Berita Lamongan
Meski Dilanda Wabah PMK, Harga Sapi di Lamongan Tetap Naik, Disebut Karena Ini Penyebabnya
Sebaran wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) yang meluas hingga di 24 kecamatan se Kabupaten Lamongan tidak berdampak harga sapi.
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Sebaran wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) yang meluas hingga di 24 kecamatan se Kabupaten Lamongan tidak berdampak harga sapi.
Menjelang Hari Raya Idul Adha harga sapi di Lamongan mengalami kenaikan.
Seorang peternak di Gumining, Sutaman mengakui jika beberapa ekor sapi miliknya masih laku dengan harga tinggi.
"Harga jual sapi saat ini sedang ada peningkatan jika dibandingkan dengan sebelumnya, meski ada PMK," kata Sutaman kepada Surya.co.id, Kamis (16/6/2022).
Dari yang sebelumnya harga sapi di kisaran harga Rp21 juta, kini naik menjadi Rp 24 juta. Bahkan bisa lebih, untuk ternak sapi yang mempunyai bobot lebih.
Menurutnya, kenaikan harga sapi ini dipengaruhi oleh tingginya permintaan sapi untuk kebutuhan kurban. Sedangkan ketersediaan yang ada di peternak terbatas. Karena ada wabah PMK yang telah menjangkiti sebagian sapi peternak di Lamongan
Mewabahnya PMK ini juga menyebabkan pasokan hewan berkurang, karena diberlakukannya pembatasan lalu lintas sapi dan ditutupnya pasar hewan.
Sapi yang keluar masuk ke Lamongan harus melewati prosedur dan adanya pembatasan lalu lintas hewan kurban karena PMK. Pengiriman sapi harus mengajukan surat terlebih dahulu, juga ada karantina.
"Akibatnya pasokan sapi di tingkat pedagang terbatas, sementara permintaan meningkat," katanya.
Selain faktor kurangnya pasokan, menurut Sutarman, naik harga jual sapi kurban ini terjadi akibat pedagang harus menambah uang modal untuk memastikan sapi yang dijual sehat.
"Ongkos operasional membengkak, karena harus melewati beberapa persyaratan dan pengecekan kesehatan hewan, jadi pengaruh ke harga," ungkapnya.
Kenyataan naiknya harga sapi kurban tersebut, membuat panitia kurban di salah satu masjid di Kabupaten Lamongan turut menaikkan biaya pembelian kurban bagi jemaahnya, mereka ini yang menerapkan model patungan.
Salah satu panitia kurban, Lukman mengatakan, bahwa biaya kurban untuk satu orang jemaah di lingkungannya naik. Biasanya satu orang jemaah mengeluarkan biaya sebesar Rp 3 juta hingga Rp 3,5 juta, kini naik menjadi Rp 4 juta.