Berita Trenggalek

Susul Bawahannya, Kejari Trenggalek Tetapkan Kades Ngulanwetan Sebagai Tersangka Korupsi DD dan ADD

Kejari Trenggalek menetapkan Kepala Desa Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan, sebagai tersangka korupsi Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa tahun 2019

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Sofyan Arif Candra Sakti
Kajari Kabupaten Trenggalek, Masnur. 

SURYA.CO.ID, TRENGGALEK - Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Trenggalek menetapkan Kepala Desa (Kades) Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Nurkholis sebagai tersangka korupsi dan penyalahgunaan wewenang pengelolaan Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2019.

Kajari Kabupaten Trenggalek, Masnur mengatakan, Nurkholis telah mencairkan DD dan ADD dengan tidak sesuai prosedur.

"Kami tidak melakukan penangkapan, karena kadesnya kooperatif. kami panggil (dia) datang sendiri. Namun untuk penahan, kami lakukan hari Jumat (2/12/2022)," kata Masnur, Rabu (7/12/2022).

Penetapan tersangka Nurkholis merupakan pengembangan dari kasus yang sama, setelah Kejari Kabupaten Trenggalek menetapkan tersangka kepada perangkat desa setempat yaitu Abu Kusmanto dan Sukadi sebagai pengelola sejumlah kegiatan baik fisik maupun non fisik di Desa Ngulanwetan.

"Setelah Abu Kusmanto dan Sukadi kami tetapkan sebagai tersangka, kami lakukan pengembangan hingga melakukan penetapan tersangka kepada Parmin selaku bendahara," lanjutnya.

Kejari Kabupaten Trenggalek, lalu melakukan pengembangan dengan melakukan pemeriksaan, dan ternyata Nurkholis ditengarai juga berperan aktif dalam korupsi tersebut.

Atas perbuatannya, Nurkholis dijerat dengan Pasal 2 dan Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor)

"Untuk pasal 2 ancaman hukuman minimal 4 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara. Sedangkan Pasal 3 ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara," jelas Masnur.

Sampai saat ini, Kejari sudah melakukan pemeriksaan setidaknya kepada 20 orang dalam kasus korupsi DD dan ADD di Trenggalek.

Dari pemeriksaan, diketahui Sukadi lebih dominan mengerjakan kegiatan-kegiatan yang didanai dari ADD.

Sedangkan Abu Kusmanto lebih dominan mengerjakan kegiatan-kegiatan yang didanai dari DD.

Modusnya, kedua tersangka menggelembungkan penggunaan dana DD dan ADD serta juga menjalankan kegiatan penggunaan dana tersebut dengan cara yang tak sesuai prosedur.

Pihak kejaksaan juga menemukan adanya selisih dalam pertanggungjawaban administrasi keuangan pengelolaan ADD dan DD, yakni sebesar Rp 260 juta.

Rinciannya, untuk ADD ada selisih sekitar Rp 80 juta antara realisasi pelaksanaan kegiatan melalui SPP dengan hasil audit. 

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved