Geliat UMKM di Bekas Dolly Surabaya

Mantan Buronan Sukses Jadi Pengusaha Tempe, Warga Eks Dolly Surabaya Segera Luncurkan Produk Baru

Jarwo (40) menjadi satu di antara ratusan warga Putat Jaya yang terdampak penutupan kawasan lokalisasi Dolly pada pertengahan 2014.

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: irwan sy
Luhur Pambudi/TribunJatim.com
Jarwo (40) menjadi satu di antara ratusan warga Putat Jaya yang terdampak penutupan kawasan lokalisasi Dolly pada pertengahan 2014. Kini, Jarwo jadi pengusaha tempe. 

Berita Surabaya

SURYA.co.id | SURABAYA - Jarwo (40) menjadi satu di antara ratusan warga Putat Jaya yang terdampak penutupan kawasan lokalisasi Dolly pada pertengahan 2014.

Padahal, lebih dari 15 tahun lamanya ia menggantungkan hidup dari aktivitas di sekitar gang Jalan Kupang Gunung Timur 1, yang menjadi 'Ring 1' bisnis 'esek-esek' terbesar se-Asia Tenggara itu.

Jarwo membuka lapak dagangan dengan memanfaatkan gerobak untuk menjajakan minuman ringan seperti kopi, jajanan kemasan, hingga rokok.

Tak sendirian. Seluruh anggota keluarganya; dua orang kakak Jarwo, juga ikut keranjingan mereguk untung berjualan dengan cara serupa di kawasan Gang Dolly itu.

Jarwo bersaudara, membuka lapak secara tersebar.

Luasnya cakupan wisma-wisma di seantero kawasan Jalan Kupang Gunung hingga Jalan Jarak, bak tambang emas yang tak pernah habis mengeluarkan cuan.

Bagaimana tidak. Meski menjual rokok atau minuman ringan dengan harga sedikit lebih mahal, ketimbang harga pasaran, tetap saja ludes terbeli.

Romantisme masa lalu yang terjadi hampir satu dekade silam, diakui Jarwo, manis-manis kecut, bila kembali dikenang.

Meski keberadaan Gang Dolly dan Jarak memudahkannya memperoleh uang untuk menyambung kehidupan.

Bila dipikir-pikir, tak elok juga, terus-terusan mengandalkan penghidupan melalui aktivitas bisnis yang bersifat ilegal dan terbilang melanggar norma sosial.

Apalagi kalau mengingat-ingat rentetan kejadian beberapa bulan sebelum momen penutupan Dolly dideklarasikan oleh pembacaan janji dari 91 eks PSK dan muncikari di Gedung Islamic Center, Rabu (18/6/2014) silam.

Jarwo hanya bisa geleng-geleng kepala seraya menepok jidat.

Pasalnya, beberapa bulan sebelum hari deklarasi itu, ia menjadi satu di antara belasan aktor penggerak massa dari ratusan warga Dolly untuk getol menolak penutupan lokalisasi.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved