Berita Banyuwangi

Melihat Geliat Perempuan di Desa Kedungasri Banyuwangi Menggerakkan UMKM

Sekelompok ibu rumah tangga di Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi tergabung dalam Hasta Karya Mandiri sukses berwirausaha

Penulis: Haorrahman | Editor: Rahadian Bagus
surya.co.id/ook
Bupati Ipuk yang meninjau langsung ke tempat produksi kelompok perrmpuan Hasta Karya Mandiri, di Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi. 

SURYA.CO.ID|BANYUWANGI- Hasta Karya Mandiri dari Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, merupakan kelompok ibu rumah tangga yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan. 

Mereka lantas merintis usaha kecil-kecilan, membuat aneka camilan dan kerajinan batik.

"Awalnya kita ingin ada kesibukan yang bisa menambah penghasilan. Syukur syukur bisa bantu kebutuhan rumah tangga," ungkap Ketua Hasta Karya Mandiri, Roizatul Hasanah.

Berbekal semangat tersebut, Roiz kemudian mengajak sejumlah tetangganya untuk menghidupkan kelompok Hasta Karya Mandiri pada 2017 silam. Sayangnya, upaya tersebut gagal.

"Pada 2021 kemarin, keinginan itu, kita hidupkan lagi," ujarnya.

Upaya kedua ini, ungkap Roiz, dilakukan oleh enam orang perempuan. Modal awalnya sebesar Rp. 600.000 hasil patungan Rp. 100.000 dari enam anggotanya.

"Karena kita hanya ibu rumah tangga biasa, kita hanya bisa iuran seratus ribu. Hasil menyisihkan uang belanja," kenangnya.

Dari modal tersebut, mereka memproduksi kerupuk dan rempeyek. Produksinya dikemas dengan plastik biasa dan dititipkan ke warung dan pedagang sayur keliling.

"Alhamdulillah, sedikit demi sedikit permintaan terus bertambah," terangnya.

Melihat prospek pasar yang semakin baik tak membuat Roiz dan kawan-kawannya berpuas diri. Mereka terus berupaya meningkatkan produksinya.

Yang awalnya hanya kerupuk dan rempeyek, mereka berani berinovasi dengan aneka menu camilan lainnya. Seperti keripik kedelai dan kerupuk daun mangrove.

"Dari sejumlah pelatihan yang pernah kita ikuti, kami mulai meningkatkan kualitas produksi. Yang awalnya dikemas dengan plastik biasa, sekarang kita kemas dengan plastik yang baik. Juga kita bubuhi label," cerita Roiz. 

Dari upaya tersebut, penjualannya semakin meningkat dan luas. Bahkan, sejak enam bulan terakhir, mereka mulai mengembangkan produksi batik dengan menggunakan pewarna alami.

"Enam bulan kemarin kita ikut pelatihan batik yang diselenggarakan oleh TNAP (Taman Nasional Alas Purwo). Ini kemudian kita kembangkan," ujar Roiz.

Halaman
12
Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved