Berita Pamekasan
Dipaksakan Buka Demi Raup Retribusi, Pasar Hewan di Pamekasan Ternyata Sepi Pedagang
Diakui, sapi yang diperjual belikan di pasar sapi Keppo bukan hanya untuk jagal yang dagingnya dijual di pasar-pasar polowijo
Penulis: Muchsin | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID, PAMEKASAN – Aktivitas jual beli sapi di seluruh pasar hewan di Pamekasan sekarang lumpuh, lantaran sebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi. Meski begitu, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Diseperindag) Pamekasan tidak menutup empat pasar hewan di sana.
Sebab dari hasil rapat koordinasi dengan disperindag se-Madura di kantor Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) IV Pamekasan beberapa hari lalu, disepakati bahwa pasar hewan di wilayah Madura tidak boleh ditutup.
Kepala Bidang (Kabid) Pasar, Disperindag Pamekasan, Agus Wijaya mengatakan, kendati kondisi pasar sapi tetap sepi, pihaknya tidak akan menutup pasar hewan di Pamekasan. Begitu juga petugas retribusi pasar sapi tetap diwajibkan datang ke pasar.
Karena berharap ke depan, kondisi pasar sapi ini membaik, walau belum tahu pasti kapan pulihnya akitivitas pasar hewan ini.
“Saat rapat kemarin memang ada usulan dari bagian pasar dari luar Pamekasan. Dan melihat kondisi pasar seperti ini, agar pasar hewan ditutup. Namun sudah diputuskan dalam rapat itu, jangan sampai ada pasar hewan yang ditutup,” tutur Agus Wijaya kepada SURYA, Selasa (14/6/2022).
Agus menyatakan, lumpuhnya aktivitas jual beli sapi di seluruh pasar hewan membuat hasil retribusi dari jual beli sapi berimbas pada pendapatan asli daerah (PAD) pasar hewan. Dan dipastikan kehilangan PAD cukup besar.
“Kami akui, kali ini akitivitas jual beli sapi di semua pasar hewan di Pamekasan lumpuh, karena empat pasar hewan yang selama ini selalu ramai pedagang dan pembeli, kini sepi dan lengang,” papar Agus
Dengan lumpuhnya aktivitas jual beli sapi di empat pasar hewan di Pamekasan ini, tentu membuat pemasukan dari retribusi pasar hewan anjlok bahkan hilang. Dan dalam sebulan pemasukan dari empat pasar hewan ini rata-rata berkisar Rp 46,8 juta.
Diungkapkan, dari ke empat pasar hewan di Pamekasan, retribusi terbesar berasal dari pasar sapi Keppo, Desa Polagan, Kecamatan Galis yaitu Rp 24 juta per bulan. Sedangkan pasar sapi Waru, Kecamatan Waru menyumbang Rp 8 juta per bulan.
Kemudian di pasar sapi Kecamatan Pakong Rp 8 juta per bulan dan di pasar sapi Batubintang, Kecamatan Batumarmar, Rp 6,8 juta per bulan.
Menurut Agus, pemasukan retribusi di pasar sapi Keppo lebih besar dibanding tiga pasar lainnya, karena pasar sapi Keppo merupakan pasar hewan terbesar di Pamekasan.
Pedagang dan pembelinya, bukan hanya dari wilayah Pamekasan, Sumenep, Sampang dan Bangkalan, melainkan juga dari daerah Boyolali, Jawa Tengah. Sedang tiga pasar lainya, pedagan dan calon pembelinya hanya dari wilayah Madura saja.
Diakui, sapi yang diperjual belikan di pasar sapi Keppo bukan hanya untuk jagal yang dagingnya dijual di pasar-pasar polowijo dan dikonsumsi masyarakat. Melainkan juga sapi dibeli para pedagang dari luar Pamekasan untuk dikirim ke Jakarta.
Dan guna mengetahui perkembangan kondisi pasar sapi, ia besama atasannya mendatangi pasar sapi Keppo, Selasa (14/6/2022), yang biasanya menjadi hari pasaran sapi. Namun sampai di sana sekitar pukul 11.00 WIB, kondisi pasar sapi malah kosong dan sepi.
Padahal setiap hari pasaran, aktivitas pasar sapi di Keppo berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, selalu ramai.
“Kami tadi mendapat laporan dari petugas pasar di sana, pagi tadi datang hanya segelintir pedagang sapi. Dan sapi yang terlihat antara 3 ekor – 5 ekor saja. Namun karena sepi tidak ada calon pembeli yang datang, pedagang membawa pulang sapinya,” ungkap Agus. ****
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Pasar-hewan-Pamekasan-buka-saat-PMK.jpg)