Berita Kediri

Diskusi Kebangsaan di Rumah Persada Sukarno Usulkan 30 September Jadi Hari Agung Pancasila

Selain itu juga terungkap bukti para Pahlawan Revolusi meninggal pada 1 Oktober 1965 bukan 30 September 1965.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Deddy Humana
surya.co.id/didik mashudi
Kushartono (kanan), Ketua Harian Rumah Persada Sukarno Kediri. 

SURYA.CO.ID, KEDIRI - Setelah memperingati hari NKRI pada 18 Agustus, kini kembali muncul usulan kepada pemerintah agar menetapkan tanggal 30 September sebagai Hari Agung Pancasila. Usulan itu tercetus saat doa bersama lintas agama demi kesukseskan KTT G-20 dan diskusi kebangsaan di Rumah Persada Sukarno, Minggu (25/9/2022).

Intinya, ada pernyataan sikap untuk memohon kepada Presiden Joko Widodo agar 30 September 2022 tidak lagi ada pengibaran bendera setengah tiang sebagai simbol duka nasional.

Rumah Persada Sukarno berada di Desa Pojo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri yang juga merupakan rumah masa kecil Bung Karno. Dan pernyataan sikap ini merupakan kesimpulan diskusi kebangsaan bertema, “Meninjau Ulang Peristiwa 30 September Demi Kebaikan Bangsa dan Negara RI”.

Suhardono, Ketua Umum Situs Persada Sukarno Kediri memohon kepada Presiden RI agar 30 September diperingati sebagai Hari Agung Pancasila bukan Hari Berkabung. Selanjutnya secara resmi surat permohonan kepada Presiden RI akan disampaikan.

"Sebab pada saat itulah Pancasila dikumandangkan oleh Presiden Soekarno di forum PBB dan menggema di seluruh dunia, tepatnya 30 September 1960,” ungkap Suhardono, Minggu (25/9/2022).

Lukito, panitia sekaligus moderator acara menjelaskan, sesuai rencana surat kepada Presiden akan dikirim pada 30 September 2022 bersamaan malam tasyakuran Pancasila di PBB. Sementara alasan 30 September perlu dijadikan hari besar yang menjadi kebanggaan nasional, karena sejarah mencacat pada 30 September 1960, Pancasila menggema di Sidang Umum PBB.

Selain itu juga terungkap bukti para Pahlawan Revolusi meninggal pada 1 Oktober 1965 bukan 30 September 1965. “Sudah sangat jelas pada batu nisan pahlawan Revolusi tertulis gugur 1-10-1965. Ini bukti autentik. Presiden Soekarno juga menyebut peristiwa pemberontakan PKI dengan istilah Gestok yang merupakan singkatan dari Gerakan Satu Oktober,” jelasnya.

Kushartono yang menjadi narasumber diskusi mengatakan, ada hal yang mendesak sehingga 30 September 1960 harus segera ditetapkan sebagai Hari Besar Pancasila dunia dan tidak lagi ada pengibaran bendera setengah tiang.

“Setiap malam Minggu kami berkumpul berdoa demi suksesnya KTT G-20 sekaligus berharap Indonesia bisa menjadi imam perdamaian dunia. Dan persoalan Rusia dan Ukraina segera ada jalan keluar terbaik," ungkapnya.

Kushartono berkeyakinan jika tanggal 30 September harus mengibarkan bendera penuh, tidak lagi setengah tiang seperti membuka aura Pancasila yang hikmahnya adalah mendorong suksesnya KTT G-20 di Bali.

"Maka kami tegaskan dengan menyadari, mengubah mindset, merubah tindakan bahwa 30 September bukan hari berkabung tetapi Hari Agung adalah penting sekali,” tandasnya. ****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved