Pengamat Politik : Usulan Mempercepat Pilkada Serentak 2024 Perlu Pertimbangan Ulang

Wacana memajukan kontestasi Pilkada serentak pada September 2024 sejauh ini memicu pro dan kontra.

Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Rahadian Bagus
surya.co.id/Yusron
Pengamat politik dari Universitas Surabaya (Unesa), Moch Mubarok Muharam 

SURYA.CO.ID|SURABAYA - Wacana memajukan kontestasi Pilkada serentak pada September 2024 sejauh ini memicu pro dan kontra.

Usulan mempercepat pelaksanaan Pilkada dua bulan yang disampaikan Ketua KPU RI dengan pertimbangan stabilitas politik dinilai perlu dipertimbangkan ulang. 

Pengamat politik dari Universitas Surabaya (Unesa), Moch Mubarok Muharam meyakini stabilitas politik tetap akan terjaga sekalipun kontestasi pemilihan baik Pilpres, Pileg hingga Pilkada serentak akan berlangsung di tahun yang sama. 

Sebab, Mubarok yakin seluruh pihak terkait sudah akan bersiap baik penyelenggara ditingkat daerah hingga Pemerintah daerah. Selain itu, dia juga meyakini rakyat sudah bisa dewasa dalam merespon pelaksanaan serta hasil Pilkada nantinya. 

"KPU harus memikirkan ulang lagi usulan percepatan pilkada, sebaiknya mereka harus tetap menjalankan pilkada sesuai dengan rencana awal," kata Mubarok, Minggu (28/8/2022). 

Ketua Lembaga Transformasi (Letram) itu berpandangan perlu dilakukan kajian ulang terkait wacana maupun usulan yang muncul dalam beberapa hari terakhir ini. Sebab dalam sejumlah pandangan tersebut, stabilitas politik dirasa masih akan kondusif jelang Pilkada mendatang. 

Di sisi lain, dalam hitungan politik jika Pilkada dimajukan maka juga akan berdampak pada konstelasi politik. Sebab dengan mempercepat Pilkada maka jarak Pilpres dan Pileg menjadi semakin pendek. Artinya, konstelasi akan beririsan. 

"Parpol yang mendapatkan hasil yang baik di pileg/pilpres akan lebih diuntungkan dalam pilkada. Dampak yang lain adalah semakin dekat dengan pileg, maka semakin menyulitkan bagi parpol untuk membangun koalisi dengan scr lebih tersistematis dlm pilkada," jelasnya. 

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved