Berita Surabaya

BI Jatim Terus Edukasi LCS untuk Optimalkan Penggunaannya di Jatim

BI Jatim menggelar sosialisasi Optimalisasi LCS dalam mendukung percepatan pemulihan ekonomi Jatim

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: irwan sy
BI Jatim
Sosialisasi LCS yang digelar BI Jatim untuk memaksimalkan penggunaannya di dalam memitigasi risiko nilai tukar terhadap kinerja eskpor-impor dan investasi di Jatim, seiring dengan ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global. 

Berita Surabaya

SURYA.co.id | SURABAYA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (BI Jatim) menggelar sosialisasi 'Optimalisasi LCS dalam mendukung percepatan pemulihan ekonomi Jawa Timur melalui peningkatan daya saing perdagangan internasional'.

LCS adalah Local Currency Settlement, yaitu penyelesaian transaksi bilateral antara dua negara yang dilakukan dalam mata uang masing-masing negara, lalu setelmen transaksinya dilakukan di dalam yurisdiksi wilayah negara masing-masing.

Kegiatan yang bertempat di Kantor Perwakilan BI Jatim ini dihadiri oleh Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia Destry Damayanti, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Lucky Alfirman, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Budi Hananto, dan Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK) BI Donny Hutabarat, serta perwakilan Konsulat Jenderal negara mitra dagang Surabaya, pelaku ekspor-impor dan perbankan se-Jawa Timur.

Kepala Perwakilan BI Jatim, Budi Hanoto, mengatakan sosialisasi LCS sangat penting dalam memitigasi risiko nilai tukar terhadap kinerja eskpor-impor dan investasi di Jatim, seiring dengan ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global.

"Hal ini juga sebagai upaya mempercepat pengembangan pasar keuangan Indonesia, BI menerbitkan mekanisme penyelesaian transaksi bilateral antar negara seperti transaksi perdagangan, remitansi dan investasi langsung, menggunakan mata uang lokal atau LCS," kata Budi, Selasa (23/8/2022).

Misalnya, penyelesaian transaksi perdagangan Indonesia dan Jepang dilakukan dalam rupiah dan setelmen transaksi dilakukan di Indonesia.

Begitu pun sebaliknya, jika transaksi perdagangan kedua negara dilakukan dalam yen maka setelmen transaksi dilakukan di Jepang.

"Mekanisme ini bertujuan untuk mengurangi dominasi mata uang Dollar Amerika dalam transaksi perdagangan dan investasi di Indonesia, sehingga mampu menurunkan risiko global shock yang bersumber dari hard currency tersebut," jelas Budi.

Wagub Jatim, Emil Dardak menyambut baik kebijakan ini.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved