Geliat UMKM di Bekas Dolly Surabaya

Mantan Buronan Sukses Jadi Pengusaha Tempe, Warga Eks Dolly Surabaya Segera Luncurkan Produk Baru

Jarwo (40) menjadi satu di antara ratusan warga Putat Jaya yang terdampak penutupan kawasan lokalisasi Dolly pada pertengahan 2014.

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: irwan sy
Luhur Pambudi/TribunJatim.com
Jarwo (40) menjadi satu di antara ratusan warga Putat Jaya yang terdampak penutupan kawasan lokalisasi Dolly pada pertengahan 2014. Kini, Jarwo jadi pengusaha tempe. 

Modal pertama yang ia gunakan untuk membeli bahan baku tempe dari kacang kedelai hanya Rp180 ribu.

Uang itu juga bukan murni uangnya sendiri.

Melainkan diperoleh dari teman-teman dan anggota keluarganya selama pelarian, karena merasa iba dengan nasib Jarwo yang terlunta-lunta.

Jumlah uang itupun juga tak cukup membeli sejumlah bahan mentah untuk proses produksi.

Untungnya, sang kakak ipar masih mau membantu.

Jarwo akhirnya diberi pasokan kacang kedelai yang cukup untuk melakukan produksi tempe untuk yang pertama kali.

Mulai saat itu, ia menggunakan istilah nama 'Tempe Dolly' sebagai brand dari produk UMKM yang baru dirintisnya, sebagai warga kawasan eks lokalisasi.

"Saya jajakan sekeliling sini naik sepeda pancal. Mulai jam 15.00 -17.00 aja," celetuknya.

Meski bisnisnya itu, sudah mulai berjalan. Jarwo mengaku sempat merasakan perasaan gamang dan frustasi.

Penyebabnya, ternyata fisik Jarwo selalu kelelahan karena aktivitas produksi mengupas kulit kacang secara manual, menginjak-injak butiran kedelai, cenderung menguras tenaga.

Ia mengaku nyaris menyerah dengan keadaan tersebut. Hingga sampai pada suatu jawaban bahwa solusi dari masalahnya itu, dapat diatasi dengan bantuan Pemkot Surabaya.

Apalagi saat itu, Pemkot Surabaya memberikan sejumlah pelatihan UMKM kepada warga Putat Jaya yang merasa terdampak penutupan Gang Dolly.

Kesempatan itu, tak cuma dimanfaatkan Jarwo untuk menambah ilmu pengetahuan seputar pengembangan bisnis UMKM bagi rumah produksi tempenya. Ia malah selangkah lebih maju, yakni meminta bantuan alat penggilingan pengupas kulit kacang kedelai agar memudahkan kerjanya memproduksi tempe.

Itu dikabulkan oleh pihak Pemkot Surabaya.

"Saya minta mesin giling sama pak lurah dan pak camat, disurvei, seminggu baru di-acc. Tapi saya enggak berani ambil mesinnya, karena momennya masih penutupan, saya takutnya malah ditangkap," ungkapnya.

Selain diberikan bantuan alat produksi. Jarwo juga diberi pendampingan usaha dari para mahasiswa yang melakukan praktik kerja lapangan di permukiman eks Dolly.

Dari situlah, akhirnya ia mulai mengubah nama brand penyebutan produk tempenya itu menjadi 'Tempe Bang Jarwo'.

Brand tersebut dianggap membawa keberuntungan.

Selain karena penyebutan terdengar lebih gaul dan membumi, nama baru tempe buatan Jarwo itu sekaligus juga menjadi simbol yang ingin melepas stigma negatif dari kata Dolly yang terlanjur melekat kuat diingatan masyarakat di luar kawasan Putat Jaya.

"Sempat diganti nama sama pak lurah, karena Dolly sudah tutup, nama Tempe Dolly dibranding ulang Tempe Mandiri Jaya, lalu diajak pameran ke balai kota, ternyata sepi. Akhirnya ada pendampingan mahasiswa, dari pihak kecamatan," terangnya.

Penghasilan Jarwo dari rumah produksi tempenya itu terbilang fantastis.

Sebelum adanya harga kedelai yang fluktuatif dan pandemi, kurun waktu sebulan, ia bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 12 juta.

Kondisi pandemi yang menyebabkan munculnya kebijakan PPKM beberapa waktu lalu, juga membuat penghasilannya menurun menjadi Rp 9 juta.

Apalagi, ditambah dengan lonjakan harga kedelai, penghasilannya makin drastis anjlok yakni sekitar Rp 6 juta sebulan.

Karena Jarwo terpaksa tidak menaikan harga, agar para pembelinya tidak kabur ke produsen lain, meski harga bahan bakunya naik.

"Ya saya berusaha aja, agar bisa memutar modalnya, sedikit-sedikit rezekinya gak apa-apa, dibanding berhenti sama sekali," jelasnya.

Kendati demikian, Jarwo tetap bersyukur, meski dirinya masih harus berupaya ikut serangkaian aksi protes penolakan kenaikan harga kedelai yang terjadi beberapa waktu lalu.

Ia mengaku masih bisa menjalankan roda produksi pembuatan tempenya.

Apalagi banyak pihak yang bergantung dengan bisnis tempenya.

Sekitar 15 orang tetangganya dari kalangan ibu-ibu rumah tangga, biasa membuat produk UMKM lain berbahan tempe untuk olahan jajanan nugget.

Selain itu, ada juga olahan sambel goreng tempe.

"Bahkan saat ada tsunami di Donggala 2018 silam, Bu Risma pesan 1.000 pack tempe untuk warga korban bencana," ungkap pria yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) eks lokalisasi Dolly itu.

Keberhasilan Jarwo mengubah nasibnya dan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya menjadi lebih baik, sempat diabadikan dalam sebuah buku biografi yang ditulis Founder Kampoeng Dolanan, Mustofa Sam, yang juga merupakan pendamping Jarwo merintis usaha.

Dirikan Pokdarwis
Meski kondisi pandemi seperti saat ini, juga memukul sektor UMKM warga eks lokalisasi yang baru dirintis. Jarwo tak patah arang untuk tetap survive.

Bersama semua stakeholder pelaku UMKM warga eks lokalisasi.

Jarwo membuat sebuah paguyuban Pokdarwis untuk mendongkrak penjualan produk-produk UMKM buatan warga eks lokalisasi, yakni dengan menyediakan paket layanan wisata edukasi ke perkampungan eks lokalisasi.

Terdapat tiga paket layanan wisata edukatif.

Paket pertama seharga Rp 20 ribu, untuk paket jalan-jalan saja menyusuri enam spot UMKM besar di perkampungan eks lokalisasi.

Kemudian, paket kedua seharga Rp 65 ribu, untuk layanan kunjungan ke semua spot UMKM local legend dengan melibatkan pemandu untuk memberi informasi seputar wawasan kesejarahan kawasan eks lokalisasi.

Dan, paket ketiga seharga Rp 165 ribu. Yakni tak cuma menawarkan layanan jalan-jalan dan panduan guide, peserta wisata juga akan diberikan workshop pembuatan produk UMKM unggulan di sana.

"Alhamdulillah sudah mulai sejak pandemi kemarin. Ada 6-7 kunjungan dari kalangan kampus. Awal-awal kami gratiskan, kami ingin tunjukkan kalau di saat pandemi UMKM di eks Dolly masih hidup," katanya.

Meski hampir satu dekade Gang Dolly ditutup, Jarwo berharap pihak Pemkot Surabaya tetap melakukan pendampingan dan monitoring secara berkala terhadap puluhan UMKM warga eks lokalisasi.

Jarwo sendiri mengaku, pihaknya bekerja sama dengan para tetangga sedang berupaya mengembangkan olahan jajanan lain berbahan tempe.

Rencananya, produk-produk baru akan bermunculan ke depannya, seperti olahan krupuk, bumbu pecel, olahan kacang-kacangan dan sebagainya.

Bahkan, ia juga sempat berandai-andai, bahwa Pemkot Surabaya bakal menerapkan kebijakan Car Free Day in Ex Dolly setiap momen tanggal merah di sepanjang jalan utama Kelurahan Putat Jaya.

Masyarakat warga eks lokalisasi yang kini bergerak di bidang UMKM, memiliki pasar penjualan yang pasti dan baku untuk menjajakan produk-produknya.

"Sekarang menyebut nama Dolly sudah berani. Kalau dulu zaman saya kecil enggak berani. Apalagi perempuan, malah enggak berani. Sekarang sudah berani," pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved