangan yang memanggil untuk datang dan membeli.

“Kue lumpurnya mantap,” kata Ignatius yang telah memilih camilan berat itu bahkan sebelum masuk pasar.

Di tempat berbeda, wajan besar berisi minyak panas tidak pernah berhenti bergolak mematangkan bakso goreng.

Berapa pun yang dituang ke dalam wajan panas, jumlah itu akan dengan cepat berganti wadah karena sudah ditunggu yang memesan.

Jika bisa, sepuluh jari akan menunjuk ke segala arah untuk memesan aneka camilan, kue, minuman, dan makanan berat.

Jika perut tidak disiagakan untuk kosong sebelum masuk pasar, lebih baik dibungkus dan dibawa pulang.

Yang membuat nyaman, suasananya terasa betul dijaga agar resik dan menyenangkan.

Cat dinding, meja saji, baju dan celemek yang dikenakan penjual, terjaga.

Lampu-lampu hias juga membuat suasana menjadi lebih berkelas.

Menelusuri kios-kios mulai dari depan harus dilakukan.

Putari dulu dan tentukan apa yang akan dipesan.

Perkara mau makan di sudut mana, itu dipikirkan nanti.

Yang pasti, ini saatnya berburu.

(erlina rahmawati)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved