Grahadi

Pemprov Jatim

Gubernur Khofifah Tekankan Pentingnya Moderasi dalam Keluarga untuk Tekan Angka Perceraian di Jatim

Berdasarkan data Pemprov Jatim, tren perceraian di Jatim dari tahun 2020, 2021 hingga bulan oktober 2022 mengalami penurunan signifikan

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Fatimatuz Zahro
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memberikan paparan soal pentingnya mewujudkan harmoni dalam keluarga dengan penguatan moderasi beragama dalam forum Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Keluarga Maslahah besutan Kementerian Agama di Asrama Haji, Surabaya, Senin (12/12/2022). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memberikan paparan soal pentingnya mewujudkan harmoni dalam keluarga dengan penguatan moderasi beragama dalam forum Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Keluarga Maslahah besutan Kementerian Agama di Asrama Haji, Surabaya, Senin (12/12/2022).

Pesan itu disampaikan Gubernur Khofifah, lantaran saat ini kasus cerai di Jatim cenderung lebih tinggi, dibandingkan dengan kasus cerai talak.

Diharapkan, dengan penguatan moderasi berbasis keluarga, akan mampu menekan angka perceraian di Jatim.

Dalam forum yang juga dihadiri oleh Menteri Agama Yaqut Kholil, Ketua PBNU Yahya Cholil serta Sekjen PBNU Siagullah Yusuf ini, dikatakan Khofifah, moderasi beragama ini menjadi hal yang penting karena Indonesia ini multikultur.

Kemudian keberagaman kehidupan internal antar umat beragama pun harus dijaga. Pada posisi inilah, menurut Khofifah apa yang dilakukan Menag ini gayung bersambut dengan kebutuhan daerah, nasional dan global.

"Basisnya dalam mewujudkan moderasi ini adalah keluarga yang maslahah. Jadi bagaimana sebetulnya introduksi nilai-nilai keagamaan, keberagaman, kebinekaan dibangun dimasing-masinh keluarga. Dengan begitu di rumah akan ditemui harmoni. Di rumah juga dia menemukan bahwa keniscayaan kebhinekaan yg Allah anugerahkan untuk Indonesia. Itu kan harus disemai," tegas Khofifah.

"Semoga para KUA ini dapat menjadi speaker di masing-masing daerah," lanjutnya.

Berdasarkan data Pemprov Jatim, tren perceraian di Jatim dari tahun 2020, 2021 hingga bulan oktober 2022 mengalami penurunan signifikan, kecuali cerai gugat di tahun 2021 sempat naik.

Di Tahun 2020, cerai gugat di Jatim totalnya ada sebanyak 62.388 kasus. Sedangkan jumlah kasus Cerai talak sebanyak 25.600 kasus.

Kemudian di Tahun 2021, jumlah cerai gugat ada sebanyak 63.006 kasus, sedangkan cerai talak ada 25.038 kasus.

Dan untuk tahun 2022 sampai dengan Bulan Oktober, jumlah cerai gugat di Jatim ada sebanyak 53.332 kasus, cerai talak ada sebanyak 20.675 kasus.

"Untuk Jawa timur, bukan cerai talak yang lebih tinggi, tapi justru cerai gugat lebih tinggi. Ini menurut saya, antara laki-laki dan perempuan yang sebenarnya harus dibangun adalah harmonious partnership," tegasnya.

Bukan dibangun berdasarkan siapa yang lebih berjaya atau yang memiliki take home pay lebih tinggi atau lebih dikenal dengan power relation (hubungan kuasa). Maka, Khofifaha menekankan kerja sama yang harmoni harus menjadi bagian yang paling penting.

"Tidak seyogyanya hubungan suami istri itu menjadi power relationship. Di Jatim ini, data gugatan cerai lebih tinggi dari talak. Ada 10 kabupaten kota dengan perceraian tertinggi di Jatim," tandasnya.

Ditegaskan Khofifah, upaya menurunkan angka perceraian terus dilakukan. Ia menyampaikan angka 2021 memang mengalami kenaikan signifikan, lantaran kondisi pandemi Covid-19. Yang memungkinkan terjadinya PHK dan kondisi ekonomi yang sulit.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved