BIODATA Bambang Hendarso Danuri Eks Kapolri yang Datangi Mabes Polri dan Prihatin Kasus Ferdy Sambo
Berikut profil dan biodata Bambang Hendarso Danuri, salah satu eks Kapolri yang ikut datangi Mabes Polri, Kamis (27/10/2022).
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id - Inilah profil dan biodata Bambang Hendarso Danuri, salah satu eks Kapolri yang ikut datangi Mabes Polri, Kamis (27/10/2022).
Diketahui, tujuh eks Kapolri mendatangi Mabes Polri karena prihating dengan tiga kasus besar yang membuat citra kepolisian menurun.
Yakni kasus pembunuhan Brigadir J oleh Ferdy Sambo, kasus narkoba Irjen Teddy Minahasa dan kasus tragedi Kanjuruhan.
Satu dari tujuh eks Kapolri tersbeut adalah Bambang Hendarso Danuri, mantan kapolri yang menjabat periode 2008-2010.
Melansir dari Wikipedia, Bambang Hendarso Danuri lahir 10 Oktober 1952.
Ia adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) sejak 1 Oktober 2008 hingga 22 Oktober 2010.[2]
Bambang adalah lulusan Akademi Kepolisian tahun 1974 dan meraih gelar sarjana dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jakarta.
Ia beristrikan Nanny Hartiningsih dan merupakan adik dari mantan Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI (Purn.) Tri Tamtomo.
Karier:
- Wakasat Sabhara Polresta Bogor Polda Jawa Barat (1975)
- Kapolres Jayapura Polda Papua (1993)
- Wakapolwil Bogor Polda Jawa Barat (1994-1997)
- Kadit Serse Polda Nusa Tenggara Barat (1997–1999)
- Kadit Serse Polda Bali (1999–2000)
- Kadit Serse Polda Jawa Timur (2000)
- Kadit Serse Polda Metro Jaya
- Kapolda Kalimantan Selatan (2005)
- Kapolda Sumatra Utara (2005–2006)
- Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (2006–2008)
- Kapolri (2008–2010).
Eks Kapolri Datangi Mabes Polri
Diketahui, tujuh eks Kapolri merasa terpanggil dengan peristiwa besar yang menimpa Polri akhir-akhir ini hingga yang menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat.
Adapun menurut survei Litbang Kompas, citra positif Polri pada Oktober 2022 mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir.
Adapun sejak Juli 2022 hingga Oktober, institusi Polri menghadapi tiga peristiwa besar, mulai kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabata alias Brigadir J yang diotaki Ferdy Sambo.
Ferdy Sambo merupakan jenderal Polri bintang dua sebelum dipecat menjabat sebagai Kadiv Propam Polri.
Kasus pembunuhan pada 8 Juli 2022 ini menyeret puluhan perwira tinggi hingga bintara Polri di bawah perintah Ferdy Sambo.
Kasus itu juga mendapat perhatian Presiden Jokowi. Beberapa waktu lalu di hadapan para petinggi Polri, Jokowi mengungkapkan, kasus Ferdy Sambo menurunkan kepercayaan masyarakat.
Peristiwa kedua, tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 suporter sepak bola dipicu gas air mata kedaluwarsa yang ditembakkan anggota polisi.
Peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober 2022 ini menyebabkan sejumlah pejabat Polri di Jawa Timur dicopot oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Salah satu jenderal bintang dua Polri yang kena getahnya adalah Irjen Nico Afinta.
Jabatan Irjen Nico Afinta sebagai Kapolda Jatim dicopot Kapolri pada 10 Oktober 2022.
Sebagai penggantinya, Kapolir menunjuk Irjen Teddy Minahasa.
Namun, empat hari kemudian atai 14 Oktober 2022, Irjen Teddy Minahasa ditangkap diduga terlibat peredaran narkoba.
Peristiwa besar yang menimpa Polri dalam waktu berdekatan itu membuat eks Kapolri pun ingin memberikan masukan agar tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri meningkat lagi.
"Jadi kehadiran kami para purnawirawan Polri ini terpanggil tentu dengan situasi yang kita sama-sama prihatin adanya peristiwa," ujar Jenderal (Purn) Tan Sri Dai Bachtiar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (27/10/2022).
Selain Da'i Bachtiar, enam eks Kapolri lainnya adalah Jenderal (Purn) Bambang Hendarso Danuri, Jenderal (Purn) Roesmanhadi, dan Jenderal (Purn) Chaerudin Ismail.
Kemudian, Jenderal (Purn) Soetanto, Jenderal (Purn) Timur Pradopo, dan Jenderal (Purn) Badrodin Haiti.
Dai Bachtiar mengatakan, mereka merasa terpanggil untuk datang ke Mabes Polri.
Dai menjelaskan, pertemuan antara mantan Kapolri sebenarnya rutin dilaksanakan.
Hanya saja, pertemuan kali ini dilakukan demi memberi masukan terkait dengan peristiwa yang dialami Polri dalam beberapa waktu terakhir.
"Pada pertemuan kali ini memang ada sesuatu yang kita ingin berikan masukan, terutama kepada peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi," ujanya.
"Tentu kami memberikan dorongan semangat, spirit, bagi mereka untuk tabah dan juga berpikir rasional untuk menghadapi situasi ini," imbuhnya.
Apalagi, kata Bachtiar, tingkat kepercayaan masyarakat kepada Polri sedang turun.
Tren negatif Polri
Untuk diketahui, tingkat penerimaan publik terhadap institusi Polri mencatatkan tren negatif.
Hasil survei Litbang Kompas yang dirilis pada Kamis (27/10/2022) memperlihatkan, lembaga tersebut terus mendulang citra negatif dalam setahun terakhir.
Pada Oktober 2021, citra negatif Polri sedianya hanya 18,5 persen.
Lalu, naik 3,4 persen pada Januari 2022 menjadi 21,9 persen. Kemudian, meningkat lagi 2,8 persen pada Juni 2022 menjadi 24,7 persen.
Peningkatan paling tajam lagi-lagi terjadi pada periode Juni-Oktober 2022.
Terkini, citra negatif Polri menyentuh angka 43,1 persen.
Sejalan dengan itu, citra positif Polri dalam setahun terakhir terus merosot.
Pada survei Oktober 2021, lembaga pimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo itu mendulang citra positif 77,5 persen.
Lalu, sedikit turun pada Januari 2022 menjadi 74,8 persen.
Pada Juni 2022, citra Polri melorot cukup tajam hingga 9,1 persen dan berada di angka 65,7 persen.
Penurunan paling drastis terjadi pada periode Juni-Oktober 2022.
Dalam rentang waktu ini, citra positif institusi Bhayangkara anjlok 17,2 persen menjadi 48,5 persen.
Menurut catatan Litbang Kompas, citra positif Polri pada Oktober 2022 mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir.
>>>Ikuti Berita Lainnya di News Google SURYA.co.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/BIODATA-Bambang-Hendarso-Danuri-Eks-Kapolri-yang-Datangi-Mabes-Polri-dan-Prihatin-Kasus-Ferdy-Sambo.jpg)