Berita Bangkalan

Ngeri, Pengedar Sabu di Bangkalan Rela Obral Paket Hanya Rp 150 Ribuan; Polisi Sita 5,26 Gram

Hal ini dilakukan pengedar berinisial AG (36), warga Desa Parseh, Kecamatan Socah sebelum anggota Sat Narkoba Polres Bangkalan

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Deddy Humana
surya.co.id/ahmad faisol
Pengedar sabu berinisial AG (kanan), warga Desa Parseh, Kecamatan Socah diamankan di Polres Bangkalan dengan barang bukti 5,26 gram sabu, Selasa (16/8/2022). 

SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Narkoba jenis sabu yang termasuk mahal, semakin murah lewat strategi licik para pengedar agar menyasar semua segmen masyarakat. Yang memprihatinkan, ada pengedar yang menyediakan paket hanya Rp 100.000 sampai Rp 150.000 agar bisa menjaring korban lebih banyak.

Hal ini dilakukan pengedar berinisial AG (36), warga Desa Parseh, Kecamatan Socah sebelum anggota Sat Narkoba Polres Bangkalan. Ternyata pembuatan paket hemat itu memang cara para bandar untuk menjaga eksistensi pangsa pasar.

Dengan banting harga itu, maka pengedar bisa mendapat calon pembeli atau korban yang berkantong cekak. Tetapi begitu terjerat barang haram itu, maka korbannya akan terus ketagihan meski harganya kemudian semakin mahal.

Namun upaya yang dilakukan pria berinisial akhirnya terendus Sat Narkoba Polres Bangkalan. Polisi menciduk AG di rumahnya dengan total barang bukti mencapai 5,26 gram, uang tunai Rp 974.000, dan sebuah ponsel, Selasa (16/8/2022).

“Barang bukti disimpan tersangka AG dalam dompet berwarna merah muda yang berisikan 4 kantong plastik masing-masing 1,12 gram, 1,58 gram, 1,52 gram, dan 1,04 gram. Kami juga menyita dua kantong plastik kosong masing-masing bertuliskan 150 dan 100,” ungkap Plh Kasi Humas Ipda Risna Wijayati kepada SURYA, Rabu (17/8/2022).

Di hadapan penyidik Sat Narkoba Polres Bangkalan, AG mengaku bahwa barang bukti berupa 5,26 gram sabu itu didapatnya dengan cara membeli kepada pria berinisial DF senilai Rp 3,5 juta.

“DF kami tetapkan sebagai DPO. Sedangkan tersangka AG dijerat Pasal 114 Ayat (1) Sub Pasal 112 Ayat (1) Nomor 35 Tahun 2009 dengan ancaman di atas lima tahun penjara,” pungkas Risna. ****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved