Berita Tulungagung
Upacara Adat Ulur-Ulur di Telaga Buret Tulungagung Kembali Digelar
Upacara adat Ulur-Ulur di Telaga Buret Desa Sawo, Campurdarat, Tulungagung, kembali digelar secara terbuka.
Penulis: David Yohanes | Editor: irwan sy
Berita Tulungagung
SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Upacara adat Ulur-Ulur di Telaga Buret Desa Sawo, Campurdarat, Tulungagung, kembali digelar secara terbuka.
Ratusan orang yang rindu melihat upacara adat ini memenuhi area telaga tempat konservasi alam ini, Jumat (24/6/2022).
Bahkan para pejabat, termasuk Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo dan wakilnya, Gatut Sunu Wibowo ikut hadir.
"Alhamdulillah, Covid-19 yang sudah lama membelenggu kita sekarang sudah terkendali. Tahun ini ulur-ulur kembali normal," terang Ketua Pokdarwis Telaga Buret, Karsi Nero Sutamrin.
Acara ini juga telah mendapat izin dari Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.
Meski sudah diberi izin, menurut Karsi, acara ini belum digelar secara besar-besaran.
Misalnya tidak ada lagi pentas seni yang berlangsung setelah acara jamasan Joko Sedono dan Dewi Sri.
"Kalau kondisi normal, siang hari sampai malam ada pentas seni. Mudah-mudahan tahun depan sepenuhnya bisa kami laksanakan," sambung Karsi.
Ulur-ulur adalah upacara adat yang digelar masyarakat adat Kasepuhan Sendang Tirto Mulyo.
Upacara ini bentuk ucapan syukur kepada Tuhan, atas keberadaan Telaga Buret.
Sebab telaga yang tidak seberapa luas ini terus mengalirkan air untuk pertanian empat desa, yaitu Desa Sawo, Ngentrong, Gedangan dan Gamping.
"Total luas area persawahan yang mendapat air dari Telaga Buret sekitar 700 hektar. Dalam setahun bisa panen tiga kali," ungkapnya.
Selain itu industri pengolahan batu di empat desa ini juga banyak mengambil air yang mengalir dari Telaga Buret.
Belum lagi resapan aliran Telaga Buret juga berpengaruh langsung pada sumur warga.
Sumur ini yang dimanfaatkan kesehariannya untuk keperluan konsumsi.
"Ulur-ulur adalah tradisi ratusan tahun yang terjaga sampai sekarang. Meski sekarang kemasannya sudah berbeda, mengikuti perkembangan zaman," tutur Karsi.
Lewat ulur-ulur, warga empat desa itu bukan sekedar menjaga tradisi.
Yang yang lebih penting dari upacara adat ini, lanjut Karsi, adalah tradisi menjaga kelestarian lingkungan Telaga Buret.
Lewat kesakralan turun temurun yang terjaga, turut andil untuk mengamankan hutan di sekitar telaga ini.
"Kemasan kesenian hanyalah tuntutan zaman. Namun yang penting adalah tradisi menjaga lingkungan Telaga Buret," tandas Karsi.
Jalannya Upacara
Upacara didahului dengan iring-iringan masyarakat adat Kasepuhan Sendang Tirto Mulyo ke lokasi Telaga Buret.
Mereka langsung menghadap altar tempat Dewi Sri dan Joko Sedono.
Dewi Sri adalah dewi padi yang melambangkan kesuburan atau kelimpahan pangan.
Sedangkan Joko Sedono melambangkan wastro atau kemurahan sandang.
Puncak acara adalah jamasan sosok Dewi Sri dan Joko Sedono ini.
Patung keduanya dimandikan dan didandani, lalu diberi minyak dan mahkota.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/upacara-adat-ulur-ulur-campurdarat-tulungagung.jpg)