Berita Surabaya
Warga RT 03 RW 04 Kelurahan Tembok Surabaya Olah Markisa Menjadi Minuman Sehat
Berbagai macam jenis tanaman tumbuh subur di kawasan Jalan Asem Jaya III Kota Surabaya.
Penulis: Zainal Arif | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Berbagai macam jenis tanaman tumbuh subur di kawasan Jalan Asem Jaya III Kota Surabaya.
Mulai dari tanaman sayur, buah, hingga toga dirawat setiap hari oleh warga setempat.
Kawasan RT 03 RW 04 Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan Kota Surabaya sejak 2016 telah berubah nama menjadi Kampung Sehati dengan icon buah markisa.
Maklum dari dulu, hampir semua rumah memiliki tanaman markisa yang tumbuh rindang didepan rumah.
Tanaman markisa itu membuat kampung yang dihuni oleh 76 KK ini terasa sangat sejuk meski di siang hari.
Ketua RT 03, Mochamad Cahyono mengatakan warganya tengah berupaya untuk kembali menanam bibit markisa.
"Karena keterbatasan pengetahuan, banyak tanaman yang mati. Kami baru tau kalau tanaman markisa saat berbuah hanya dua kali panen saja. Maka dari itu kami akan tanam lagi," ujar Cahyono kepada SURYA.co.id, Senin (12/12/2022).
Meski begitu, hasil panen dari buah markisa dikampung ini berhasil diolah oleh warga menjadi minuman dalam kemasan berupa sari buah markisa berlabel "Minuman Sehati" guna menunjang sektor ekonomi.

Dipilihnya buah markisa untuk diolah tak terlepas dengan banyaknya manfaat yang terkandung didalam buah berbentuk bulat lonjong itu.
Diantaranya, mengandung berbagai vitamin dan antioksidan serta melancarkan pencernaan.
Sementara untuk proses pembuatannya, warga mengawalinya dengan membelah buah markisa dan diambil isinya.
"Kami menyiapkan air yang kami campur garam, seduhan teh, gula dan buah markisa. Semuanya kami rebus sampai mendidih baru kemudian kami tutup pancinya sampai benar-benar dingin baru dimasukan kedalam botol," ungkapnya.
Minuman yang dijual dengan harga 3-5 ribu rupiah ini, selain dipasarkan ke lingkungan sekitar juga dipasarkan melalui media sosial .
"Selama ini respons masyarakat baik, tidak pernah sepi peminat. Pembeli datang dari Kalimantan, Pasuruan, dan lain sebagainya. Omsetnya sekitar Rp 2 Juta Rupiah per-bulan," katanya.
Selain budidaya tanaman dan pengolahannya, kampung yang pernah meraih juara 1 kampung sehat kategori madya 2019 ini juga melakukan budidaya ikan nila.
Ada sekitar 50 ekor ikan nila yang di pelihara oleh warga didalam kolam buatan maupun aquarium.
"Kami pilih budidaya ikan nila karena mudah perawatannya, kami hanya tinggal memberi makan pelet ikan dua kali sehari dan memastikan air tetap bersih. Itu saja," tutupnya.
BACA BERITA SURYA.CO.ID DI GOOGLE NEWS LAINNYA