Berita Lamongan

Sudah Dihajar BBM Kini Kesulitan Pupuk Bersubsidi, Petani Lamongan Disarankan Pakai Pupuk Organik

Alasannya, pupuk organik juga bermanfaat untuk mengembalikan kondisi tanah yang sudah jenuh dengan pupuk kimia

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Deddy Humana
surya/hanif manshuri
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi menemui para petambak saat menggelar aksi di depan Kantor Pemkab Lamongan, Rabu (2/2/2022). 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Para pelaku sektor pertanian dan perikanan di Lamongan benar-benar melalui masa sulit. Belum hilang kekagetan akibat kenaikan harga BBM, sekarang petani di Lamongan menjerit lantaran kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi sampai September ini.

Para petani mengeluh karena sulitnya menemukan pupuk subsidi di pasaran. Kelangkaan itu telah dialami oleh para petani sejak dua bulan terakhir. Banyak para petani di Lamongan akhirnya harus mengeluarkan biaya lebih besar setelah terpaksa membeli pupuk non subsidi.

"Sulit mendapatkan pupuk subisidi, saya sudah cari di mana-mana dan kios-kios luar desa, tetapi tidak ada," gerutu Eko Sujarwo, salah satu petani di Desa Plosowahyu Kecamatan/Kabupaten Lamongan, Jumat (30/9/2022).

Sampai hari ini, kata Eko, belum ada pupuk yang datang. Petani pun menebus pupuk non subsidi yang harganya menggila. Mereka terpaksa harus mencari pupuk tambahan untuk mencukupi kebutuhan tanamannya yaitu pupuk non subsidi yang harganya tinggi.

"Pupuk bersubsidi biasanya satu paket Rp 260.000, tetapi kalau tidak ada dan saya butuh, harganya bisa Rp 800.000 per paket. Harus tetap dibeli, yaitu pupuk mutiara," ungkapnya.

Eko menambahkan, hingga kini pihaknya belum mendapatkan kepastian kapan distribusi pupuk bersubsidi sampai ke tangan petani. Para petani berharap pemerintah turun tangan memberikan bantuan kepada petani untuk mendapatkan pupuk dengan harga murah di musim tanam.

Selain petani, sebagian petani tambak juga sudah ada yang menebar ikan dan kalau ke depan dihadapkan situasi seperti sekarang, dikhawatirkan sektor tambak akan hancur. Mereka berharap pemerintah segera memberi solusi.

Apalagi di tengah langkanya pupuk bersubsidi, petani juga masih dipusingkan kelangkaan BBM jenis solar untuk memanai mesin diesel untuk pengairan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (KPP) Kabupaten Lamongan, Sukriyah membenarkan bahwa ketersediaan pupuk subsidi jenis ZA dan SP36 mengalami kekosongan.

"Pupuk ZA dan SP36 subisidi tidak ada. Sedangkan pupuk Urea subsidi masih ada. Lalu pupuk yang non subsidi untuk semua jenis masih cukup sesuai permintaan. Ada di kios-kios di Lamongan," kata Sukriyah melalui Kepala Dinas Kominfo Lamongan, Sugeng Widodo, Jumat (30/9/2022).

Menurut Sukriyah, jatah pupuk bersubsidi untuk bulan ini memang sulit. Ini karena jatah alokasi pupuk bersubsidi yang diajukan pada bulan-bulan sebelumnya, diarahkan untuk menutupi kebutuhan para petani tambak di Lamongan.

Karena itu Sukriyah mengimbau kepada para petani di Lamongan untuk lebih mengoptimalkan penggunaan pupuk organik lokal. Alasannya, pupuk organik juga bermanfaat untuk mengembalikan kondisi tanah yang sudah jenuh dengan pupuk kimia.

"Para petani agar lebih mengoptimalkan penggunaan pupuk organik lokal karena tanah-tanah kita sudah banyak yang jenuh dengan pupuk kimia. Dan pupuk tersebut juga sudah dikurangi pemerintah," tandasnya.

Terpisah, Sekretaris komisi B DPRD Lamongan, Anshori saat dihubungi menyatakan bahwa akibat kelangkaan pupuk bersubsidi itu, banyak petani yang mengalami kerugian. Sehingga juga berdampak pada menurunnya produksi di sektor pertanian. ****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved