Sambang Kampung
Warga RW 4 Jemur Wonosari Kota Surabaya Sulap Lahan Kosong Jadi Kebun Tanaman Sayur
Sejak 2 bulan lalu setelah greenhouse KRPL SERPIS menggunakan Teknologi Urban Farming berbasis Internet of Things (IoT)
Penulis: Zainal Arif | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Berbekal kemampuan bercocok tanam yang diperoleh secara otodidak.
Ibu-ibu di RW 4 Kelurahan Jemur Wonosari, Kecamatan Wonocolo Kota Surabaya berhasil memanfaatkan lahan kosong menjadi tempat menanam berbagai macam jenis sayuran.
Sebelumnya, Ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok tani Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Sereh dan Jeruk Nipis (Serpis) menanam tanaman sayur di lahan kosong di RW-nya.
Namun, dikarenakan pemilik tanah hendak memakai lahan kosong tersebut, kelompok tani KRPL Serpis kemudian pindah lokasi dengan memanfaatkan lapangan Fasum RW 10 Kelurahan Jemur Wonosari sebagai tempat menanam sayur selanjutnya.
Ketua Kelompok Tani KRPL SERPIS, Yuni mengaku sempat mengalami kendala saat awal kepindahan akibat terkendala suhu panas Kota Surabaya.
"Suhu di lapangan Fasum ini sangat panas, jadi awal kami menanam disini banyak yang mati, bisa sampai 50 persen lebih," ujar Yuli kepada SURYA.co.id, Senin (24/1/2022).
Namun semua itu berubah sejak 2 bulan lalu setelah greenhouse KRPL SERPIS menggunakan Teknologi Urban Farming berbasis Internet of Things (IoT) ciptaan dari mahasiswa Universitas Kristen Petra.
Baca juga: Proyek Kereta Gantung di Kota Batu Menunggu Kepastian dari Kementerian Perhubungan
Dengan memanfaatkan dua unit panel tenaga surya yang sudah ada, kini kelompok tani bisa melakukan penyemprotan dan pengukuran kelembapan tanah secara otomatis melalui aplikasi android.
"Apabila tanah kering, kami bisa menyalakan air dengan hanya menekan on pada aplikasi Serpis sesuai dengan green house yang tanamannya membutuhkan air," ujarnya.
Meski begitu, Kelompok Tani yang beranggotakan 30 orang ini tetap membagi jadwal pengecekan tanaman sayur ke lokasi.
Dimana setiap harinya ada 4-5 orang yang bertugas merawat dan memastikan semua tanaman diberi nutrisi yang cukup.
Dengan sistem otodidak, warga kini telah memiliki aneka tanaman sayuran seperti sawi hijau, kangkung, selada air, bok choy, selada Romaine, cabai, terong, tomat yang ditanam secara organik hingga hidroponik.
“Alhamdulilah tanaman sekarang tumbuh subur, besar dan segar. Banyak sekali yang berminat membeli hasil panen kami. Paling jauh ada dari Tulungagung Jawa Timur," ungkapnya.
“Karena kami menanamnya dengan sistem rotasi, setiap minggu kami selalu memanen sayuran namun tetap harus 30-40 hari dari masa tanam. Sekali panen bisa sampai 30 kilogram,” tambahnya.
Kedepannya, Yuni berharap KRPL Serpis menjadi tempat wisata edukasi sayur hidroponik yang dapat menjadi destinasi para wisatawan yang ingin belajar menanam tanaman hidroponik.