Berita Probolinggo

Ada Perbedaan Data dari Survei SSGI, Tren Kasus Stunting di Kabupaten Probolinggo Menurun

Berkat kerja keras dari berbagai pihak, tren kasus stunting di Kabupaten Probolinggo terus mengalami penurunan. 

Penulis: Danendra Kusumawardana | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Danendra Kusumawardana
Tim Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Probolinggo tengah melaksanakan sosialisasi pencegahan stunting, Sabtu (3/12/2022).  

SURYA.CO.ID, PROBOLINGGO - Berkat kerja keras dari berbagai pihak, tren kasus stunting di Kabupaten Probolinggo terus mengalami penurunan. 

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Probolinggo, dr Anang Budi Yoelijanto mengatakan, ada perbedaan standar data, awalnya berdasarkan survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) ada di angka 54 persen. Akan tetapi pada survei berikutnya di angka 23 persen persen.

"Bila berdasarkan Bulan Timbang atau berdasarkan penimbangan langsung seluruh balita, angka kita di 16-14,6 persen pada tahun 2022," kata dr Anang, Sabtu (3/12/2022). 

Ia berharap, pada 2023 mendatang, survei SSGI di Kabupaten Probolinggo bisa turun di bawah 20 persen.

Sedang target di tahun 2024, sesuai dengan arahan dari Presiden RI, Joko Widodo, turun menjadi 14 persen berdasarkan survei SSGI.

"Untuk mewujudkan target tersebut, kami akan melakukan penguatan lini lapangan TPK (Tim Pendampingan Keluarga) dan membangun soliditas TPPS (Tim Percepatan Penurunan Stunting) di Kabupaten Probolinggo," ungkap dr Anang. 

Ia juga mengungkapkan, penurunan kasus stunting di Kabupaten Probolinggo bukanlah pekerjaan yang mudah.

Upaya dalam menekan angka stunting juga menjadi tugas bersama, karena persoalan kesehatan berkaitan dengan pola hidup sehat masyarakat.

"Pemerintah Kabupaten Probolinggo terus melakukan upaya untuk menurunkan angka stunting dengan melibatkan antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Probolinggo," ungkapnya. 

Dia menyebut, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memaksimalkan TPPS. 

TPPS dibentuk untuk bertugas melakukan pendampingan pada ibu hamil, dan jika ada anak yang terkena stunting maka akan dibantu penambahan gizinya.

"TPPS bertugas memberikan informasi kepada remaja agar menjaga kebersihan tentang reproduksi, dan kepada pasangan calon pengantin diberikan pemahaman agar menjaga kesehatan saat hamil. Kami juga berikan imunisasi secara lengkap kepada balita," pungkas dr Anang.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved