Berita Ponorogo

Tak Hanya Landmark, Pemenang Sayembara Ingin Monumen Reog Ponorogo Jadi Benchmark

Dewan juri telah menentukan pemenang sayembara desain Monumen Reog yang akan dibangun di atas perbukitan kapur Kecamatan Sampung, Ponorogo.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Cak Sur
Istimewa
Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko menyerahkan hadiah pemenang sayembara desain Monumen Reog ke perwakilan Tim Singo Mandalika. 

SURYA.CO.ID, PONOROGO - Dewan juri telah menentukan pemenang sayembara desain Monumen Reog yang akan dibangun di atas perbukitan kapur Kecamatan Sampung, Ponorogo.

Tim yang menjadi pemenang adalah Tim Singo Mandalika dari Bali. Dengan judul desain 'Taman Ragam Selaras', Singo Mandalika berhasil menyisihkan 60 peserta lainnya.

Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko mengatakan, semua peserta yang mengikuti sayembara berhadiah total Rp 175 juta tersebut telah menunjukkan kemampuan desain terbaiknya.

"Memang sudah ada pemenang, tapi kalau saya boleh mengakui semuanya bagus, filosofinya matang, arsitek bagus, cara mengambil angle juga bagus," kata Sugiri, Sabtu (4/9/2022).

Satu-satunya keunggulan desain dari sang pemenang adalah desain yang ia rancang aplikatif.

Menurut orang nomor satu di Bumi Reog tersebut, desain milik Singo Mandalika sesuai dengan biaya pembangunan dan juga sesuai dengan lanskap atau bentang alam gunung kapur yang ada di Kecamatan Sampung.

"Semua jago, nanti semua desain akan kami bukukan menjadi pengisi museum, bahwa pengembangan desain ini dilakukan secara sayembara," ucap Sugiri.

Dalam sayembara tersebut tidak hanya memikirkan keindahan, tapi juga disiplin ilmu lainnya, mulai dari arsitek, struktur, sejarah, seni dan perhitungan lain yang kompleks.

"Langkahnya setelah ini adalah lelang, lalu kami mulai pembangunannya," terang Sugiri.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Juri, Hari Sunarko mengatakan ada beberapa tahapan dalam penjurian hingga bisa menentukan satu pemenang.

Dewan juri harus menyaring, mana desain yang layak masuk sayembara lalu memilah desain-desain yang memenuhi syarat dan kaidah struktur, kaidah budaya, kaidah arsitektur, bentang alam dan lainnya.

"Kami juga lihat mana yang pemikirannya tajam berpikir sejarah reog dan yang paling penting adalah saat dibangun nanti, orang tidak perlu bertanya itu monumen apa. Artinya orang yang melihat langsung tahu bahwa itu Monumen Reog," kata Hari.

Sementara itu, perwakilan Singo Mandalika, Bramana Ajas mengatakan desain yang timnya rancang sejalan dengan visi dari penyelenggara.

Singo Mandalika berharap Monumen Reog bukan hanya menjadi Landmark atau penanda tapi juga Benchmark yang bisa menjadi sebuah wadah berkebudayaan di masa depan.

"Kami mendesain sebuah monumen dan kawasan di sekitarnya yang tidak hanya sebagai tempat untuk berkebudayaan, tetapi juga memberikan nilai plus kawasan tersebut sebagai pemulihan lahan, mengembalikan fungsi kawasan sebagai tempat konservasi air," kata Ajas.

Dalam mendesain Monumen Reog tersebut, tim yang terdiri dari tiga orang arsitek dan dua orang ahli struktur itu telah melakukan eksplorasi ke Kecamatan Sampung beberapa kali.

"Kami ingin menonjolkan reog bagaimana ketika dia bergerak. Jadi tidak berkesan statis atau monoton tapi dinamis. Makanya desain kami tetap ada lengkungnya, tapi secara struktur tetap kuat," pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved