Berita Lamongan

Rajungan Lamongan Terancam Hilang, Nelayan Ganti Berburu Udang Putih Yang Harganya 3 Kali Lipat

Para nelayan Lamongan beramai-ramai banting setir ke udang, karena harga rajungan merosot tajam dan pasar tujuan ekspor sudah tertutup.

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Deddy Humana
surya/hanif manshuri
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi menunjukkan rajungan saat Festival Gandrung Rajungan di WBL, Selasa (13/9/2022) lalu. 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Upaya mendongkrak harga rajungan di pasaran lokal setelah komoditas laut itu mengalami kehancuran harga beberapa bulan terakhir, belum membuahkan hasil. Sebaliknya, komoditas rajungan bisa terancam hilang dari Lamongan karena kini para nelayan di pantai Utara (Pantura) beralih menangkap udang yang harganya jauh lebih menjanjikan.

Para nelayan Lamongan beramai-ramai banting setir ke udang, karena harga rajungan merosot tajam dan pasar tujuan ekspor sudah tertutup. Meski harga rajungan sedikit naik selama sebulan terakhir, namun belum bisa menutup biaya operasional. Harga rajungan kini hanya Rp 45.000 dari semula Rp 30.000 per KG.

"Kami pilih menangkap udang. Ini untuk sementara, tetapi lebih baik menangkap udang putih dari yang semula menangkap rajungan. Karena harga udang sekarang cukup tinggi," ujar salah satu nelayan di Desa/Kecamatan Paciran, Agus Sa'adi, Selasa (27/9/2022).

Rata-rata nelayan tradisional di Paciran menangkap udang sekitar 5 KG sampai 10 KG dengan harga menjanjikan. Karena harga udang putih saat ini mencapai Rp 120.000 per KG atau tiga kali lipat dibandingkan harga rajungan.

"Alhamdulillah ada gantinya udang putih. Harganya juga tinggi. Sementara kami tidak lagi menangkap rajungan. Rajungan kami tinggal, lha wong harganya hancur, " tegas Agus.

Sementara Ketua Rukun Nelayan Paciran, Muchlisin Amar membenarkan bahwa para nelayan beralih memilih menangkap udang. Selain harga udang putih cukup tinggi, juga hasil tangkapan lumayan banyak. Untuk menangkap udang putih, nelayan bisa memasang jaring gondrong.

"Alhamdulillah, para nelayan dapat obat (udang putih), setelah dihadapkan dengan hancurnya harga rajungan," ungkap Muchlisin kepada SURYA.

Ditambahkan, diversifikasi alat tangkap yang dimiliki oleh nelayan tradisional Pantura membuat mereka tetap bisa bertahan untuk melaut. Setiap hari para nelayan masih bisa memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk untuk biaya anak sekolah.

Para nelayan juga bisa menggunakan banyak pilihan alat tangkap, seperti bubu, jaring cumi, jaring bringsang, alat menangkap rebon, dan jaring gondrong. Jaring gondrong ini sebutan untuk alat tangkap khusus udang putih yang memudahkan nelayan untuk melaut dengan menyesuaikan musim.

Beralihnya para nelayan untuk menangkap udang ini dinilai menjadi pilihan tepat di tengah anjloknya harga rajungan dan kenaikan harga BBM. karenanya, pihaknya juga berharap, nelayan tradisional di Pantura Lamongan bisa terus bangkit. "Harga udang yang cukup tinggi menjadi magnet tersendiri bagi para nelayan untuk bekerja dan melaut," ungkapnya. ****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved