Berita Surabaya

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Raih Juara dalam Dua Ajang Lomba Berbeda

Timnya memilih untuk menggunakan tepung porang karena ingin Indonesia memiliki banyak inovasi pengolahan dari umbi porang.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
Foto Istimewa Unusa
Muhammad Fachruddin, Agung Firmansyah dan Azizatur Rofiah meraih juara dua dalam ajang lomba Debat Pendidikan SeJawa-Bali yang di adakan oleh IAIN Madura Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pengembangan Intelektual dan Riset 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Prestasi kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Dwi Indah Fadhilatul Amanah, Alisyah Azzahra Putri, Anggita Lusiana Dewi berhasil meraih juara tiga pada lomba Management Administration Great Innovation Competition (MAGIC) National Business Plan Competition di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Mereka bertiga meraih juara setelah membuat bisnis plan Co-man (cookies matan).

Matan sendiri merupakan istilah dari tunanetra. Cokies ini terbuat dari tepung umbi porang.

Di Jepang umbi porang kerap digunakan bahan dasar pembuatan nasi shiratake dan mie siratake yang biasa digunakan cara untuk menjalankan diet.

Umbi porang memiliki kadar kalori paling rendah dibandingkan nasi dan umbi-umbian lainnya, selain itu umbi porang juga mengandung banyak zat gizi salah satunya sangat tinggi serat.

Baca juga: Angka Laka Lantas Jatim Meningkat, 35 Orang Meregang Nyawa di Bangkalan Periode Januari-Mei 2022

"Sehingga saat dijadikan cookies yang kami buat juga sangat cocok untuk mereka yang sedang menjalani program diet tapi tetap ingin nyemil," ungkap salah satu anggota dari Prodi S1 Gizi Unusa, Dwi Indah Fadhilatul Amanah kepada SURYA.co.id, Senin (13/6/2022).

Dwi menambahkan jika timnya memilih untuk menggunakan tepung porang karena ingin Indonesia memiliki banyak inovasi pengolahan dari umbi porang.

Karena selama ini, Indonesia hanya mengekspor bahan mentah dari umbi porang.

"Ke depannya dengan salah satu ide yang kami cetuskan berupa cookies akan muncul inovasi-inovasi baru cara pengolahan umbi porang, sehingga menambah nilai ekonomi dari umbi porang dan mampu membantu perekonomian para petani porang yang cukup banyak di Jawa Timur," ungkap Dwi.

Baca juga: Dua Mahasiswi Kepergok Ngamar Sama Om-om di Hotel Kabupaten Tuban, Tak Bisa Tunjukkan Surat Nikah

Dwi mengungkapkan, kesulitan yang dialami mereka saat mengolah umbi porang adalah karena termasuk jenis tanaman tahunan, sehingga harus menunggu hingga satu sampai dua tahun baru bisa dipanen.

“Selain itu harga tepung porang juga cukup mahal dan harganya di pasaran tidak stabil, sehingga dalam mengolahnya menjadi tepung kami langsung berkerjasama dengan petani untuk membelinya," ucap Dwi.

Untuk cookiesnya, Dwi menjelaskan satu wadah cookiesnya terdapat coco chip membentuk huruf braille hingga membentuk kata-kata motivasi.

"Kami ingin memberikan kesan untuk penyandang tunanetra mendapatkan motivasi dari kata-kata penyemangat dari setiap membeli Co-Man," ungkapnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved