Berita Lamongan

Sukses Budidaya Melon Sehat dari Jepang, Desa di Lamongan Raup Pendapatan Besar Tanpa Pupuk Kimia

Kemudian pemupukannya pun ramah lingkungan karena sama sekali tidak memakai pupuk kimia, melainkan pupuk alam atau organik.

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Deddy Humana
surya/hanif manshuri
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi didampingi Kadis Pertanian, Sukriyah dan Kades Kembangan, Mashud memetik melon Fujisawa yang ditanam dengan sistem green house, Rabu (14/9/2022). 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Pengembangan komoditas pertanian yang memakai pupuk organik bisa menjadi solusi ketika petani di daerah makin tertindas pupuk kimia yang mahal. Hal ini sudah dirintis para petani milenial di Desa Kembangan, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan yang berhasil membudidayakan buah melon Fujisawa, varian melon asal Jepang yang sepenuhnya memakai pupuk organik.

Melon Fujisawa memang buah organik yang memilik tekstur daging empuk dan manis berwarna oranye, sedangkan kulitnya tebal dan berjaring rapat berwarna hijau. Beberapa petani di Desa Kembangan ini pun menekuni penanaman melon Fujisawa ini meski kawasan Sekaran dikenal sebagai wilayah kering basah.

Mereka membudidayakan dengan sistem yang disesuaikan untuk bibit melon Jepang ini, yaitu di dalam green house di atas lahan hanya seluas 336 meter persegi. Green house ini merupakan sistem lahan tertutup yang dibatasi penutup plastik, jaring atau kaca untuk menjaga stabilitas suhu ruangan, meski sinar matahari masih bisa masuk.

Meski penanaman sistem green house itu tidak memakan lahan tidak seberapa luas, namun hasilnya cukup menjanjikan. Para petani melon Fujisawa di Desa Kembangakn bisa meraup Rp 25 juta untuk sekali panen. Sukses memanen melon Fujisawa ini pun membuat Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi angkat topi saat datang untuk melon di barat Balai Desa Kembangan, Rabu (14/9/2022).

Yuhronur mengaku bangga dengan yang dilakukan oleh petani milenial di Desa Kembangan ini. Tidak sekadar ketekunan dan keberhasilan membudidayakan komoditas pertanian berbeda, tetapi juga karena berani membuat pilihan baru di tengah mahalnya harga pupuk dari pemerintah saat ini.

"Ada keunggulan lokal yang bisa dikenalkan lewat penanaman melon ini. Ada kebanggan lokal yang bisa dijual keluar. Dan petani Lamongan bisa memperkenalkan ada buah yang beda di desanya, " ungkap Yuhronur.

Ia juga mengapresiasi model transaksi penjualan melon secara langsung di lahan penananam ketika sudah layak petik. Karena cara itu bisa menggerakkan ekonomi masyarakat secara cepat. "Inilah perputaran ekonomi yang nantinya bisa menggerakkan indeks pembangunan manusia," puji Kaji Yes, sapaannya.

Untuk itu Yuhronur meminta Dinas Pertanian terus mendorong agar sektor hortikultura di Lamongan semakin maju. Ia juga mendorong setiap kecamatan punya keunggulan yang bisa menggerakkan roda ekonomi masyarakat desa. "Supaya petani yang ada di setiap desa maju karena bisa menggerakkan ekonomi dan UMKM," ujar Yuhronur.

Selain itu, Yuhronur menilai bahwa inisiatif berani petani Desa Kembangan itu bisa ditularkan ke desa-desa lain. "Kalau semakin banyak yang ditanam dan dipanen, maka di Lamongan akan dikenal ada desa melon Fujisawa," tandasnya.

Sementara Kades Kembangan, Mashuda memaparkan bahwa tanam melon Fujisawa ini baru kali pertama dipraktikkan namun hasilnya sudah luar biasa. "Luas lahan ini hanya 336 meter persegi dengan jumlah 750 batang melon," kata Mashuda.

Meski begitu, kharakteristik melon Fujisawa memang tahan hama dan perlu ditanam dengan sistem green house. Kemudian pemupukannya pun ramah lingkungan karena sama sekali tidak memakai pupuk kimia, melainkan pupuk alam atau organik.

Pupuk organik tersebut juga bisa mudah ditemui dan dibuat masyarakat desa yang kebanyakan petani. Karena dibuat dari limbah kotoran ternak sapi yang difermenasi, ekstrak kedelai, daun-daunan yang menjadi kompos atau sisa tanaman hasil panen.

"Dengan berat buah rata-rata 1,9 KG hingga 2 KG per butir, maka harganya pun terjaga. Melon ini pastinya sehat, dan harganya stabil Rp 25.000 per KG," ungkap Mashuda.

Mashuda membenarkan bahwa sistem penjualan panen melon Fujisawa bisa dilakukan langsung di lokasi tanam dan itu sudah terjadi sampai panen kedua berakhir. "Kita ingin menjadi desa mandiri, sementara di Desa Kembangan juga banyak lahan yang kosong," tambahnya.

Besarnya potensi melon Fujisawa secara ekonomis itu juga mendorong semangat petani lain di desa itu. Bahkan banyak warga Desa Kembangan yang awalnya suka merantau, akhirnya memilih bertahan untuk menanam melon sistem green house ini. *****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved