Berita Kota Surabaya

Eks Pejabat Satpol PP Surabaya Bantah Korupsi Barang Sitaan, Lawan Kejari Lewat Praperadilan

Kami update data seberapa akurasi penetapan menjadi tersangka itu benar secara hukum. Seharusnya, hukum tidak abal-abal

surya/bobby constantine Koloway
Tim Kuasa Hukum Ferry Jocom, Abdurrahman Saleh bersama Iwan Harimurti, memberikan penjelasan di Surabaya. 

SURYA.CO.ID, KOTA SURABAYA - Mantan petinggi Satpol PP Surabaya yang kini menjadi tersangka perkara penggelapan barang sitaan menyiapkan langkah perlawanan hukum. Oknum bernama Ferry Jocom ini membantah telah melakukan korupsi dengan menjual barang sitaan Satpol PP senilai Rp 500 juta.

Tim Kuasa Hukum dari Ferry telah menyiapkan sejumlah upaya hukum. Di antaranya dengan menyiapkan langkah praperadilan atas penetapannya sebagai tersangka oleh pihak Kejaksaan Negeri Surabaya.

"Kami masih menimbang terlebih dahulu soal langkah apa yang kami lakukan dalam waktu dekat. Di antaranya kami ajukan langkah praperadilan," kata Kuasa Hukum Ferry Jocom, Abdurahman Saleh di Surabaya, Selasa (19/7/2022).

Abdurrahman bersama rekannya, Iwan Harimurti mengakui baru saja ditunjuk sebagai Kuasa Hukum Ferry, Selasa (19/7/2022). "Dengan peningkatan status beliau dari saksi menjadi tersangka, maka sudah seharusnya beliau didampingi kuasa hukum," kata Abdurrahman.

Abdurrahman melanjutkan, selain menempuh praperadilan, pihaknya juga menyiapkan sejumlah upaya lain. Di antaranya dengan mendukung penegak hukum membuka kasus ini.

Saat ini pihaknya masih fokus untuk mengaji penetapan tersangka oleh Kejari Surabaya. "Terkait dengan langkah hukum yang ditempuh, kami tunggu 1-2 hari," jelasnya.

"Kami update data seberapa akurasi penetapan menjadi tersangka itu benar secara hukum. Sebab, ini menyangkut pembuktian hukum. Seharusnya, hukum tidak abal-abal," ia menegaskan.

Abdurrahman merinci sejumlah pernyataan kejari yang menurutnya masih memerlukan pembuktian. Sebelum kliennya dinyatakan sebagai tersangka, seharusnya ada bukti yang disertakan.

"Apalagi ini kasus korupsi, tentu ada kerugian. Kerugian dari mana? Belum ada. Pelaku disebut membiarkan, menjual barang ke pihak lain. Jadi siapa yang memberi, siapa yang menjual, kemana uangnya? Itu tidak ada," papar Abdurrahman.

Termasuk soal penjualan barang sitaan Satpol PP Surabaya yang disebut senilai Rp 500 juta. Abdurrahman membantah kliennya melakukan hal tersebut, apalagi mengambil keuntungan dari hal ini.

"Itu perlu pembuktian hukum. Dari mana sumber berita itu? Kan harus ada data otentik. Uang itu harus ada, harus disita. Siapa yang menyerahkan? Di mana dan kapan? Itu harus jelas," urainya.

Termasuk soal desas desus penerimaan sejumlah uang melalui kotak kue kepada kliennya dalam sebuah pertemuan di kecamatan. Sekali lagi, pihaknya membantah bahwa kotak itu berisi uang.

"Kotak kue itu tiba-tiba dimasukkan ke dalam mobilnya. Sempat ditolak beliau, namun kemudian diselipkan di mobil. Namun ternyata memang berbentuk kue," ungkap Abdurrahman.

Tidak hanya itu, pada prinsipnya pihaknya menegaskan kliennya telah bekerja sesuai prosedur. Sebagai aparatur sipil negara, Ferry Jocom disebut bekerja sesuai dengan regulasi dan perintah atasan.

"Terpenting Kejari Surabaya atau Kejaksaan Tinggi Jatim harus mengusut tuntas kasus ini. Catatannya, jangan mengaburkan kasus menjadi Pak Ferry saja. Siapapun itu, mau atasan, bawahan, pihak ketiga, elite politik, dan sebagainya, yang terlibat di situ, harus bertanggungjawab secara hukum," tegasnya.

Untuk diketahui, oknum ASN Satpol PP Kota Surabaya resmi ditetapkan sebagai tersangka dugaan penggelapan barang hasil sitaan. Mantan Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Satpol PP Surabaya ini langsung ditahan.

Penetapan tersangka itu dilakukan penyidik Tindak Pidana Khusus Kejari Surabaya berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Nomor Print-05/M.5.10/Fd.1/07/2022 tanggal 13 Juli 2022.

"Pada tersangka juga dilakukan penahanan selama 20 hari di Rutan Kelas 1 Surabaya Cabang Kejati Jatim," kata Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya, Danang Suryo Wibowo dalam pernyataan yang diterima SURYA, Kamis (14/7/2022) lalu.

Dalam pernyataan tertulis, Danang menjelaskan bahwa tersangka sekitar bulan Mei diduga menjual barang bukti hasil kegiatan penertiban. Barang penertiban oleh Satpol PP Kota Surabaya ini berada di Gudang Satpol PP Kota Surabaya di Jalan Tanjungsari 11-15 Surabaya. "(Barang hasil sitaan ini) Dijual kepada pihak lain senilai sekitar Rp 500 juta," kata Danang. ****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved