Berita Surabaya

Suasana Kampung Babat Jerawat yang Raih Juara 3 Surabaya Urban Farming Competition 2022

Warga Kampung Babat Jerawat Kota Surabaya selama empat tahun terakhir disibukkan dengan kegiatan urban farming.

Penulis: Zainal Arif | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/zainal arif
Warga Kampung Babat Jerawat yang tergabung dalam Kelompok Tani Kompak Sejahtera di Balai RT 07 RW 08 Kelurahan Babat Jerawat Kecamatan Pakal Kota Surabaya, Senin (26/12/2022). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Warga Kampung Babat Jerawat Kota Surabaya selama empat tahun terakhir disibukkan dengan kegiatan urban farming.

Kegiatan positif itu dilakukan warga sejak menyulap lahan kosong seluas 200 m2 di kawasan balai RT 07 RW 08 Kelurahan Babat Jerawat Kecamatan Pakal Kota Surabaya menjadi lahan perkebunan yang dipenuhi dengan tanaman sayur, buah hingga toga pada tahun 2018.

Sebanyak 20 warga yang tergabung kedalam Kelompok Tani Kompak Sejahtera mengemban amanah untuk merawat tanaman mulai dari pembibitan hingga panen.

Ketua RT 07, Isfery mengatakan pihaknya telah bergotong-royong bersama seluruh warga melakukan penghijauan diarea kampung.

"Jadi untuk 20 orang yang tergabung kedalam kelompok tani bertugas merawat tanaman yang ada di lahan kosong balai RT, sementara warga lainnya merawat tanaman masing-masing yang tumbuh di halaman rumahnya," ujar Isfery kepada SURYA.co.id, Senin (26/12/2022).

Berkat kekompakan warganya, banyak jenis tanaman yang ditanam warga melalui berbagai macam media tanam seperti hidroponik, tasalampot (tanaman sayur dalam pot) dan tabulampot (tanaman buah dalam pot).

"Tanaman sayur kami ada pakcoy, selada, sawi, bayam, terong, seledri. Kemudian apabila buah kami ada strawberry, jambu, kelengkeng dan lain sebagainya. Sementara untuk tanaman toga kami ada lidah buaya, binahong, mint, jahe, sereh, kelor dan masih banyak lainnya," ungkapnya.

Tak hanya melakukan urban farming, kampung yang dibulan Nopember meraih juara 3 kategori perintis lomba Surabaya Urban Farming Competition 2022 itu juga melakukan budidaya ikan nila dan ikan lele.

Budidaya ikan ini dilakukan warga melalui dua kolam buatan dan satu kolam dari beton.

Bahkan warga kampung ini menggunakan cara akuaponik (mengkombinasikan antara akuakultur dan hidroponik) karena tak mempunyai lahan yang cukup.

Di mana pada bagian atas digunakan untuk menanam cabe ataupun terong sedangkan di bagian bawah digunakan untuk membudidayakan ikan nila.

Berbeda halnya dengan ikan lele (bagian bawah) yang dimanfaatkan warga untuk menanam padi (bagian atas).

"Menggunakan sistem akuaponik ini menjadikan kami tak banyak hal yang perlu dilakukan dalam perawatan, karena hanya memastikan pompa tetap hidup supaya sirkulasi air tetap berjalan," terangnya.

Dengan menggunakan sistem akuaponik, warga tak perlu memberikan vitamin tambahan karena hal itu sudah digantikan dengan kotoran ikan yang dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik yang baik bagi pertumbuhan tanaman.

"Alhamdulillah berkat adanya budidaya ikan ini kami juga semakin produktif. Karena dari hasil urban farming dan budidaya ikan ini warga akan mengolahnya lagi menjadi produk makanan dan minuman," tutupnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved