Breaking News:

Berita Surabaya

63 Persen Lulusan SMA Tak Lanjutkan ke Perguruan Tinggi, Pengamat : Perlu Tambah Pendidikan Vokasi

Pendidikan di SMA lebih memprioritaskan pendidikan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
surya/ahmad zaimul haq
Ilustrasi siswa SMK melakukan praktek perakitan mobil. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pendidikan di SMA lebih memprioritaskan pendidikan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Berbeda dengan pendidikan vokasi di SMK yang menekankan pada lulusan siap kerja.

Sayangnya, saat ini lulusan SMA di Jatim yang melanjutkan ke perguruan tinggi baru 37 persen. Sementara 63 persen lainnya memilih tak melanjutkan.

Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Warsono mengungkapkan ketika lulusan SMA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, hal itu tentu perlu dikaji.

Bisa jadi, karena kuota perguruan tinggi terbatas, sehingga tidak bisa menampung semua lulusan SMA.

"Atau biaya kuliah di perguruan tinggi juga mahal, sehingga tidak semua lulusan SMA bisa memiliki biaya untuk kuliah," lanjutnya.

Selain itu, banyaknya lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi tak lepas dari jumlah SMA yang lebih banyak dibandingkan SMK.

Berdasarkan data Dapodik Kemendikdbudristek Jumlah sekolah SMA/SMK di Jatim mencapai 3.683.

Dengan rincian, 423 lembaga SMA negeri, dan 1.101 lembaga SMA swasta. Sedangkan 293 SMK negeri dan 1.861 SMK swasta.

"Itulah maka kebijakan pendidikan diarahkan untuk memperbanyak SMK dari pada SMA dengan harapan mereka bisa bekerja atau berwirausaha," jabarnya.

Namun, menurutnya untuk menambah SMK baru bukanlah hal yang mudah. Sebab, biaya untuk pendidikan SMK lebih mahal dari SMA.

Hal itu meliputi, sarana dan prasarana, penyediaan bengkel dan guru produktif.

"Semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar," ujar pria yang juga menjabat Ketua Dewan Pendidikan Jatim ini.

Sementara itu, disebutkan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Wahid Wahyudi mengjngkapkan upaya mengidealkan jumlah SMA, SMK dan lulusannya telah dilakukan dengan pembatasan pendirian SMA baru.

"Banyak lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi juga tidak memiliki kompetensi keahlian. Sehingga akan kesulitan dalam mencari peluang kerja," jelasnya.

Kondisi ini berbeda dengan lulusan SMK yang lebih siap.

Untuk itu, selain pembatasan pendirian SMA baru, program yang menjadi solusi adalah melalui SMA Double Track. Yakni, membekali siswa dengan kompetensi keahlian sesuai minat dan bakat.

Langkah itu dilakukan masih banyak lulusan SMA tak melanjutkan ke perguruan tinggi.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved