Sosok

Potret Jarmani, Dosen UWKS Surabaya yang Kembangkan Pembelajaran Gamelan

Dari hobi inilah, Jarmani merantau ke Surabaya untuk semakin memperdalam ilmu seni dengan berkuliah S1 Sendratasik di Unesa

Penulis: Zainal Arif | Editor: irwan sy
zainal arif/surya.co.id
Dosen Fakultas Bahasa & Sains Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Jarmani, memainkan gamelan. 

Berita Surabaya

SURYA.co.id | SURABAYA - Berlatar belakang dari keluarga seni membuat Jarmani mengenal alat musik gamelan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Dosen Fakultas Bahasa & Sains Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) itu mengaku sangat menyukai permainan alat musik gamelan.

"Dari kecil saya sudah belajar nembang, jadi berawal hidup di lingkungan seni kemudian menjadi hobi," ujar Jarmani kepada SURYA.co.id, Senin (1/8/2022).

Dari hobi inilah, Jarmani merantau ke Surabaya untuk semakin memperdalam ilmu seni dengan berkuliah S1 Sendratasik (Seni, Drama, Tari, Dan Musik) di Unesa.

"Pendidikan Sendratasik saya dulu konsentrasi di musik, dulu ikut dalang Unesa untuk menjadi pemain alat musik dan alhamdulillah mendapat bayaran untuk biaya hidup disini (Kota Surabaya)," ungkapnya.

Singkat cerita, berkat nilai akademisnya yang gemilang Jarmani mendapatkan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) lanjut program studi S3 Teknologi Pendidikan Pascasarjana di Unesa.

Ia bahkan berhasil mengembangkan model pembelajaran dengan tajuk JARMANI untuk meningkatkan keterampilan memainkan E- Gamelan bagi siswa sekolah menengah pertama melalui disertasinya.

Selain berasal dari nama sendiri, JARMANI yang merupakan singkatan yang diambil dari prinsip penting permainan gamelan yaitu Jejer, Akrab, Rukun, dan Mulo Agawe muNI.

"Dengan nilai jejer (berdampingan), akrab, rukun sehingga membuat bunyi," jelasnya.

Sementara untuk latar belakang pembuatan model pembelajaran JARMANI ini didasari oleh mahalnya alat musik gamelan.

"Gamelan itu mahal karena alatnya banyak, tidak semua sekolah bisa memiliki gamelan," ujar Jarmani, peneliti pendidikan dan penggiat tradisi gamelan.

Keterbatasan itulah yang kemudian memberi dampak pada kelestarian gamelan dan musik tradisional Jawa.

"Semakin sedikit pemain yang belajar, makin tergerus pula budaya tersebut. Perlu model pembelajaran yang mendorong agar belajar gamelan ini lebih mudah dengan memanfaatkan E-Gamelan yang ada dan tentunya bisa diaplikasikan di berbagai level pendidikan," pungkasnya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved