Berita Bangkalan

Pemangsa Anak Makin Ngawur, Kali Ini Lecehkan Siswi Madrasah di Kamar Mandi Sekolah di Bangkalan

Dan ada beberapa kasus yang telah diselesaikan kedua belah pihak melalui pendekatan hingga terjadi kesepakatan

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Deddy Humana
surya.co.id/ahmad faisol
Kasatreskrim Polres Bangkalan, AKP Bangkit Dananjaya. 

SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Memprihatinkan, pelaku kekerasan seksual anak terus bermunculan seperti virus mematikan. Saat warga Bangkalan masih prihatin dengan nasib Bunga (14), akibat menjadi korban kekerasan fisik dan seksual oleh ayah angkatnya, MM (51), kini seorang anak perempuan berusia 7 tahun juga menjadi sasaran korban pelecehan seksual saat beraktifitas di lembaga pendidikan di Kelurahan Kemayoran, Kota Bangkalan.

Kasatreskrim Polres Bangkalan, AKP Bangkit Dananjaya mengungkapkan, perbuatan asusila terhadap anak di bawah umur itu dilaporkan oleh nenek korban, Selasa, (24/1/2023). Korban berusia 7 tahun, duduk di bangku kelas 1 SD.

“Kejadiannya kemarin (Selasa) sekitar pukul 13.00 WIB, pelakunya OTK atau orang tak dikenal. Saat itu korban dipanggil oleh seseorang yang tidak dikenal. Setelah mendekat, pelaku mengajak korban secara paksa ke sebuah kamar mandi di madrasah itu,” ungkap Bangkit, Rabu (25/1/2023).

Informasi yang dihimpun kepolisian, peristiwa asusila oleh orang tak dikenal itu bukanlah kejadian pertama. Karena itu, Bangkit meminta anggotanya segera melakukan pola-pola penyelidikan secara komprehensif. “Sepertinya bukan hanya satu (korbannya), modusnya sama yang di tempat lain dengan sasaran anak kecil di sekolah,” jelas Bangkit.

Disinggung bentuk tindakan pelecehannya, Bangkit belum menjelaskan secara rinci karena masih menunggu hasil visum terhadap korban. Harapannya, pihaknya bisa mengetahui keselarasan jalan cerita dengan apa yang disampaikan oleh korban. “Sudah terjadi perbuatan cabul, tetapi belum terjadi persetubuhan atau hubungan seksual,” pungkas Bangkit.

Sementara Kepala Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (KB dan P3A) Kabupaten Bangkalan, R Amina Rachmawati mengaku prihatin dan peristiwa tersebut harus benar-benar menjadi perhatian semua pihak.

“Karena ternyata ada orang tak dikenal dan itu terjadi di lingkungan sekolah. Artinya, kewaspadaan itu sudah tidak hanya menjadi tugas kita yang di rumah, tetapi di lingkungan di mana anak-anak berada,” ungkap Amina kepada SURYA.

Dalam setahun terakhir, total jumlah kasus rudapaksa, pelecehan seksual, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terhimpun di Dinas KB dan P3A Kabupaten Bangkalan sebanyak 23 kasus. Jumlah itu cenderung turun dari tahun sebelumnya yang terdata sebanyak 29 kasus.

Dan ada beberapa kasus yang telah diselesaikan kedua belah pihak melalui pendekatan hingga terjadi kesepakatan. “Sebenarnya kami tidak bisa bekerja sendiri, ini menjadi tugas kita bersama. Pertama tentunya keluarga yang paling inti, yakni orangtua, bapak-ibu, anak, dan lingkungan. Kedua, tempat anak melakukan aktifitas di luar rumah,” jelasnya.

Amina menambahkan, anak usia sekolah atau beraktifitas di luar rumah termasuk kategori di bawah umur, dan lembaga pendidikan akan banyak terlibat. Begitu juga dengan pemerintah, dalam hal ini Dinas KB dan P3A, lembaga lain seperti polres, Dinas Kesehatan, terutama Dinas Pendidikan dan juga lingkungan masyarakat yang ada akan melakukan hal-hal yang sifatnya pencegahan.

“Sangat memprihatinkan ketika korbannya berusia anak-anak. Karena kadang mereka tidak mengerti, tindakan apa yang harus dilakukan. Walaupun belum sampai rudapaksa tetapi itu kejadian yang menjadi perhatian bersama agar tidak terjadi lagi,” pungkas Amina. *****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved