Surya Militer
KEHEBATAN Rudal Chiron yang Dipamerkan Kopasgat TNI AU dalam Latihan Hardha Marutha I 2022
Berikut kehebatan Rudal Chiron yang Dipamerkan Pasukan Kopasgat TNI AU dalam Latihan Hardha Marutha I 2022.
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Iksan Fauzi
SURYA.co.id - Pasukan Kopasgat TNI AU memamerkan sejumlah alutsista canggih dalam Latihan Hardha Marutha I 2022.
Salah satunya adalah Rudal Chiron.
Dilansir Surya Militer dari instagram @puspentni, unsur pertahanan udara titik Kopasgat melaksanakan penggelaran alutsita pertahanan udara di pangkalan udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.
Pada latihan ini, tersebut Unsur Hanud I yang digelar adalah 1 Baterai penangkis serangan udara unit terdiri dari 1 satuan unit Meriam Oerlikon Skyshield, 1 unit Rudal Chiron serta 1 unit radar taktis Smarthunter.
Kekuatan Hanud Titik yang tergelar melaksanakan kegiatan dideteksi, identifikasi dan destruksi terhadap ancaman yang setiap saat datang melalui wahana udara.
Pada latihan tersebut Radar taktis telah mendeteksi wahana yang terbang dengan cepat mendekat ke arah pangkalan udara Halim Perdana Kusuma, pergerakan wahana udara ini segera di identifikasi dan diikuti secara ketat.
Setelah diyakinkan wahana tersebut adalah wahana udara musuh, maka tahap selanjutnya dilaksanakan locking terhadap sasaran sampai memasuki jarak tembak efektif meriam Skyshield dan rudal untuk segera dihancurkan.
Melansir dari Wikipedia, KP-SAM Shin-Gung atau Shin-Kung adalah rudal permukaan-ke-udara bahu Korea Selatan yang diproduksi oleh LIG Nex1
. Rudal ini dipasarkan secara internasional sebagai Chiron.
Shin-Gung diciptakan untuk melindungi pasukan ROK di area depan, yang dimulai pada tahun 1995 di bawah arahan LIG Nex1.
Pada akhir 2003, pengiriman Igla SAM dari Rusia sebagai pembayaran utang Rusia ke Korea tampaknya telah memecahkan masalah untuk sementara waktu.
KP-SAM mulai berproduksi pada tahun 2004 dengan uji coba yang diperpanjang pada awal tahun 2005.
Pada akhir 2005, KP-SAM Shingung memasuki layanan dengan Angkatan Darat Korea Selatan, setelah dikembangkan selama hampir 8 tahun.
Angkatan Darat Korea Selatan telah memesan sekitar 2000 unit untuk dikirim dalam waktu dekat.
Pada tahun 2011, Chiron diusulkan ke militer India untuk ekspor potensial. Saat itu sedang dipasarkan pada tahun 2012 untuk modernisasi India dari sistem VSHORAD mereka, bersaing dengan RBS 70, Starstreak, Mistral-2 dan SA-24.
Pada November 2012, Peru mengumumkan bahwa mereka akan membeli Chiron bersama 108 rudal dan tiga radar TPS-830KE di bawah kontrak pertahanan senilai $AS 43 juta.
Namun, kesepakatan itu dibatalkan pada Mei 2013 karena masalah pembayaran kontrak.
Pada tahun 2014, Indonesia membeli Chiron untuk diintegrasikan dengan sistem anti-pesawat Skyshield 35mm.
Sebelumnya ditampilkan pada pameran Indo Defence 2014.
Tampilan sistem rudal secara eksternal menyerupai sistem Mistral Prancis, seluruh sistem rudal termasuk seeker pencari, bagian kontrol, hulu ledak dan motor dikembangkan dan diproduksi di Korea Selatan.
Rudal ini memiliki sistem IFF terintegrasi, kemampuan malam dan cuaca buruk, pencari inframerah dua warna (IR/UV) untuk membantu meniadakan penanggulangan inframerah (IRCM) dan hulu ledak proximity-fuse.
Selama tes pengembangan, rudal itu mencetak rasio hit 90 persen.
Pamerkan Rudal QW-3 pada Angkatan Udara Pakistan
Sebelumnya, pasukan baret jingga Kopasgat TNI AU baru-baru ini memamerkan Rudal QW-3 di hadapan delegasi Angkatan Udara Pakistan.
Dilansir Surya Militer dari instagram @kopasgat_tniau, Denhanud 471 Kopasgat menggelar Alutsista di Koopsudnas dalam rangka kunjungan Air Staff Talks (AST) Pakistan Air Force bertempat di Makoopsudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (26/8/2022).
Asops Kaskoopsudnas Marsma TNI H. Haris Haryanto, S.I.P. mewakili Panglima Koopsudnas Marsdya TNI Andyawan Martono P. S.I.P. menerima kunjungan delegasi Pakistan Air Force (PAF) dalam rangka Air Staff Talks (AST) dengan TNI AU.
Delegasi PAF yang dipimpin oleh Director Mutual Cooperation Group Captain Noman Khan Jadoon melaksanakan peninjauan Alutsista yang digelar saat itu yaitu Smart Hunter TH-S711 dan Rudal QW-3 yang dimiliki oleh Denhanud 471 Kopasgat.
Melansir dari Wikipedia, QianWei-3 (QW-3) adalah sebuah rudal anti pesawat jinjing yang diluncurkan dari bahu. Rudal permukaan-ke-udara ini pertama kali diperkanalkan di Zhuhai pada tahun 2002.
Tidak seperti rudal jinjing anti pesawat lainnya, rudal permukaan-ke-udara QW-3 tidak dilengkapi dengan penuntun infra merah tetapi menggunakan penuntun laser semi aktif yang unik (unique nose-mounted semi-active laser guidance seeker).
Penuntun laser ini menyebabkan rudal permukaan-ke-udara ini tahan terhadap flare panas yang diluncurkan pesawat khusus untuk menipu rudal pencari panas maupun sumber panas lain di darat.
Walaupun reaksi dari penuntun laser tidak terlalu gesit (15 derajat/detik) dibandingkan penuntun infra merah, tetapi kelemahan ini bisa ditutupi dengan kenyataan bahwa pesawat bergerak lebih lamban pada ketinggian rendah.
Badan rudal permukaan-ke-udara QW-3 menggunakan desain dasar dari rudal QW-1, tetapi dipasang roket padat tahap kedua sebagai pendorong pada bagian belakang rudal.
Ini membuat rudal QW-3 bisa terbang lebih jauh (8 km) pada kecepatan tinggi (750 m/d) dan membawa hulu ledak lebih berat.
Rudal ini dilengkapi dengan hulu ledak expanding-rod high-explosive fragmentation yang memiliki zona bunuh radius 3 m.
Tercatat Paskhas dari TNI-AU mengoperasikan rudal jenis ini, termasuk ketika dikirimkan sebagai Pasukan Penjaga Perdamaian (Kontingen Garuda) ke Lebanon pada tahun 2006.
Spesifikasi:
- Panjang rudal: 2,100 m
- Diameter rudal: N/A
- Berat rudal: 16 kg
- Propulsi: 2 tahap roket padat
- Ketinggian operasi: 0,004 ~ 5 km
- Jarak operasi: 0,8 ~ 8 km
- Kec.Maks: 750 m/d
- Penuntun: laser Semi-aktif
- Hulu ledak: expanding-rod high-explosive fragmentation.
>>>Ikuti Berita Lainnya di News Google SURYA.co.id