Penanganan Covid

Omicron di Surabaya Banyak Serang Anak, Ini yang Harus Dilakukan

Angka kasus Covid-19 varian Omicron di Kota Surabaya terus bertambah. Meski begitu, angka kesembuhan jauh lebih bahyak

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Fatkhul Alami
Surabaya.tribunnews.com/Nuraini Faiq
Anggota Komisi D DPRD Surabaya Tjutjuk Supariono mendorong harus makin ditingkatkan integrasi UKS dengan Puskesmas di Surabaya 

SURYA.co.id | SURABAYA - Angka kasus Covid-19 varian Omicron di Kota Surabaya terus bertambah. Meski begitu, angka kesembuhan jauh lebih bahyak. Yang perlu mendapat perhatian, peningkatan Covid-19 itu ternyata banyak yang menjangkiti usia anak.

Sejumlah sekolah memberlakukan pembelajaran daring setelah ada siswa yang terpapar Omicron.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya Tjutjuk Supariono mendorong harus makin ditingkatkan integrasi UKS dengan Puskesmas di Surabaya.

Tjutjuk yang merupakan Ketua Fraksi PSI DPRD Surabaya menyebutkan, laporan ditemukan kasus Omicron yang menjangkit anak-anak usia 5-17 tahun cukup tinggi, lebih dari 17 persen.

"Saya minta fungsi dan fasilitas UKS di setiap sekolah lebih dimaksimalkan lagi. Perlu adanya integrasi antara UKS dan Puskesmas, khususnya untuk menggalakkan testing dan tracing di sekolah,” ujar Tjutjuk, Minggu (27/2/2022).

Di saat siswa menunjukkan gejala saat berada di sekolah, siswa harus dikeluarkan dari kelas dan ditempatkan di UKS sampai orang tua atau wali dapat menjemput mereka.

Selanjutnya, pihak UKS sekolah memberikan surat rujukan ke Puskesmas untuk melakukan swab antigen secara gratis.

Jika hasil tes negatif, siswa dapat kembali ke sekolah. Jika positif, siswa harus isoman dan sekolah perlu untuk tutup sementara, sekaligus dilakukan tracing.

Dengan menggalakkan testing dan tracing di sekolah, Tjutjuk yakin lonjakan kasus di sekolah dapat ditekan.

Menurutnya, pilihan untuk menutup sekolah secara masif dan mengembalikan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) merupakan pilihan akhir. Sebab, varian Omicron ini memiliki gejala yang ringan dan mirip dengan flu biasa.

Selain itu, PJJ yang berkepanjangan sebelumnya terbukti menurunkan kompetensi belajar siswa (learning loss), sehingga menjadi penting bagi siswa untuk melakukan pembelajaran tatap muka (PTM).

Perlu digalakkan outdoor learning. Dengan memperbanyak kelas outdoor, maka siswa mendapatkan aliran udara yang baik dan alami.
Selain itu, pembelajaran di luar kelas memiliki resiko yang rendah dalam penularan Covid-19 jika dibandingkan dengan pembelajaran di dalam kelas.

"Sistemnya bisa dibuat mix, misalnya 3 hari di dalam kelas dan 2 hari di luar kelas,” saran Tjutjuk.

Tjutjuk menghimbau agar orang tua waspada dan terus membimbing anak-anaknya untuk melaksanakan protokol kesehatan. Meskipun sebagian kasus Omicron memiliki gejala yang ringan, namun orang tua tidak boleh menyepelekan situasi ini.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved