Berita Blitar

Kehilangan Gantungan Hidup Usai Pasar Kesamben Terbakar, Warga Blitar Akhirnya Menggantung di Dapur

Pukulan psikis pada Sukimin menjadi kondisi umum yang dirasakan para pedagang yang juga kehilangan tempat berjualan.

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Deddy Humana
surya/imam taufiq
Polisi dan perangkat desa mengevakuasi jasad Sukimin (61), warga Desa/Kecamatan Kesamben. Jumat (2/12/2022) dini hari, yang diduga depresi setelah lapaknya di Pasar Kesamben Blitar terbakar. 

SURYA.CO.ID, SURYA - Korban meninggal akibat kebakaran di Pasar Kesamben di Kabupaten Blitar, Minggu (27/11/2022) lalu, bukannya tidak ada. Setelah sebanyak 450 kios di pasar induk tersebut musnah akibat kebakaran hebat, salah seorang pedagang ditemukan tewas karena diduga depresi akibat beberapa bedak miliknya tidak bisa diselamat.

Korban meninggal itu adalah Sukimin (61), pemilk bedak yang asal Desa/Kecamatan Kesamben. Tetapi ia tidak meninggal akibat ikut terbakar di bedaknya di pasar, tetapi ditemukan sudah menggantung dengan leher terlilit tali di dapur rumahnya sendiri, Jumat (2/12/2022) dini hari.

Sukimin diduga depresi berat karena bedak yang menjadi tempatnya menggantungkan hidup atau mencari nafkah, terbakar bersama kebakaran Pasar Kesamben. Pukulan psikis pada Sukimin menjadi kondisi umum yang dirasakan para pedagang yang juga kehilangan tempat berjualan.

Selain kehilangan tempat satu-satunya untuk mencari makan selama ini, para pedagang juga memikirkan cara membayar angsuran bank, yang dipakai modal usahanya. Dan Sukimin pun diduga kuat putus asa akibat kebakaran Pasar Induk Kesamben yang ikut menghanguskan bedak dan isinya.

"Kalau menurut keluarganya memang seperti itu, yaitu korban depresi sejak bedaknya terbakar sehingga kehilangan harapan hidup," kata Iptu Suhartono, Kapolsek Kesamben.

Di Pasar Kesamben, korban diketahuiberjualan perkakas dapur, seperti panci, parut, dll. Bahkan, korban juga diketahui punya bedak lebih dari satu, karena anak-anaknya juga berjualan di pasar itu. Dan Malah informasinya, korban baru melunasi pinjamannya di bank, lalu mengambil pinjaman lagi untuk modal karena korban dikabarkan juga baru beli bedak lagi.

"Dugaannya memang seperti itu karena sejak tidak berjualan beberapa hari ini, ia terlihat murung dan diam," tutur seorang tetangganya.

Menurut Suhartono, tindakan nekat korbgan pertama kali diketahui Ari (37), menantunya sendiri. Diperkirakan Ari baru bangun tidur lalu hendak ke kamar mandi dengan melewati dapur rumahnya.

Namun sesampai di dapur, ia kaget karena melihat tubuh bapak mertuanya sudah menggantung pada blandar dapur setinggi 2,5 meter. Di lehernya terlilit tali yang diikatkan pada kayu blandar dapur itu.

Meski kakinya masih menyentuh lantai, korban diketahui sudah tiada. Ari langsung berteriak histeris sehingga mengagetkan para tetangganya. "Warga kaget saat mendengar teriakan itu. Tak ada tanda-tanda atau penyebab mencurigakan lain di tubuh korban, kecuali tanda bunuh diri dengan cara gantung diri," kata Suhartono.

Menurut para tetangganya, sebelumnya kondisi psikis korban sudah terlihat cukup berat. Namun, para tetangganya menyadari karena korban baru kehilangan tempat mata pencahariannya dan itu dianggap wajar, mengingat korban setiap hari terbiasa memegang atau mendapatkan penghasilan.

Begitu pasarnya terbakar dan bedak beserta isinya hangus tak tersisa, korban diduga depresi berat. "Ia belum lama membeli bedak lagi namun sekarang semua bedaknya ikut terbakar. Jadi ia mungkin memikirkannya terus," ujar tetangganya.

Pengakuan beberapa warga, mereka terakhir kali bertemu korban semalam sebelumnya saat ada kegiatan rutin Yasinan dan Tahlil, Kamis (1/11/2022) malam. Meski datang, saat itu korban terlihat kurang bersemangat dan lebih banyak diam.

Bahkan korban yang biasanya juga aktif shalat Subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya, pagi itu malah tidak terlihat. Dugaannya, korban melakukan aksi nekat itu ketika waktu shalat Subuh atau dua jam sebelum ditemukan pukul 005.00. WIB."Saat shalat Subuh berjamaan tadi pagi, ia tak terlihat," tuturnya. *****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved