TRAGEDI AREMA VS PERSEBAYA

LIPUTAN KHUSUS: Gadis 17 Tahun Korban Tragedi Kanjuruhan Berjuang Sembuh dari Hilang Ingatan

Pada malam kelam 1 Oktober 2022 silam, Cahayu mengalami koma selama tiga hari di Rumah Sakit Umum Daerah Kepanjen, Kabupaten Malang.

Editor: Rahadian Bagus
(suryamalang.com : rifky edgar/ luluk isnainiyah)
Mata Cahayu Nur Dewata kembali berwarna putih. Tangan kiri yang sebelumnya tak bisa digerakkan kini mulai pulih. Cahayu merupakan satu dari ratusan korban luka akibat tragedi Kanjuruhan. 

SURYA.CO.ID | MALANG - Mata Cahayu Nur Dewata kembali berwarna putih. Tangan kiri yang sebelumnya tak bisa digerakkan kini mulai pulih.

Gadis berusia 17 tahun itu mulai bisa beraktivitas. Dia sempat tersenyum ketika kami mendatangi rumahnya di Embong Brantas gang II, Kota Malang.

Cahayu merupakan satu dari ratusan korban luka akibat tragedi Kanjuruhan. Sebanyak 135 orang tewas akibat tragedi tersebut.

Pada malam kelam 1 Oktober 2022 silam, Cahayu mengalami koma selama tiga hari di Rumah Sakit Umum Daerah Kepanjen, Kabupaten Malang.

Tragedi Kanjurhan terjadi seusai pertandingan Arema Malang vs Persebaya Surabaya.

Cahayu mengalami cedera parah. Matanya merah karena gas air mata. Tangan kirinya tak bisa digerakkan, hingga mengalami luka lebam di bagian mata dan kepala.

Baca juga: LIPUTAN KHUSUS : Dua Balita Anak Korban Tragedi Kanjuruhan Terus Menanyakan Ibunya

Cahayu pun belum ingat betul  peristiwa tragedi Kanjuruhan yang hampir merenggut nyawanya itu.

Dia hanya ingat ada gas air mata berada tepat di depannya saat berlari untuk menyelamatkan diri ke pintu 12 Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

Ingatan itulah yang masih terngiang di pikirannya.

Berdasarkan kesaksian ibunda Cahayu, Nurul Aini, putrinya itu sempat mengalami hilang ingatan.

Cahayu tidak bisa mengingat memori dalam beberapa bulan terkahir sebelum tragedi Kanjuruhan.

Namun, setelah 100 hari tragedi Kanjuruhan, ingatan Cahayu mulai membaik. Dia kini mulai beraktivitas normal meski ada perbedaan dalam kepribadian Cahayu.

"Dulu anak saya ini periang. Tapi sekarang lebih banyak diam. Kalau dinasihati ngomel-ngomel. Emosinya masih labil," ucap Abdul Rohim, ayah Cahayu, Sabtu (21/1).

Rohim pun hanya bisa pasrah melihat perbedaan kepribadian dari anak keduanya itu. Sebagai ayah, dia hanya berdoa yang terbaik untuk putrinya.

Halaman
1234
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved