Senin, 20 April 2026

Surabaya Darurat Gangster, Ini Cara Mengatasinya dan Respons Polisi

Surabaya darurat gangster. Berikut ini cara mengatasinya dan simak respons Polrestabes Surabaya, Pemkot Surabaya dan DPRD Surabaya.

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Tri Mulyono
KOLASE CANVA/ SURYA.CO.ID Tony Hermawan
Ilustrasi Fakta Surabaya darurat gangster. Ardan (tengah) dan dua orang temannya mengaku kapok bikin gaduh di jalanan Surabaya, saat diamankan di Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Kamis (1/12/2022). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA -  Surabaya darurat gangster. Berikut ini cara mengatasinya dan simak respons Polrestabes Surabaya, Pemkot Surabaya dan DPRD Surabaya.

Seperti diketahui, Wali Kota Eri Cahyadi mengerahkan aparat Pemkot Surabaya untuk ikut mengatasi Surabaya darurat gangster.

Begitu juga Kapolrestabes Surabaya Kombespol Akhmad Yusep Gunawan telah merazia dan menyekat di titik-titik tertentu untuk mengatasi Surabaya darurat gangster.

Operasi skala besar mengatasi Surabaya darurat gangster terus dilakukan.

"Kami mendukung penuh dan mengapresiasi langkah aparat bertindak sigap. Polrestabes menyekat, patroli, dan menangkapi anggota gangster yang meresahkan," kata Ketua Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD Surabaya Tjutjuk Supariono, Minggu (4/12/2022).

Baca juga: UPDATE Surabaya Darurat Gangster: Lokasi Ini Nyaris Jadi Arena Bentrok, Berikut Cara Lapor ke Polisi

Tjutjuk yakin Kapolrestabes Surabaya bersama jajarannya punya ide-ide dan langkah konkrit menumpas gangster.

"Langkah aparat harus didukung. Menurut kami harus memanggil para pentolan dan ketua gangster, bikin deklarasi untuk membubarkan gangsternya," tambah Tjutjuk.

Anggota Komisi D ini juga berharap kepada Pemkot Surabaya di dalam Musyawarah pembangunan kelurahan (Musbangkel), ada anggaran untuk kegiatan pemuda dan remaja.

Ini untuk mendukung langkah presisi kepolisian digabung langkah preventif Pemkot dan unsur TNI, menjadikan Surabaya bebas gangster.

"Memang dibutuhkan sinergitas antar elemen. Bukan hanya dari unsur kepolisian dan TNI, tetapi juga dari pemerintah, dan peran serta masyakarat sangat dibutuhkan. Utamanya pendidikan karakter di keluarga dengan mengawasi anak-anak remajanya. Sebab kebanyakan anggota gengster remaja," kata Tjutjuk.

Baca juga: FAKTA BARU Surabaya Darurat Gangster: Wali Kota Eri Cahyadi Turun Tangan dan Ini Daftar Titik Rawan

DPD Partai Golkar Kota Surabaya menilai peran ibu-ibu cukup penting dalam upaya meminimalisasi aksi gangster.

Para ibu bisa memastikan pendidikan karakter bagi anak optimal sejak di rumah.

"Kami minta tolong, agar ibu-ibu semua mengontrol pergaulan anaknya masing-masing, agar tidak ikut-ikutan pergaulan kelompok yang meresahkan masyarakat," kata Ketua DPD Partai Golkar Kota Surabaya Arif Fathoni, Minggu (4/12/2022).

Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Surabaya ini menilai, startegi ini akan efektif mendukung peran pemerintah mengatasi Surabaya darurat gangster.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Wahid Wahyudi mengimbau orang tua siswa di Surabaya agar memberikan pengawasan yang lebih ketat kepada anak-anaknya untuk tidak keluar rumah apabila tidak ada kepentingan yang jelas.

"Beberapa hari yang lalu sejak saya mendapatkan informasi tentang adanya rencana munculnya gengster ini, saya sudah perintahkan kepada para kacabdin (Kepala Cabang Dinas) agar melakukan koordinasi dengan para kepala SMA/SMK untuk menghimbau orang tua agar melakukan pengawasan lebih ketat kepada putra-putrinya. Jika tidak ada kepentingan jelas maka jangan keluar rumah," tegas Wahid dikonfirmasi, Minggu (4/12/2022).

Ditegaskan Wahid, hingga saat ini pihaknya beluk menerima laporan jika ada siswa SMA/SMK di Surabaya yang terlibat.

Meski begitu, imbauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi keterlibatan siswa dalam aksi gangster ini.

"Saya belum dapat laporan," tegasnya.

Sementara itu, menurut, Dosen Prodi Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Sugeng Harianto MSi munculnya tawuran antar gangster di Surabaya menjadi fenomena yang cukup mengejutkan.

Sebab, selama ini fenomena gangster hanya ditemukan di Jakarta dan sejumlah daerah di Jawa Barat.

Sugeng menilai, tawuran antar gangster yang terjadi di Surabaya ini merupakan salah satu permasalahan sosial.

"Dalam konteks ini adalah kenakalan remaja yang terjadi di masyarakat, khususnya masyarakat di kota besar seperti Surabaya," tegasnya.

Menurutnya, gangster merupakan sub kebudayaan menyimpang yang dikembangkan dan dilakukan oleh anak-anak usia muda. Mereka membentuk in group (kelompok dalam).

Sugeng menyebut, sub kebudayaan menyimpang yang dilakukan gangster boleh merupakan resistensi terhadap kondisi masyarakat yang senjang dan tidak adil.

"Anggota gangster ini boleh jadi berasal dari strata sosial bawah, yang sehari-hari hidup di tengah-tengah kemiskinan orang tua dan masyarakat sekelilingnya. Mereka sudah bosan menyaksikan masyarakatnya yang senjang, tidak adil, dan miskin," ungkapnya.

Ia mengatakan, munculnya gangster bisa dilacak akarnya pada struktur sosial masyarakat.

Misalnya saja seperti masyarakat Surabaya yang tidak bisa dipungkiri dengan adanya kesenjangan sosial dan ekonomi.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu sebanyak tujuh anggota gangster bernama Team GukGuk telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi.

Dari hasil penyelidikan Polres Pelabuhan Tanjung Perak, diketahui motif dari aksi pelaku adalah agar terlihat eksis.

Melihat itu, Sugeng tak menyangkal dengan pengakuan para pelaku tersebut jika aksinya hanya sekedar untuk eksistensi.

Hanya saja, eksistensi yang ingin mereka wujudkan adalah eksistensi dalam bentuk sub kebudayaan menyimpang.

"Mereka ingin menunjukkan ke masyarakat bahwa meskipun masyarakat didominasi oleh kekuatan ekonomi kapitalis, namun mereka ada di masyarakat. Untuk menunjukkan eksistensi mereka dengan menggunakan sub kebudayaan menyimpang, yang berbentuk kekerasan. Kekerasan yang mereka pertontonkan merupakan bentuk resistensi terhadap kondisi masyarakat," paparnya.

Lebih lanjut disampaikan Sugeng, tawuran antar gangster merupakan fenomena tawuran yang melibatkan in group dan out group.

Dikatakannya, in group dan out group merupakan dua kelompok yang memiliki batas-batas yang tegas, seperti 'kita dan mereka'.

"Dalam in group mempunyai solidaritas kelompok yang kuat dan mengembangkan stereotipe terhadap kelompok lain. Anggota in group menganggap kelompoknya yang paling baik dan sempurna, sementara kelompok lain jelek, bahkan diberikan stereotipe yang bersifat negatif," urainya.

Viral video Surabaya darurat gangster

Ulah gangster menganggu ketenteraman warga Surabaya tidak melulu melakukan aksi penyerangan orang-orang di sekitarnya.

Media sosial pun kini juga dipilih untuk tempat menyebarkan teror.

Ada yang mempertontokan kelompok gangster konvoi sambil pamer senjata di atas sepeda motor.

Bahkan, ada pula video yang memperlihatkan bentrok antargeng.

Gangster makin gencar menunjukkan eksistensi lewat medsos ini terpantau beberapa jam setelah mereka digagalkan melakukan aksi tawuran besar-besaran.

Satu contoh adalah video bentrok di kawasan Tanjungsari IV, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya tersebar sejak dini hari.

Dari video itu, banyak warga menjadi takut keluar rumah saat malam hari karena khawatir menjadi sasaran gangster.

Akan tetapi, ketika ditelusuri video tersebut ternyata unggahan lawas.

Bentrokan tersebut sudah terjadi akhir Desember tahun 2021 lalu.

Artinya, bukan video bentrok yang terjadi semalam.

Kompol M Fakih, Kasi Humas Polrestabes Surabaya mengatakan, video gagah-gagahan kelompok gangster memang menganggu ketenangan warga.

"Lebih dari 3 video yang kami identifikasi, video lama diunggah lagi. Sekarang kami masih mencari pengunggahnya," katanya, Minggu (4/12/2022).

Belum diketahui apa maksud dan tujuan gangster mengunggah banyak video gagah-gagahan di sosial media.

Ada dugaan video tersebut sengaja disebar untuk senjata menakuti-nakuti masyarakat.

"Kroscek lagi kalau ada video gagah-gagahan. Jangan gampang share atau dibuat status. Pastikan kebenarannya," pungkasnya.

Ramai warganet di media sosial menyampaikan kekhawatirannya akan kabar gangster di Surabaya berkeliaran dan membawa senjata tajam di malam hari.

Kekhawatiran tersebut banyak disampaikan di media sosial Twitter.

Salah satunya diunggah oleh akun Twitter ini.

"Alerta alerta!! inpo dari koncoku -rek kancane mari kenek kejadian tekan arek2 iku sepanjang arah lidah wetan ke sby barat. ati ati ya rekkss!! stay safe!! semoga ndang d basmi kabeh iku sampah masyarakat e sby," tulis akun tersebut.

Pihaknya sembari melampirkan tangkapan layar yang memberikan peringatan agar berhati-hati untuk tidak keluar malam terutama jam 12 ke atas dan menyebut gangster membawa clurit berkeliaran di Surabaya.

Pembahasan mengenai gangster di Surabaya ini juga ramai dibicarakan di media sosial TikTok.

Salah satunya diunggah oleh akun berikut. "Surabaya darurat gengster," tulisnya.

Hingga kini, unggahan tersebut tersebut telah dilihat lebih dari 200.000 kali.

Beragam komentar muncul terkait unggahan tersebut.

"Aku yang pulang ngopi malam-malam jadi takut," tulis salah satu akun.

Kompol M. Fakih meminta agar masyarakat Surabaya melaporkan ke kantor polisi terdekat apabila mendapati gangster yang membawa senjata tajam.

"Silakan melapor ke kantor polisi terdekat atau call 110," terangnya.

Panglima Gangster Ditangkap

Panglima Gengster Guk-Guk, Ardan (21), ditangkap bersama 6 orang temannya pada 29 November lalu, di sebuah kedai di Jalan Luntas, Kawasan Tambak sari.

Kelompok yang dipimpin pria bertubuh kurus dan tinggi sekitar 162 centimeter itu, sempat menyerang Fatur Rozi, remaja usia belasan asal Kenjeran dan Reno satpam perumahan di kawasan Mulyorejo dengan menggunakan senjata celurit.

Jumlah Gangster di Surabaya Ada Puluhan

Kepada polisi, Ardan mengungkapkan bahwa jumlah gangster di Kota Surabaya cukup banyak.

"Jumlahnya gak karu-karuan. Ada mungkin kalau puluhan," ungkap Ardan, Kamis (1/12/2022).
Kondisi Kota Surabaya Saat ini

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Anton Elfrino Trinsanto mengatakan, Surabaya saat ini aman dari teror geng-geng remaja yang kerap menimbulkan kekisruhan.

Menurutnya, biang-biang geng yang doyan kekerasan sudah satu-persatu ditangkap.

Sebelum Ardan dan teman-temannya diciduk, November lalu pihaknya juga telah menjebloskan ketua dari geng yang kerap berbuat onar.

"Untuk mengantisipasi (ada lagi), kami akan mengimbau dan patroli untuk memantau setiap pergerakan di Surabaya," ujarnya.

AKBP Anton berpesan kepada masyarakat agar ikut aktif mencegah gangster-gangster kembali eksis.
Ia meminta warga Surabaya yang memiliki anak usia remaja, untuk cermat mengawasi pola pergaulan zaman sekarang.

Kemudian, Anton juga merekomendasikan agar masyarakat tidak segan melapor ke polisi jika melihat aktivitas yang berpotensi berujung pada aksi kejahatan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved