Berita Surabaya

Tips Terhindar Penipuan Perumahan Fiktif Developer Nakal, Jangan Sungkan Tanya Soal Ini ke Penjual

Tak sedikit masyarakat awam yang disodori sebuah penawaran rumah oleh oknum pengembang atau developer nakal, hingga akhirnya tertipu.

Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: irwan sy
surabaya.tribunnews.com/sutono
Ilustrasi sengketa lahan di sebuah perumahan. 

Berita Surabaya

SURYA.co.id | SURABAYA - Kepala Kantor Wilayah 3 Bank BTN, Teguh Wahyudi, menilai tak sedikit masyarakat awam yang disodori sebuah penawaran rumah oleh oknum pengembang atau developer nakal, hingga akhirnya tertipu.

Alih-alih mendapatkan rumah impian, masyarakat justru dirugikan oleh developer nakal tersebut dan jadi korban penipuan perumahan fiktif.

"Ada yang kondisinya masih lahan kosong. Bahkan ada juga sifatnya agunan. Yang membuat kecewa, begitu pembeli sudah keluar uang banyak tapi ternyata perumahan fiktif," ujar Teguh, Kamis (22/9/2022).

Maka dari itu, Teguh membagikan tips kepada calon pembeli rumah untuk tak sungkan menanyakan beberapa hal, kepada developer.

"Pada saat datang ke kantor pemasaran sebuah developer, tanya dulu apakah rumah sudah ada izin lokasi apa belum. Kemudian pastikan apakah sertifikatnya sudah ada atau tidak. Kalau ada harus diperjelas lagi, masih induk atau sudah pecah," sambungnya.

Menurutnya, pertanyaan tersebut harus diajukan kepada marketing, supaya ada kepastian serta tidak ada keraguan ketika membeli sebuah rumah.

"Setelah itu tanya sertifikatnya di mana, apakah diagunkan di bank atau disimpan oleh pihak developer, termasuk lahan yang dibangun di atas rumah itu statusnya bermasalah atau telah bebas, dengan membawa sebuah salinan sertifikat. Salinan sertifikat bisa diminta ke pihak developer atau penjual rumah. Setelah itu, bawa dan dicek ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat," ungkapnya.

Dirinya berpesan kepada masyarakat, khususnya calon pembeli rumah agar lebih teliti dan cermat sebelum membeli rumah.

"Biar tidak kecewa. Kasihan kalau sudah terlanjur mengeluarkan uang banyak, tapi ternyata masih ada kekurangan atau ketidakjelasan status rumah yang sudah dibeli," pungkas Teguh.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved