Minggu, 12 April 2026

Berita Tulungagung

Sampel Takjil di Tulungagung pun Di-Rapid Test, Hasilnya? Positif Cat Kain, Boraks dan Formalin

Terkait makanan yang mengandung bahan berbahaya dari luar kota, Masduki akan bersurat ke dinas kesehatan asal makanan itu.

Penulis: David Yohanes | Editor: Deddy Humana
surya/david yohanes
Kerupuk singkong asal Trenggalek yang terindikasi mengandung pewarna tekstil rhodamin B dari pemeriksaan Dinkes Tulungagung, Jumat (8/4/2022). 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Pelaksanaan tes cepat alias rapid test tidak hanya dilakukan pada manusia, tetapi juga pada makanan yang dijual sebagai takjil pada bulan Ramadhan ini. Dinas Kesehatan telah mengambil 106 sampel takjil yang dijual di seluruh wilayah Tulungagung, Jumat (8/4/2022) sore.

Pengumpulan sampel takjil ini melibatkan 19 Puskesmas yang ada di setiap kecamatan. Dan hasilnya, ada empat makanan yang positif, tetapi bukan positif Covid-19. Melainkan positif terindikasi mengandung bahan berbahaya.

"Tahun ini memang jangkauannya kami perluas dengan menggandeng Puskesmas-Puskesmas. Yang terbanyak memang dari wilayah kota," terang Kasi Farmasi dan Perbekalan Kesehatan Dinkes Tulungagung, Masduki.

Empat makanan yang terbukti mengandung zat berbahaya adalah kerupuk pasir, kerupuk puli, kerupuk singkong dan sirup. Kerupuk pasir, kerupuk singkong dan sirup mengandung rhodamin B atau pewarna kain. Sedangkan kerupuk puli mengandung pengawet boraks. "Baik rhodamin B dan boraks adalah zat berbahaya yang tidak boleh ada di makanan sedikit pun," sambung Masduki.

Selain dua zat itu, dua zat lain yang dilarang adalah formalin dan metanil yellow. Formalin biasa ditemukan di bahan pangan yang perlu diawetkan, seperti mie dan ikan asin. Sedangkan metanil yellow sama seperti rhodamin, adalah pewarna tekstil.

Namun dalam sampel yang diuji kali ini tidak ditemukan dua bahan berbahaya itu. Kerupuk pasir diketahui berasal dari Lodoyo Kabupaten Blitar, sedangkan kerupuk puli dari Kabupaten Lumajang. Sementara kerupuk singkong dari Trenggalek, dan sirup dari Desa Plandaan, Kecamatan Kedungwaru.

Untuk memastikan kandungan, seluruh sampel yang dicurigai akan diuji di laboratorium. "Ini kan tes cepat atau rapid test. Untuk memastikan memang harus di laboratorium," tegas Masduki.

Terkait makanan yang mengandung bahan berbahaya dari luar kota, Masduki akan bersurat ke dinas kesehatan asal makanan itu. Diharapkan dinkes asal produsen makanan itu juga melakukan pembinaan. dan seluruh makanan yang positif juga harus ditarik dari peredaran.

Diakui Masduki, jumlah sampel yang ditemukan mengandung bahan berbahaya terus menurun. Tahun lalu ada dari 31 sampel ditemukan lima makanan positif, yaitu kerupuk pasir, kerupuk puli, sirup, sate usus dan cecek (olahan kulit sapi).

"Sebenarnya produsen makanan sudah banyak yang sadar resiko penggunaan bahan berbahaya ini. Namun kesadaran ini perlu terus diperluas," tegas Masduki.

Yang memprihatinkan bagi Masduki, masyarakat sebagai konsumen belum masih rendah kesadarannya. Mereka banyak memilih makanan dengan warga mencolok. Padahal warna mencolok salah satu indikasi makanan tersebut mengandung bahan pewarna tekstil. "Kerupuk pasir misalnya, justru yang laris yang warna-warna ngejreng. Yang putih polos malah gak laku," ungkap Masduki.

Untuk memastikan keamanan pangan, Masduki menyarankan masyarakat membeli makanan yang sudah dilengkapi label produksi seperti PIRT. Sebab produsennya jelas dan tanggung jawabnya juga jelas.

Jika produsen kedapatan menambahkan bahan berbahaya, beresiko pemasaran produknya hancur dan terjerat hukum. Selain itu masyarakat diminta untuk menghindari makanan dengan warna mencolok.

Sebab warna mencolok indikasi penggunaan pewarna kimia, bukan pewarna makanan. "Khusus untuk boraks memang butuh indera pengecap atau rapid test," pungkas Masduki. *****

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved