Kisah Para Penggerak Dunia Pendidikan dari Bumi Wali

Pusat Belajar Guru (PBG) Tuban didirikan pada 2014 atas inisiatif dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas.

Editor: Cak Sur
Istimewa
Eti sedang menerangkan peralatan kelistrikan di Laboratorium MIPA Pusat Belajar Guru Tuban 

SURYA.CO.ID, TUBAN - Pendidik merupakan salah satu tumpuan mewujudkan pendidikan terbaik. Sebagai penggerak ekosistem pendidikan, pendidik harus memiliki daya lenting untuk mengembangkan metode pendidikan terbaik. 

Itulah yang diyakini Eti Wahyuni, guru SMP Negeri 7, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Perempuan 51 tahun ini berpandangan, guru harus bertumbuh secara kualitas dan kompetensi jika menginginkan kemajuan dalam pendidikan.

Visi tersebut mendorong Eti bersama 43 aktivis pendidikan lainnya aktif di Pusat Belajar Guru (PBG). Sebuah organisasi sekaligus ekosistem belajar bagi para guru. Di PBG Tuban, para guru berkumpul, berbagi ilmu dan pengalaman.

Penggeraknya para guru sendiri. Ada yang disebut Guru Ahli, yaitu; guru yang telah mendapatkan berbagai pelatihan dan mendalami keahlian tertentu. Hingga kini, sebanyak 28 Guru Ahli berkarya di PBG Tuban. Dalam pengelolaan sehari-hari, terdapat 16 pengelola dan dua tenaga administrasi dan kebersihan.

“Sebutan Guru Ahli bukan berarti kami lebih ahli dari yang lain. Karena kami pun terus belajar dengan sesama guru lainnya,” ungkap Eti, salah satu Guru Ahli sekaligus Ketua PBG Tuban. Eti menjelaskan, pendidikan selalu berkembang dipengaruhi perkembangan zaman, teknologi, dan manusia itu sendiri. Jadi, tidak ada metode pendidikan yang absolut. Maka guru harus berpikir terbuka menghadapi perubahan.

PBG Tuban didirikan pada 2014 atas inisiatif dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas. Berbagai pelatihan guru mulai dari jenjang pendidikan dini hingga SMA dilaksanakan. “Keberadaan PBG Tuban sangat membantu kami. Tidak hanya belajar, tapi juga berjejaring dan saling menguatkan,” ujar Vera, guru SMA Negeri 1 Plumpang. 

Sejak aktif di PBG, Vera telah menulis dua buku. Sama halnya dengan Rina, guru SMA Negeri 1 Tuban. Rina mengaku sangat termotivasi untuk terus berkarya. Lingkungan yang produktif di PBG Tuban telah membuatnya aktif menulis. Mulai artikel, jurnal, hingga buku.

Sebanyak 44 buku telah ditulis para guru anggota PBG Tuban dan diterbitkan menjadi referensi dunia pendidikan. Beberapa diterbitkan ulang, hingga keseluruhan sudah 18 kali penerbitan. Para guru juga aktif menulis jurnal ilmiah, baik di level nasional maupun internasional.  Program Satu Guru Satu Buku (Sagu Sabu) adalah program andalan dengan tujuan mendorong para guru untuk bisa menulis. Para guru menyadari bahwa menulis itu penting. Namun belum semuanya bisa menulis secara rutin.

“Dengan slogan Jadi Bisa, Jadi Luar Biasa, kami membudayakan menulis sebagai bagian dari cara guru berkontribusi untuk dunia literasi,” ucap Rina.

Dukungan Pemerintah 

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved