Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang

TERBARU KASUS SUBANG, Kriminolog Sebut Pelaku Orang di Sekitar Korban, Fakta-Fakta ini Menguatkan

Sembilan bulan kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang, Jawa Barat berlalu, penyidik Polda Jabar belum juga mengungkap dalang dan pembunuhnya. 

Editor: Musahadah
kolase kompas tv/tribun jabar
Kriminolog UI Adrianus Meliala menduga pelaku pembunuhan ibu dan anak di Subang adalah orang di sekitar korban. Berikut analisisnya! 

SURYA.CO.ID - Sembilan bulan kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang, Jawa Barat berlalu, penyidik Polda Jabar belum juga mengungkap dalang dan pembunuhnya. 

Padahal, sudah ada 216 alat bukti yang sudah dikumpulkan, serta 121 saksi yang dimintai keterangan baik dibuat dalam berita acara pemeriksaan (BAP) maupun saksi yang diinterogasi di lapangan. 

Mengenai hal ini, Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Maliala beranggapan justru lebih baik polisi belum merilis tersangka, daripada polisi menetapkan tersangka karena diburu dan dipaksa. 

"Itu bahaya juga," kata Adrianus dikutip dari tayangan Buser yang diunggah di channel youtube Liputan 9, Jumat (27/5/2022).  

Menurut Adrianus, kasus ini menarik karena korban dan kemungkinan pelaku bukan orang lain. 

Baca juga: KASUS SUBANG TERBARU, Yosef Akui Terkatung-katung, Mimin Banyak Mengalah, Polisi Bantah Beri Janji

Bukan tanpa alasan Adrianus berpendapat demikian, karena menurutnya korban memiliki lingkungan pergaulan yang sebetulnya kecil, bukan pejabat, pengusaha besarserta bukan orang yang memiliki social hitam.

"Dengan kata lain, lingkungan pergaulannya terbatas. Dapat diduga pelaku pun orang-orang di sekitar korban saja," katanya.

Fakta lain yang memperkuat dugaan ini karena pelaku leluasa melakukan aksinya. 

"Pelaku menguasai betul situasi, kemungkinan pernah kesini. Kemungkinan dikenal korban juga sehingga dia sangat familier. Dia tahu di kanan kiri depan sangat sepi sehingga beranggapan tidak ada orang yang akan mendengar walaupun ada teriakan," ujar Adrianus. 

Menurut Adrianus, waktu enam jam yang dipakai pelaku memungkinkan dia bisa melakukan banyak hal dalam rangka menghilangkan jejak barang bukti. 

Dari keleluasaan itu sangat memungkinkan juga jika ada dugaan korban sempat dibawa dengan mobil lalu masuk lagi. 

Lalu kenapa kalau korban bukan orang lain, polisi kesulitan menemukan link antara korban dan pelaku?

Menurut Adrianus, kondisi ini justru yang membuat menarik kasus ini. 

Karena biasanya kesulitan itu dialami ketika pelakunya random seperti orang yang kebetulan lewat atau musuh korban. 

"Tapi di sini korban hanya ibu rumah tangga baik-baik yang sederhana. Demikian juga anaknya juga tidak memiliki pergaulan yang luas sehingga bisa dipastikan pelaku bukan orang jauh-jauh sebetulnya," katanya.

Kalau sampai sekarang polisi belum menemukan tersangka, Adrianus menduga penyebabnya karena kualitas pemeriksaan dokter forensik dalam rangka memperkirakan penyebab kematian, kapan dan hal lain yang tidak baik sehingga korban harus diotopsi ulang. 

Bahkan, otopsi kedua ini menganulir pendapat dari otopsi pertama. 

"Itu saja bisa memperlambat lho, tadinya polisi berkesimpulan A, gara-gara kesimpulan matinya ternyata, terpaksa berubah," katanya. 

Selain itu, saat pertama polisi datang ke TKP juga penanganannya agak jorok.

"Yang datang siapa saja, semaunya, megang-megang, masuk, ngacak-ngacak sehingga tIdak jelas mana jejak pembunuh dan jejak polisi," katanya. 

Mungkinkan pelaku seorang profesional? 

Menurut Adrianus di kasus ini bisa saja tidak dilakukan oleh profesional.  

Profesional dapat ditutupi dengan perencanaan yang matang, sekaligus punya waktu yang panjang dan waktu mengenal situasi sehingga dia bisa berbuat sepeti seorang profesional.

"Dia tidak pernah membunuh dan tidak punya riwayat itu, tapi karena merencanakan secara matang, apalagi mengenal lokasi, kenal korban, dan punya waktu yang cukup untuk melakukan sesuatu, sehingga itu bisa berbuat seperti laiknya profesional," tandasnya. 

Di bagian lain, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Ibrahim Tompo mengatakan, perkara ini memang belum menunjukkan titik terang. 

Terkait janji pengungkapan yang sebelumnya akan dilakukan di bulan ramadhan lalu, Ibrahim Tompo mengatakan pihaknya cuma bisa memberikan harapan.

"Memang kita cuma bisa memberikan harapan saja, tetapi itu bukan sebuah janji

"Terkait pengungkapan kasus, kita pengen cepat terungkap, namun dengan kendala yang ada kita belum bisa menyelesaikan dan tetap jadi utang bagi kita," katanya. 

Dia berjanji jika kasus ini sudah terungkap pasti akan diinformasikan ke publik, 

"Penyidik sangat bekerja keras. TIdak berhenti update kejadian
Sampai ada 216 alat bukti yang sudah terkumpul, ini termasuk banyak.
Dan ada saksi 121 saksi yang di=BAP maupun yang diinterogasi di lapangan

Kita update terus, bilamana ada petunjuk kita telusuri," tegasnya. 

Lihat video selengkapnya

Nasib Yosef Terkatung-katung 

Mimin Mintarsih, Yosef Hidayah dan Kombes Ibrahim Tompo mengungkapkan soal kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang. Ini kabar terbaru kasus subang!
Mimin Mintarsih, Yosef Hidayah dan Kombes Ibrahim Tompo mengungkapkan soal kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang. Ini kabar terbaru kasus subang! (youtube Liputan 6)

Di bagian lain, Yosef Hidayah, suami dan ayah korban mengaku nasibnya terkatung-katung. 

Hal ini beralasan karena rumah yang biasa ditempati bersama korban Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu kini dibiarkan tak berpenghuni karena menjadi tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan itu.  

"Hidup bapak terkatung-katung, dimana saja
Itu rumah tambah hanvcur, apa akan dibiarkan begitu saja," curhat Yosef dikutip dari tayangan Buser yang diunggah di channel youtube Liputan 6. 

Yosef yang di awal-awal kasus ini dituding sebagai pelaku, mengaku tak terima. 

"Orang yang bersalah berkeliaran enak, tapi orang yang gak bersalah dituduh sebagai pelaku," protes Yosef dengan suara lantang. 

Curhat serupa diungkapkan Mimin MIntarsih, istri kedua Yosef yang di awal-awal kasus juga menjadi sasaran tudingan masyarakat. 

"Saya sadar istri kedua, tapi kan tidak semuanya seperti itu," kata Mimin dalam tayangan yang sama.

Mimin mengungkapkan selama menikah dengan Yosef, dia justru yang paling banyak mengalah.  

"Saya banyak mengalah pak, saya banyak mengalah
Mereka ini, mau kemana, mau apa, saya udah menerima, saya dukung," katanya. 

Mimin juga menerima berapapaun yang diberikan untuknya. 

"Segini, ya udah dijalani, disyukuri, dinikmati," katanya. 

Mimin bersumpah tidak tahu apa-apa tentang kasus pembunuhan yang menimpa istri muda dan anak suaminya. 

Dia justru berharap polisi segera mengungkap kasus ini demi masa depan anaknya. 

Hal ini beralasan karena kedua anaknya juga terseret dalam kasus ini. 

Bahkan keduanya menjadi saksi kasus tersebut.  

"Pak polisi semuaya tolong secepatnya, cepat terungkap, cepat ditangkap, cepat dihukum dengan setimpal.

Kasihan anak-anak di sini. Kami di sini mengambang, belum ada keputusan sampai mau 9 bulan

Tolonglah, masa depan anak-anak saya pak," serunya.

Yosef dan Mimin Makin Dekat

Yosef dan Mimin kembali bersatu meski pembunuh ibu dan anak di Subang belum terungkap.
Yosef dan Mimin kembali bersatu meski pembunuh ibu dan anak di Subang belum terungkap. (istimewa/youtube)

Setelah sembilan bulan berlalu, hubungan Yosef dan Mimin kini kembali dekat. 

Kedekatan Yosef dan Mimin ini terungkap dalam video terbaru yang diunggah channel youtube Koin Seribu 77, Selasa (24/5/2022). 

Saat itu, Yosef bersama Mimin tampak mendatangi Mapolres Subang, Jawa Barat.

Yosef dan Mimin tak sendiri, tapi didampingi Ade Furqon (kakak Mimin) dan Abi Aulia (anak Mimin). 

Kedatangan Yosef dan Mimin ini semakin menegaskan jika mereka kini kembali bersatu. 

Di awal-awal kasus ini, Yosef memilih tidak tinggal di rumah Mimin hingga beberapa bulan untuk menghindari opini negatif terkait kasusnya. 

Meski demikian, hubungan Yosef dan Mimin juga kerap disinggung anak sulungnya, Yoris Raja Amanullah. 

Bahkan, Yoris cenderung menyudutkan Mimin dengan menyebut ibu tirinya itu telah menyakiti hati ibu dan adik kandungnya (Tuti dan Amel). 

Terkait kedatangannya ke Polres, Yosef menyebut bukan untuk diperiksa terkait kasus kematian Tuti dan Amalia, tapi mengurus surat izin mengemudi (SIM).

Kedatangannya ke Polres juga dipakai untuk temu kangen dengan penyidik polisi yang selama ini memeriksanya. 

"Salah satunya kangen juga, banyak kenangan-kenangan dari awal," katanya. 

Diakui Yosef, para penyidik selama ini baik kepadanya, bahkan lebih baik ketimbang kuasa hukumnya, Rohman Hidayah yang pernah mencecarnya sebelum menerima dia sebagai kliennya. 

Di kesempatan itu, Yosef kembali menegaskan bahwa dia tidak tahu menahu atas kejadian pembunuhan yang menimpa istri dan anaknya. 

"Yang namanya orangtua, tetap mendoakan kepada anak dan istri," katanya sambil mengusap matanya. 

Dia berharap kasus ini tidak dipetieskan atau ditutup oleh penyidik.

"Berharap siapapun pelakunya ingin cepat-cepat ditetapkan," tegasnya.

Yosef lalu berkoar meminta pertanggungjawaban kepada seorang saksi yang telah menyudutkan dan memframing dia dari awal sampai saat ini.

Bahkan dia meminta saksi ini mempertanggungjawaban tuduhannya di depan publik karena tuduhan-tuduhan yang disampaikan sudah diketahui banyak orang di tingkat nasional hingga internasional. 

"Saya minta jawaban yang sebenarnya. Ini tuduhan yang sangat dahsyat.

Semoga dia mempertanggungjawabkan. Dia itu memframing, buka aib, mencemarkan nama baik saya.
Segala sesuatu yang diucapkan itu berbohong-berbohong dan dusta," tegasnya. 

Meski tidak menyebut siapa saksi yang dimaksud, namun banyak pihak yang menyebut jika saksi ini adalah Muhammad Ramdanu alias Danu. 

Hal ini beralasan karena di beberapa kesempatan Yosef selalu menyebut Danu telah memfitnahnya. (tribun jabar/berbagai sumber)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved