Berita Gresik

HUT ke-50 Tahun, Petrokimia Gresik Gandeng Stakeholder Cari Solusi Pertahankan Swasembada Pangan

Sehingga dapat diasumsikan butuh tambahan lahan sekitar 1,2 juta hektare atau seluas lahan pertanian di Jawa Timur

Penulis: Sugiyono | Editor: Deddy Humana
surya/mochammad Sugiyono
Dirut PG, Dwi Satriyo Annurogo (ke-3 dari kiri) saat menjadi narasumber dalam FGD ‘Journey of National Food Security: Current Status & Future Perspective’ di Gresik. Dan Petrokimia siapkan pertahanan swasembada pangan nasional, Kamis (18/8/2022). 

SURYA.CO.ID, GRESIK – Petrokimia Gresik menggandeng stakeholder untuk mencari solusi bersama atas kebutuhan pangan nasional yang terus meningkat melalui Forum Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Journey of National Food Security: Current Status & Future Perspective’ di Gresik, Jawa Timur.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo mengatakan, pada momen Indonesia Emas tahun 2045. diproyeksikan kebutuhan beras nasional mencapai 35,5 juta ton per tahun. Itu berarti meningkat 5,5 juta ton dari kebutuhan beras nasional saat ini, yakni 30 juta ton per tahun.

“Indonesia selama tiga tahun terakhir memang tidak mengimpor beras, karena kebutuhan beras mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri. Tetapi bukan berarti kita bisa santai-santai, swasembada beras ini justru harus kita pertahankan untuk menghadapi kebutuhan pangan nasional yang akan terus melonjak,” kata Dwi Satriyo yang menjadi salah satu narasumber d FGD itu, Kamis (18/8/2022).

Dwi Satriyo menambahkan, peningkatan kebutuhan beras sebanyak 5,5 juta ton di tahun 2045 ini, setara dengan produktivitas beras tertinggi untuk Provinsi di Indonesia, dalam hal ini Jawa Timur. Sehingga dapat diasumsikan butuh tambahan lahan sekitar 1,2 juta hektare atau seluas lahan pertanian di Jawa Timur untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut di tahun 2045.

Padahal berdasarkan data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), trend luasan lahan pertanian di Indonesia justru semakin menurun dari tahun ke tahun.

Untuk itu, Dwi Satriyo mendorong adanya terobosan melalui strategi intensifikasi atau optimalisasi lahan pertanian yang sudah ada, guna peningkatan produktivitas beras dalam negeri. Sesuai hasil penelitian, produktivitas beras di tanah air masih bisa digenjot hingga 77 persen melalui strategi intensifikasi.

“Penelitian ini diperkuat dengan hasil demplot (demonstration plot) kami. Di mana produktivitas padi di Indonesia yang rata-rata 5,2 juta ton per hektare di beberapa daerah, bisa meningkat hingga 8 sampai 9 juta ton per hektare,” imbuhnya.

Sebagai solusi peningkatan produktivitas pertanian, di usia ke-50 tahun Petrokimia Gresik menghadirkan sederet pupuk non subsidi berkualitas. Seperti NPK Phonska Alam untuk pertanian organik, ZA Plus, Phosgreen dan Petroganik Premium sebagai alternatif substitusi pupuk ZA, SP-36 dan Petroganik.

“Harga pupuk nonsubsidi terbaru milik Petrokimia Gresik terbilang terjangkau. Dan kualitasnya tidak perlu diragukan lagi, karena telah teruji mampu meningkatkan produktivitas pertanian di beberapa daerah,” ujar Dwi Satriyo.

Lebih lanjut Dwi Satriyo mengungkapkan, untuk meningkatkan produktivitas pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan yang akan terus meningkat, selain dibutuhkan sarana produksi pertanian yang memadai, tentunya juga dibutuhkan SDM pertanian yang handal.

Halaman
123
Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved