Berita Pamekasan

Enggan Duduk Lesehan Bareng Bahas Masalah Tembakau, Bupati Pamekasan Ditinggal Pendemo

Tetapi kemudian para pendemo lebih banyak menyoroti persoalan tembakau, yang selama ini dinilai belum berpihak kepada petani

Penulis: Muchsin | Editor: Deddy Humana
surya/muchsin
Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam, berkacamata, didampingi beberapa kepala dinas, menemui massa pengunjuk rasa, Kamis (29/9/2022). 

SURYA.CO.ID, PAMEKASAN – Selama empat tahun menjadi Bupati Pamekasan, sangat jarang Baddut Tamam menemui warga yang berunjuk rasa. Dan ketika mau keluar saat terjadi unjuk rasa yang salah satunya membahas persoalan tembakau, Baddrut Tamam mengalami kejadian tidak enak yaitu ditinggal begitu saja oleh para pendemo yang baru ditemuinya, Kamis (29/9/2022).

Itu terjadi ketika sekitar 750 warga, yang tergabung dalam Gerakan Gotong Royong, Petani, NGO, DPD, LPM, ormas, pemuda, mahasiswa dan masyarakat, sudah kepanasan berunjuk rasa di depan kantor Pemkab Pamekasan. Mulanya aksi ini dilancarkan untuk mengritik empat tahun masa kepemimpinan Bupati Pamekasan.

Tetapi kemudian para pendemo lebih banyak menyoroti persoalan tembakau, yang selama ini dinilai belum berpihak kepada petani.

Pengunjuk rasa yang menumpang puluhan mobil pikap bak terbuka itu awalnya bergerak dari area Monumen Arek Lancor membawa sejumlah poster dan peralatan sound system, menuju kantor Pemkab Pamekasan.Mereka lantas berorasi, menyangkut rendahnya harga, masuknya tembakau luar Madura ke Pamekasan dan lemahnya Satpol PP dalam menjalankan fungsinya sebagai penegak perda tata niaga tembakau.

Koordinator lapangan, Hasib mengaku miris mendengar dua truk pengangkut tembakau luar Madura yang dicegat warga di Pamekasan. Apalagi kemudian salah satu truk dirampas dan truknya berikut muatannya dibakar massa.

“Seandainya Satpol PP benar-benar melaksanakan tugasnya dengan turun ke lapangan untuk menegakan perda tembakau, kami yakin pembakaran itu tidak akan terjadi. Dua orang yang ditangkap dengan tuduhan membakar, hanyalah korban. Semua ini karena kesalahan dan kelemahan Pemkab Pamekasan,” kata Hasib dengan lantang.

Yang patut disayangkan, kata Hasib, adalah saat pihaknya berdialog dengan Satpol PP, Disperindag dan Komisi II DPRD Pamekasan beberapa hari lalu. Mereka mempertanyakan apa langkah pemkab setelah kasus pembakaran truk tembakau dan mencegah masuknya tembakau luar Madura, ternyata yang akan dilakukan.

Sedang Mohammad Tosan, koordinator lainnya menyinggung pernyataan Satpol PP yang mengaku tidak maksimal menegakkan tata niaga tembakau, dengan alasan tidak ada anggaran. “Jawaban Satpol PP tidak realistis. Karena tugas Satpol PP menegakkan perda. Kenapa masih berdalih tidak ada anggaran,” ungkap Tosan.

Sementara Zaini Werwer, meminta agar Bupati Baddrut Tamam menemui mereka. Tetapi karena yang datang asisten dan beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Werwer menolak dan berniat untuk masuk menerobos barisan aparat.

Berselang tidak berapa lama, bupati akhirnya keluar menemui pendemo dan berdiri di barisan aparat. Massa pun meminta bupati duduk lesehan di tanah beralaskan poster milik mereka. “Ayo teman-teman semuanya duduk, karena Pak Bupati kami minta duduk juga,” ujar Werwer.

Ternyata Baddrut enggan duduk lesehan di aspal yang panas, sehingga ia tetap berdiri. Sambil tetap berdiri, Baddrut mengucapkan terima kasih atas kedatangan pendemo yang ingin menyampaikan aspirasinya.

Ia berdalih tidak bisa duduk, lantaran aturan protap. Namun yang terpenting, tegasnya, kalau ingin menyampaikan aspirasi maupun kritikan, massa dipersilakan.

“Evaluasinya sampaikan kepada saya. Jika masih belum puas, mau membully silakan. Saya dari sini, dari jarak dekat akan mendengarkan. Semua yang mau disampaikan, sampaikan. Jika saya kurang baik dalam bekerja, akan saya perbaiki. Bila kurang maksimal dalam bekerja, saya perbaiki lebih maksimal. Semua saya catat, baru kemudian saya evaluasi di pemerintahan. Terima kasih,” kata bupati.

Namun ketika belum beberapa menyampaikan aspirasinya mengenai persoalan tembakau, Herman Felani, salah seorang dari koordinator aksi menyalami bupati, disusul Werwer ikut berjabat tangan. Ternyata itu adalah jabat tangan untuk berpamitan pulang.

Serentak, para pendemo berdiri dan balik kanan meninggalkan Bupati Baddrut. “Karena Pak Bupati tidak mau menemui kami dengan cara duduk lesehan, kami memilih pulang. Mari teman-teman, semuanya bubar,” kata Werwer. ****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved