Berita Blitar

Cari Suara Dar Der Dor Dikira Petasan, Kakek di Blitar Terperanjat Karena Ternyata Rumahnya Terbakar

mereka terperanjat karena bukan hanya kepulan asap yang membumbung tinggi melainkan api sudah berkobar tinggi.

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Deddy Humana
surya/imam taufiq
Petugas Polsek Selopuro mengecek ke lokasi kebakaran di Desa Mandesan, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, Minggu (20/11/2022) malam. 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Kebakaran rumah kakek Mulyadi (79), warga Desa Mandesan, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, Minggu (20/11/2022) malam lalu, menyisakan cerita unik. Karena ternyata korban sudah mendengar suara letusan berkali-kali tetapi tetap tidak sadar bahwa itu suara dari kebakaran yang terjadi di rumahnya sendiri.

Bahkan Mbah Mulyadi mengira itu suara petasan. Tidak tahunya, suara yang terdengar 'dar der dor' itu adalah suara material rumahnya yang dilalap api. Sebab atap rumahnya tersusun dari bambu utuh atau tidak dibelah sehingga kalau kena panas atau api, bisa pecah dengan suara keras yang mirip ledakan.

"Sekeluarga selamat atau tak ada korban jiwa karena ketahuan korban sendiri sebelum api menjalar ke bangunan induk," kata AKP Listyo Nugroho, Kapolsek Selopuro, Senin (21/11/2022).

Polisi masih mencari penyebab kebakaran itu namun terjadi di saat kondisi kampung sudah sepi. Meski kejadiannya baru pukul 20.00 WIB namun karena baru hujan, warga enggan keluar rumah. Begitu juga korban dan keluarganya, saat itu sedang bersantai di dalam rumah.

"Katanya api berasal dari tungku yang sisa kayunya buat bahan bakar itu tidak dimatikan. Sebab, sehabis hujan, istri korban memasak air buat mandi," paparnya.

Korban tinggal di rumah itu bersama istrinya, Maria (72), serta anaknya dan menantunya, yaitu Murdiono (42) dan Karomah (42). Saat kejadian itu, nenek Maria dan anaknya, Karomah, sudah tidur di kamarnya masing-masing.

Namun Mulyadi dan anaknya, Murdiono masih bersantai di ruang tengah. Saat itu mendadak mereka dikejutkan suara letupan berkali-kali dan semakin keras, sehingga bapak dan anak itu keluar rumah karena dikira itu suara petasan.

"Karena sudah malam, sehingga suaranya keras apalagi di desa, mereka mengira ada orang bermain petasan," ungkapnya.

Begitu dicek ke luar rumah dan tidak terlihat ada tembakan kembang api ke angkasa, bapak anak itu heran. Namun ketika ke arah belakang rumahnya, mereka terperanjat karena bukan hanya kepulan asap yang membumbung tinggi melainkan api sudah berkobar tinggi.

Mereka baru sadar bahwa suara letupan itu adalah material bambu atap rumahnya yang pecah akibat dilalap api. "Kalau tidak keluar ke depan rumahnya, mungkin tidak tahu. Untungnya, mereka keluar karena mengira ada orang bermain kembang api," ujarnya.

Sadar rumahnya terbakar, bapak dan anaknya itu bukan langsung menuju ke dapur rumahnya, untuk memadamkan api yang sudah merayap ke atas atau atap genting. Namun mereka lari ke dalam rumahnya, untuk membangunkan istrinya masing-masing, yang sudah terlelap tidur.

Begitu berhasil membawa istirnya keluar rumah, mereka langsung berteriak-teriak, kebakaran. "Sesaat itu juga warga berdatangan dan berusaha memadamkan api ramai-ramai. Usaha warga itu membuahkan hasil karena sekitar satu jam kemudian, api berhasil dipadamkan dengan cara bergotong-royong," paparnya.

Namun demikian, atap dapur Mulyadi terbakar karena berasal dari material bambu, sedangkan dindingnya aman karena sudah ditembok. Sementara bangunan induknya sempat terjilat api meski tak sampai ke ruangan tengah. *****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved