Berita Blitar

Pasar Kesamben Terbakar, Pedagang Cemas Ditagih Bank Thithil; Bupati Blitar Janji Carikan Solusi

Agar dapur tetap mengepul dalam waktu lama, mereka berharap pemda memperbaiki atau membangun pasar sementara untuk berjualan.

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Deddy Humana
Pasar Kesamben Terbakar, Pedagang Cemas Ditagih Bank Thithil; Bupati Blitar Janji Carikan Solusi - Bupati-Blitar-kunjungi-sisa-Pasar-Kesamben1.jpg
surya/imam taufiq
Bupati Blitar, Rini Syarifah mengecek kondisi Pasar Kesamben yang sudah hangus terbakar, Selasa (29/11/2022).
Pasar Kesamben Terbakar, Pedagang Cemas Ditagih Bank Thithil; Bupati Blitar Janji Carikan Solusi - Bupati-Blitar-kunjungi-sisa-Pasar-Kesamben-2.jpg
surya/imam taufiq
Kondisi Pasar Kesamben di Kabupaten Blitar yang menyisakan puing-puing setelah terbakar, Selasa (29/11/2022).

SURYA.CO.ID, BLITAR - Kebakaran yang menhancurkan pasar induk terbesar di Kabupaten Blitar, Pasar Kesamben, Minggu (27/11/2022), mendapat perhatian dari Bupati Blitar, Rini Syarifah. Bupati yang disapa Mak Rini itu meninjau langsung kondisi bekas pasar tersebut, Selasa (29/11/2022), dan mendengar keluhan dari banyak pedagang yang kehilangan kios dan bedak tempat berjualan di sana.

Kebakaran Pasar Kesamben telah memusnahkan sekitar 450 bedak, akibatnya para pedagang kehilangan harapan hidup setelah tempatnya berjualan rata dengan tanah. Tidak hanya itu, ratusan pedagang yang setiap hari berjualan di sana juga terancam kesulitan hidup yang luar biasa, yaitu dikejar-kejar utang.

Sebab tidak sedikit para pedagang yang modal usahanya berasal dari pinjaman. Ada yang meminjam ke bank resmi, tetapi juga banyak yang meminjam ke bank harian alias bank thithil, sebutan untuk lembaga peminjaman perorangan dengan bunga tinggi dan penagihannya dilakukan setiap hari atau mingguan.

"Memang begitu (banyak pedagang meminjam ke bank thithil), meski tidak semuanya. Kalau meminjam ke bank, angsurannya setiap bulan tetapi bagaimana dengan pinjaman ke bank tidak resmi, mereka harus bisa mengangsur setiap hari," ujar seorang pedagang, sebut saja Imam Taufiq, yang mengaku sudah 15 tahun berjualan pakaian di Pasar Kesamben itu, Selasa (29/11/2022).

Namun begitu bedak dan pakaian yang baru didatangkan atau dikulak musnah terbakar, Minggu (27/11/2022) malam lalu, Taufiq merasa bukan hanya harapannya yang langsung hilang. Namun juga seketika dibayangi utang-utangnya ke bank.

Karena untuk mengisi tokonya di dalam pasar itu, ia harus meminjam ke bank sampai Rp 50 juta dan baru beberapa bulan diangsur. Namun sekarang ia bingung cara mengangsurnya karena tempat satu-satunya untuk berjualan sudah menjadi onggokan puing.

"Saya belum tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan uang untuk membayar utang ke bank. Toko itu satu-satunya tempat mencari nafkah," keluh pria asal Desa Tuwuh, Kecamatan Kesamben ini.

Pemkab Blitar juga belum mendata berapa pedagang yang mengalami kerugian akibat terbakarnya pasar induk itu. Tetapi dari ratusan pedagang di Pasar Kesamben, diperkirakan banyak yang masih memiliki pinjaman ke bank resmi, serta utang ke lembaga-lembaga perorangan seperti bank thithil.

Ini terungkap dari pengakuan seorang pedagang ayam, Sari (30), yang meminjam ke bank thithil sebesar Rp 2 juta untuk modal berjualan. Dan untuk membayar utang, ia terikat perjanjian untuk menyicil Rp 200.000 per lima hari ke bank Kliwon itu.

Bank Kliwon mengutip nama salah satu hari pasaran Jawa. "Cicilan utang saya dibayar setiap pasaran atau lima hari. Itu bank Kliwonan karena mengangsurnya setiap hari Kliwon," tuturnya.

Karena itu para pedagang di sana sangat menanti solusi dari pemda atas terbakarnya Pasar Kesamben. Setelah kehilangan tempat berjualan, mereka masih dikejar-kejar utang yang tidak memberi mereka kesempatan bernafas sesaat kendati ada musibah seperti itu.

Agar dapur tetap mengepul dalam waktu lama, mereka berharap pemda memperbaiki atau membangun pasar sementara alias relokasi untuk berjualan.

"Kami minta bupati mencarikan solusi. Entah direlokasi sementara atau bagaimana, jangan sampai kami menunggu perbaikan pasar itu. Saat ini kami mau berjualan di luar pasar tetapi tidak bisa karena dipasangi garis polisi dan tidak ada lahan yang bisa ditempati," tutur pedagang lainnya.

Bupati Mak Rini merespons keluhan para pedagang itu. Ia berjanji akan memikirkan solusi terbaik agar para pedagang bisa kembali berjualan.

"Kami sedang mencarikan solusi, selain memikirkan kemungkinan membangun pasar itu kembali. Kemungkinan dari dana tak terduga, yang diperkirakan diianggarkan Rp 25 miliar," ujar Mak Rini. *****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved