KKB Papua

UPDATE KKB Papua, Firasat Ayah Pratu Mar Dwi Miftahul Akhyar di Lamongan, Tak Bisa Tidur Semalaman

Meninggalnya seorang prajurit Praka (Anumerta) Dwi Miftahul Akhyar (26) warga Kelurahan Babat, Lamongan, menyisakan suasana duka di pihak keluarga

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: irwan sy
hanif manshuri/surya.co.id
Ibunda Praka (Anumerta) Dwi Miftahul Akhyar, Rumina (baju warna coklat garis putih), masih syok didampingi anggota keluarga di rumah duka di Kelurahan Babat, Lamongan, Minggu (24/4/2022). Anak Rumina gugur saat menjalankan tugas di Papua. 

Berita Lamongan

SURYA.co.id l LAMONGAN - Meninggalnya seorang prajurit Praka (Anumerta) Dwi Miftahul Akhyar (26) warga Kelurahan Babat, Lamongan, Jawa Timur menyisakan suasana duka di pihak keluarga.

Surya.co.id pagi hari ini menemui tiga anggota keluarga, bapak korban, Sartono (50), kakak korban, Yanta (32). Guru kelas korban, Sukarni dan 2 tetangga korban, Harsono dan Saroh.

Semua memberikan kesaksian yang sama, bahwa semasa hidup almarhum adalah orang baik.

Menurut kaka korban, Yanta ada perubahan pada adiknya pada dua bulan terakhir sebelum meninggal.

Almarhum kerap meminta bantuan kakaknya untuk membagikan uang yang dikirimnya dari Papua untuk keluarga, teman dan beberapa orang yang sakit di Babat.

"Akhir-akhir ini sering memberi sedekah. Saya sering disuruh untuk menyerahkan," ungkap Yanta kepada Surya.co.id, Minggu (24/4/2022).

Bahkan, menurut Yanta, uang yang ditransfer melalui rekeningnya itu dinilainya teramat sering dan jumlahnya juga cukup banyak.

"Lhok kok banyak, ini kan belum Idul Fitri," kata Yanta pada sang adik.

Namun berulangkali Miftah (almarhum) menjawab, ia sedang dapat banyak tambahan uang. Dan tambahan itu diniatkan semua untuk disedekahkan.

"Gak, gak popo mas, aku dapat tambahan uang banyak. Tolong itu bagikan untuk orang- orang di rumah, teman, tetangga dan keluarga yang sakit," kata Yanta mengutip jawaban  Miftah.

Kebaikan almarhum diakui Yanta bukan semasa jadi abdi negara.

Sejak kecil sampai berhasil masuk TNI AL, Miftah tetap baik, santun dan sederhana.

Firasat yang berbeda dirasakan orangtuanya, Sartono, bapak almarhum ini mengakui hanya tidak bisa tidur nyenyak pada Jumat malam sampai ada kabar kalau anaknya telah meninggal oleh kekejaman KKB.

"Saya semalam itu susah tidur, tidak seperti biasanya. Tahu-tahu kemudian ada kabar kalau Mif (panggilan korban) meninggal karena KKB," ungkapnya.

Sartono benar merasa sedih kehilangan sang putra yang masih lajang itu.

Dia diakui sebagai anak yang baik.

Sejak kecil hingga dewasa dan menjadi anggota TNI, akhlaknya tetap, dia santun dan baik dengan semua orang.

"Kalau pulang maupun hendak berangkat tugas selalu pamit dan jabat tangan dengan para tetangga, termasuk dengan keluarga," katanya.

Mif, katanya, punya rencana juga akan mengumpulkan teman- teman sekolahnya ketika sudah pulang dari tugas di Papua.

"Anak itu baik, santun sama semua orang," kata Sartono.

Bahkan, almarhum belum berencana untuk menikah karena ingin melanjutkan sekolah sebagai seorang tentara.

"Dia belum, belum punya pacar. Dia tidak mikir itu, karena maunya hanya ingin sekolah dulu," ungkapnya.

Sartono berharap kejadian yang dialami anaknya menjadi insiden terakhir.

Kberadaan KKB segera bisa diselesaikan.

Doa dari semua orang untuk anaknya sangat ia harapkan.

"Semoga khusnul khotimah," ujarnya.

Ia juga memohon maaf pada semua teman, dan orang yang kenal dengan almarhum untuk dimaafkan.

Hingga berita dikirim, ibu almarhum, Rumina belum biasa diajak bicara, ia masih shock dan hanya berucap berulangkali kalau anaknya masih sehat.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved