Berita Bangkalan
Sabar Beri Pendekatan Sosial-Religius, Kapolres Bangkalan Pelahan Ubah Perilaku Para Tahanan
Mereka tersandung beragam kasus tindak pidana seperti penyalahgunaan narkoba, kasus pencurian, pembunuhan, hingga perjudian
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Orang baik punya masa lalu dan orang jahat punya masa depan. Kalimat tersebut spontan terucap dari Kapolres Bangkalan, AKBP Wiwit Ari Wibisono begitu mengetahui 6 tahanan tengah khusyuk memegang tasbih, Selasa (20/9/2022). Wiwit kembali menyempatkan diri mendatangi ruang tahanan usai melaksanakan Shalat Dzuhur di masjid polres.
Kunjungan kali ketiga Wiwit itu sengaja dilakukan tanpa sepengetahuan sekitar 66 penghuni tahanan Polres Bangkalan. Dari balik kaca di ruang penjagaan, Wiwit awalnya mengamati gerak-gerak para tahanan sebelumnya ia menyapa mereka.
“Mana tuh tadi yang saya lihat pegang alat dzikir, tunjukin ke saya. Ke sini yang pegang tasbih, hitung berapa orang yang pegang tasbih,” pinta Wiwit.
Mendengar itu, para penghuni tahanan yang mulai akrab dengan suara Wiwit pun menyuruh 6 rekannya maju mendekati mantan Kapolres Pacitan itu. Wiwit langsung merogoh sakunya dan membagikan beberapa uang pecahan Rp 50.000.
“Buat keluarga ya, buat anak-isteri. Jangan berpikir hal-hal lain lagi. Di sini adalah kesempatan untuk perbaiki diri. Jangan lagi menyakiti orang lain, kalau kita dicubit sakit, jangan kau cubit orang lain,” ujar Wiwit.
Data yang dihimpun SURYA dari fungsi Satuan Perawatan Tahanan dan Barang Bukti Polres Bangkalan, dari jumlah 66 penghuni sel tahanan itu, masing-masing 60 pria dan 6 perempuan. Mereka tersandung beragam kasus tindak pidana seperti penyalahgunaan narkoba, kasus pencurian, pembunuhan, hingga perjudian.
“Nah sekarang, lebih baik menjadi mantan penjahat atau mantan napi tetapi nanti menjadi orang baik. Hidup di dunia ini sementara saja, sebentar di dunia ini. Makanya sekarang mumpung di dalam sel shalatlah, puasa, tahajud bangun pukul 02.30 WIB nanti tidur lagi, ngaji dan sebagainya. Fokus saja sama ibadah,” Wiwit memberi nasihat.
Kepada SURYA, Wiwit menjelaskan bahwa pihaknya memperlakukan para tahanan tidak sebagai orang yang dimusuhi. Melainkan sebagai kawan yang harus dibina dengan harapan mereka nanti keluar bisa berubah dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Tadi bercanda sama tahanan, memberikan tausiyah kepada mereka sebagai kawan. Kami berharap mereka senantiasa memperbaiki diri, tidak hanya menyesali apa yang terjadi namun berupaya untuk memperbaiki,” jelas Wiwit.
Ia menambahkan, pola-pola pembinaan kepada para tahanan melalui konsep pendekatan sosial-religius memang diperlukan. Perasaan menyesal bagi para penghuni tahanan pasti ada, tetapi pihaknya berkewajiban mengarahkan agar tidak lebih terpuruk.
“Mendorong dan memberikan mereka semangat untuk bangkit menatap kehidupan selanjutnya, terutama setelah keluar dari tahanan. Selama di dalam tahanan, mereka bisa menumpuk pahala dan ketika sudah berada di luar bisa bisa berubah,” pungkasnya. ****
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Pembinaan-tahanan-di-Polres-Bangkalan.jpg)