Berita Bangkalan

Penjualan Batik Tanjung Bumi Bangkalan Tersendat, Perajin Rindukan Gelaran Pameran

Kondisi ini dirasakan Damayanti (44), seorang perajin sekaligus pemilik toko Batik Sumber Arafat di Jalan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/ahmad faisol
Damayanti menunjukkan paket sarimbit berisikan tiga helai Batik Gentongan Super motif Oget-oget senilai Rp 20 juta di toko Batik Sumber Arafat miliknya di Jalan Raya Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan 

SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Semakin sering dicuci, warna kain batik produksi Kecamatan Tanjung Bumi semakin cerah.

Namun belakangan ini, warnanya mulai tidak ‘secerah’ biasanya.
Itu setelah penjualan batik asal kecamatan paling ujung di sisi utara Kabupaten Bangkalan itu mulai lesu.

Kondisi ini dirasakan Damayanti (44), seorang perajin sekaligus pemilik toko Batik Sumber Arafat di Jalan Tanjung Bumi.

Bahkan, ibu dengan empat anak itu merindukan gelaran pameran yang hampir setiap hari digelar selama tahun 2017-2019.

“Untuk mengembalikan pasar, saya lakukan penjualan secara online. Namun belum mampu mendongkrak kembali penjualan. Harapan kepada pemerintah agar UMKM dikuatkan melalui pelatihan pameran, terutama di sektor pemasaran,” ungkapnya kepada SURYA.co.id, Senin (3/10/2022).

Baca juga: Kadinkes Kabupaten Malang : Data Korban Tewas Tragedi Arema vs Persebaya Sebanyak 131 Orang

Penjualan mulai dirasakan menurun oleh Damayanti sebelum terjadinya kenaikan harga BBM.

Biasanya, ia mampu menjual sebanyak 2.500 potong batik dalam sebulan.

Mulai dari harga batik termurah Rp 50 ribu bahkan Gentongan Super seharga Rp 20 juta per sarimbit berisikan tiga 3 potong batik

“Sekarang penjualan menurun, penjualan batik seharga Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta saja yang masih di atas 1.000 lembar per bulan. Untuk Batik Gentongan tidak mungkin, karena selain senilai Rp 20 juta, proses pembuatannya memakan waktu selama 1,5 tahun,” jelasnya.

Kondisinya semakin berat dirasakan Damayanti ketika kunjungan para reseller ke toko miliknya semakin berkurang.

Padahal, para resellernya itulah yang menjadi salah satu ujung tombak penjualan batik-batik produksi Tanjung Bumi.

“Sebelum BBM naik, penjualan batik belum stabil. Sepertinya faktor ekonomi, reseller juga macet. Biasanya para reseller mengambil batik hingga 3 kali dalam sebulan. Mereka menjual batik-batik produksi saya ke Samarinda, Pontianak, bahkan hingga ke Mekah,” pungkasnya.

BACA BERITA SURYA.CO.ID DI GOOGLE NEWS LAINNYA

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved