Berita Surabaya
Eri Cahyadi Gabungkan Kader Kesehatan dan Lingkungan Jadi "Kader Suroboyo"
Kader Suroboyo, terobosan walikota Eri Cahyadi demi menghilangkan sekat perbedaan antar Kader di Kota Pahlawan.
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Rudy Hartono
SURYA.co.id|SURABAYA - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kembali membuat terobosan di lingkungan kader Surabaya. Sejumlah kelompok kader yang selama ini dibentuk Wali Kota sebelumnya, Tri Rismaharini, kini disatukan dalam "Kader Suroboyo".
Terobosan ini demi menghilangkan sekat perbedaan antar Kader di Kota Pahlawan. Sebab menurutnya, banyaknya Kader di Surabaya yang berkecimpung pada masing-masing bidang, justru berpotensi menimbulkan persaingan.
Hal ini disampaikan pada pengarahan kepada karyawan dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Senin (21/2/2022). Ini dilakukan secara virtual.
"Saya nyuwun tulung (minta tolong) semua kader yang ada di Surabaya, Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), lurah dan camat, hari ini tidak ada lagi kader yang beda-beda di Surabaya. Sebab, menimbulkan rasa persaingan yang sangat luar biasa," katanya.
Untuk diketahui, Surabaya memiliki kader dalam berbagai fungsi. Misalnya, Ibu Pemantau Jentik (Bumantik) sebagai kader yang bertugas mengantisipasi lonjakan angka Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kemudian, ada juga kader posyandu yang bertugas menimbang balita, penyuluhan, pemberian vitamin, pencatatan dan pelaporan bahkan kunjungan jika terdapat balita tak hadir. Serta, kader lingkungan dan kader lainnya.
Selama ini, Wali Kota Eri Cahyadi menyebut, kader di Surabaya bertugas membantu pemkot dan terbagi dalam berbagai bidang. Namun ternyata, tidak semua aktif.
Rencananya, setelah digabungkan maka kader akan dibagi tiap RT. "Seleksi mana yang aktif dan jadikan kader. Karena saya minta mulai Maret, setiap RT minimal ada 2 kader," tegas dia.
Setelah digabungkan, mereka akan membantu pemkot menyelesaikan berbagai masalah sekaligus. Misalnya, permasalahan lingkungan, bayi stunting, hingga kemiskinan.
"Mereka akan mengurusi lingkungan atau orang miskin, bisa memasukkan data bayi stunting. Sehingga namanya bukan lagi kader (lingkungan / kesehatan), tapi Kader Suroboyo," jelas dia.
Namun demikian, mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya itu juga mengingatkan kepada lurah dan camat agar tidak membebankan tugas dan tanggung jawab kepada para kader. Sebab, beban dan tanggung jawab itu tetap berada pada ASN.
"Yang perlu diingat oleh rekan-rekan kecamatan dan kelurahan, jangan itu kemudian tugasnya dibebankan ke kader. Bebannya tetap ada pada ASN, tetapi kita dibantu dengan kader-kader," pesan dia.
Selain menghapuskan sekat perbedaan antar kader di Kota Pahlawan, Cak Eri Cahyadi juga ingin menghapuskan stigma perbedaan pada seluruh Perangkat Daerah (PD) di lingkungan Pemkot Surabaya.
"Karena tidak ada dinas yang paling hebat, semuanya sama. Karena itu, sekat antar bidang juga saya hilangkan. Nah, sekarang sekat antar kader saya hilangkan," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kader-kesehatan-di-surabaya.jpg)