Berita Surabaya

Bentuk Kepedulian Guru dan Orangtua, Rotary Club Surabaya Gelar Workshop Disleksia

Sejumlah orangtua dan guru mengikuti Workshop tentang Disleksia, yang digelar oleh beberapa Rotary Club di Surabaya, Gedung PMI Surabaya

suryamalang/febriantoamadani
Para Peserta Workshop Disleksia dalam sesi foto bersama. Acara tersebut digelar oleh beberapa Rotary Club di Surabaya, Gedung PMI Surabaya, Sabtu (17/9/2022). 

SURYA.CO.ID|SURABAYA - Sejumlah orangtua dan guru mengikuti Workshop tentang Disleksia, yang digelar oleh beberapa Rotary Club di Surabaya, Gedung PMI Surabaya, Sabtu (17/9/2022).

Acara tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap Disleksia, dengan berkolaborasi bersama Bali Dyslexia Foundation, serta para orang tua dan guru yang pernah merasa kesulitan mengajar anak atau muridnya untuk bisa membaca.

Founder and Ceo Of Bali Dyslexia Foundation, Dr Andrea Carroll, mengatakan, Disleksia adalah suatu gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan menulis, membaca, dan mengeja.

"Gejala yang biasa ditemukan pada anak disleksia adalah kecepatan rendah dalam menulis. Lalu kecepatan proses pemahaman menjadi cukup kecil tentang apa yang mereka baca, dapat mengeluarkan hasil yang sangat sederhana," ujar Dr Andrea.

Tak cukup sampai disitu, menurut dia, pada anak yang menderita gejala tersebut, gaya penulisannya sering membalikkan huruf. sehingga perhatian mereka pada tugas bisa sangat lambat, lantaran kecepatan pemrosesan instruksi dan data menjadi kelebihan beban.  

"Bisa membuat pelupa dan kelebihan instruksi. Bahkan bisa tidak ada di pikiran. Gangguan itu menyerang sumber bahasa atau perhatian di sisi kiri otak anak," terangnya.

"Untuk mengidentifikasi seorang anak dengan Disleksia, kami harus melakukan penyelidikan penuh dari semua gejala pikiran berpusat di sekitar perhatian, bahasa penglihatan dan berdasarkan koordinasi motorik, yang paling didasarkan pada keterampilan kognitif dan tentu saja penguasaan bahasa," jelasnya.

Disleksia, lanjut dia, dalam beberapa tahun yang lalu dianggap awam oleh masyarakat pada umumnya, karena penelitian yang terkait masih belum banyak.

"Bagi orang tua yang memiliki anak dengan kecepatan membaca rendah dan mereka benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka harus menyelidiki lebih lanjut tentang disleksia melalui informasi secara  online," ucapnya.

"Serta harus berkonsultasi dengan para ahli yang sebenarnya. Sebagai guru atau orang tua selain mencari banyak informasi online yang dapat membantu mereka untuk memahami, juga dapat mendukung anak-anak mereka di rumah," tutupnya.

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved