Berita Kota Surabaya

Dugaan Hubungan Sejenis, Oknum Pegawai Kejari Bojonegoro Digerebek Bersama Siswa SMA di Jombang

AH mengaku pernah menjadi korban kekerasan seksual di masa lalu, yaitu dirudapaksa saat masih anak-anak

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Deddy Humana
surya/luhur pambudi
Kajati Jatim. Mia Amiati. 

SURYA.CO.ID, KOTA SURABAYA - Dugaan adanya hubungan sesama jenis menjerat AH, seorang oknum pegawai Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro. Ini setelah Satreskrim Polres Jombang menggerebek AH yang diduga baru melakukan kekerasan seksual terhadap seorang pemuda berusia 17 tahin di sebuah kamar hotel di Jombang, Kamis (18/8/2022) dini hari.

AH ditangkap di kamar sebuah hotel di Jalan Raya Gus Dur, Candimulyo, Kabupaten Jombang, pada dini hari. Di dalam kamar itu, polisi mendapati seorang pelajar SMA yang diduga baru menjadi korban rudapaksa AH.

AH merupakan pegawai yang menjabat Kasi Pengelolaan Barang Bukti dan Perampasan Kejari Bojonegoro, dan berdomisili di Kabupaten Jombang. AS digerebek petugas sekitar pukul 00.35 WIB.

Saat dimintai keterangan di ruang penyidik Satreskrim Polres Jombang, terungkap bahwa korban diiming-imingi uang Rp 300.000 untuk melayani AH.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajati) Jatim, Mia Amiati mengungkapkan, AH bertemu dengan korban melalui bantuan seorang kenalan AH yang bertindak bak muncikari guna mencari remaja sesuai kriteria yang diiinginkan pelaku.

AH membayar jasa temannya untuk mencarikan 'bocah pemuas nafsu' itu dengan imbalan Rp 400.000. "Benar (korban) dikasih uang Rp 300.000. Tetapi ada orang yang mucikarinya. Di tempat itu ada 3 orang, karena orang yang menjaga di depan kamar itulah yang menyediakan anaknya. Oknum ini meminta kepada penjaga untuk mencarikan laki-laki berusia sekitar 16 tahun," kata Amiati di Kantor Kejati Jatim, Kamis (18/8/2022).

AH kini sedang menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Jombang. Informasi hasil penyidikan sementara itu diperoleh dari pejabat Kejari Jombang dan Kejari Bojonegoro yang datang ke Polres Jombang.

AH, ungkap Amiati, mengaku kepada penyidik baru satu kali melakukan perbuatan tidak senonoh itu kepada korban. Saat ditanya latar belakangnya, AH cenderung menginginkan aktivitas seksual yang cenderung berbeda, dengan kriteria sesama jenis dan berusia sekitar 16 tahun.

Amiati mengungkapkan, AH mengaku pernah menjadi korban kekerasan seksual di masa lalu, yaitu dirudapaksa saat masih anak-anak. Meskipun sejatinya AH sekarang terbilang telah berumur bahkan telah memiliki seorang istri di Jombang.

"Tadi saya ke sana dan bersama penyidik melakukan penyidikan, ternyata yang bersangkutan pernah mengalami hal yang sama yaitu disodomi saat usia 6 tahun. Hasil assessment sementara, ia pernah menjadi korban. Ia mengungkapkan pernah menjadi korban," tambah Mia.

Kendati demikian, Amiati tetap akan menyerahkan proses penyidikan sepenuhnya kepada Satreskrim Polres Jombang. Bahkan guna memudahkan proses penyidikan berjalan secara baik dan objektif, Amiati telah menginstruksikan Kejari Bojonegoro untuk menonaktifkan AH dari jabatannya.

"Kami sementara mencopot jabatannya agar proses pemeriksaan secara objektif. Dan nanti para Asos akan memproses untuk diajukan untuk segera diberhentikan (dari jabatannya)," jelasnya.

Aminati menegaskan, pihaknya secara tegas akan memberikan sanksi maksimal kepada AH, kalau dalam proses peradilan memang terbukti melakukan tindakan melanggar hukum tersebut.

Sanksi maksimal yang dimaksud Amiati adalah mencopot atau memberhentikan AH dari status kepegawaiannya dari institusi kejari. "Kami tidak akan melindungi dan akan menindak tegas semua oknum yang berbuat salah. Bahkan kami akan mengusulkan untuk dicopot bila terbukti nanti," pungkasnya. *****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved