Breaking News:

UPDATE Anak Kiai di Jombang Buronan, ISNU Jatim Beri Pesan ke Tersangka Pencabulan Santriwati: Taati

Kasus dugaan pencabulan santriwati yang menjerat MSA (41), anak kiai di Jombang memancing reaksi sejumlah pihak. 

kolase dok.surya
Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur, KH Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans menyoroti kasus dugaan pencabulan santriwati anak kiai di Jombang. 

SURYA.CO.ID, JOMBANG - Kasus dugaan pencabulan santriwati yang menjerat MSA (41), anak kiai di Jombang memancing reaksi sejumlah pihak. 

Seperti diketahui, MSA yang juga seorang wakil rektor pesantren yang dikelolanya itu telah ditetapkan tersangka dan kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buronan Polda Jatim

Kabar ini langsung direaksi Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur, KH Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans.

Dia meminta semua pihak harus mengedepankan hukum positif yang berlaku.

"Siapapun pelakunya, dia adalah warga negara Indonesia. Sehingga, memiliki kewajiban untuk mentaati aturan hukum positif yang berlaku,” kata Gus Hans, Sabtu (15/1/2022). 

Baca juga: FAKTA LENGKAP Anak Kiai di Jombang Tersangka Pencabulan Santriwati hingga Jadi DPO, Korban 15 Tahun

Lebih jauh, Ketua Ikatan Alumni UPN Yogyakarta menilai tidak arif ketika masalah individu dikaitkan dengan lembaga atau institusi tertentu. Termasuk, dengan keterlibatan pesantren.

 “Kita tidak boleh melembagakan permasalahan personal. Jangan membawa bawa bawa institusi hanya untuk melindungi tindakan yang dilakukan oleh orang per orang. Walaupun orang tersebut memiliki ‘saham atau jasa’ yang besar dalam institusi tersebut," tegasnya.

Keterlibatan lembaga hanya akan membenturkan antar sesama masyarakat. Ini akan menimbulkan permasalahan sosial masyarakat berkepanjangan. 

"Kita jadi teringat kasus Suni-Syiah beberapa waktu lalu yang ternyata 'hanya' berawal dari perselisihan keluarga saja. Kemudian, ini menjadi isu nasional hingga berujung pengusiran,” kata Dewan Penasihat PW GP Ansor Jatim ini.

Selain sosial masyarakat, hal ini juga akan menimbulkan kesan negatif kepada lembaga, institusi, bahkan komunitas yang bersangkutan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved