SOSOK Fithra Faisal Hastiadi, Ekonom & Eks Wamendag yang Kritisi Mendag Pakai Cara Purba Atasi Migor

Sosok Fithra Faisal Hastiadi, ekonom Universitas Indonesia sekaligus eks Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) yang mengkritisi Mendag Muhammad Lutfi.

Editor: Iksan Fauzi
Kolase Kompas.com/Tribunnews.com
Mendag Muhammad Lutfi. Foto kanan : ekonom UI, Fithra Faisal Hastiadi. Sosok Fithra Faisal Hastiadi yang mengkritisi cara purba dilakukan Mendag dalam mengatasi kelangkaan minyak goreng. 

SURYA.co.id - Sosok Fithra Faisal Hastiadi, ekonom Universitas Indonesia sekaligus eks Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) yang mengkritisi Mendag Muhammad Lutfi.

Kritikan dilontarkan Fithra terhadap kebijakan Mendag yang memberikan subsidi ketika terjadi kelangkaan minyak goreng.

Menurutnya, strategi yang dipakai Lutfi merupakan cara purba di era digital seperti sekarang ini.

Hal itu karena resiko kegagalan dinilainya terlalu tinggi.

"Saya sudah bilang, subsidi ini adalah kebijakan purba di era digital. Mahasiswa semester satu kalau kita bicara subsidi, ini adalah kebijakan yang secara empiris yang sering gagalnya,"

"Apalagi strategi subsidi ini tidak bisa dikontrol polusinya," kata Fithra dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam TvOneNews, Kamis (17/3/2022).

Fithra juga memberikan perbandingan strategi subsidi minyak goreng dengan negara Malaysia.

Menurutnya, subsidi minyak goreng Malaysia berhasil karena sudah lama ada dan rintangan geografis dinilai tidak sekuat di Indonesia.

"Sekarang di Malaysia dijual Rp 8.500 karena subsidi, kenapa di kita tidak berhasil? ya karena di sana sudah lama existing. Juga rintangan geografisnya tidak sekuat kita," jelasnya.

Alih-alih memberikan subsidi yang menurutnya tidak jelas dan pasti gagal, fithra memberi solusi berupa impor dengan melihat arbitrage (praktik memperoleh keuntungan dari perbedaan harga yang terjadi di antara dua pasar keuangan).

Sehingga pemerintah bisa membentuk dan memiliki kuasa supply yang pada akhirnya akan menipiskan harga minyak goreng.

"Karenanya dalam international economics ada namanya arbitrase, ketika kita bicara arbitrase kita bisa mengimpor yang ada di situ,"

"Sehingga kita memilki kuasa suppy di sini,"

"Dibanding memberi subsidi untuk hal yang tidak jelas dan pasti gagal, kita bentuk kuasa supply sehingga memberikan efek distribusi yang pada akhirnya itu akan menipiskan harga itu," jelas Fithra.

Halaman
1234
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved