Breaking News:

Berita Surabaya

Rektorat Dianggap Tak Transparan, Polisi Kesulitan Dalami Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di Unesa

Satreskrim Polrestabes Surabaya terus mencoba bergerak mendalami kasus dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen kepada mahasiswi di Unesa

Penulis: Firman Rachmanudin | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Firman Rachmanudin
Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Mirzal Maulana. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Satreskrim Polrestabes Surabaya terus mencoba bergerak mendalami kasus dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen kepada mahasiswi di lingkungan kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Namun, langkah kepolisian untuk melakukan pendalaman itu terbentur ketidaktransparan dan lamanya proses investigasi yang dibentuk oleh pihak Rektorat Kampus plat merah tersebut.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Mirzal Maulana mengatakan jika pihaknya mengalami kendala dalam pengungkapakan kasus ini, karena tidak ada korban yang membuat laporan.

Jangankan nama-nama korbannya, nama oknum dosen saja tidak diberikan oleh pihak Rektorat Unesa.

"Kami butuh satu laporan dari korban dan nama dosen pembimbingnya siapa saja namanya, kami langsung action," kata Mirzal, Kamis (13/1/2021).

Mirzal memastikan, pihaknya bakal tancap gas ketika sudah menemukan ada alat bukti yang cukup dan laporan yang masuk terkait pelecehan itu.

"Sekarang alat bukti dan saksinya mana. Selama ini Tim Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) sudah masuk pihak rektorat minta data, tapi sampai sekarang belum menyampaikan bukti itu kepada kami," tegasnya.

Semenjak kasus pelecehan mencuat ke publik, melalui Unit PPA berusaha jemput bola membantu pihak Unesa.

Namun kenyataannya, hal tersebut tidak mudah seperti yang dibayangkan.

Bahkan ada kesan pihak rektoran menutup-tutupi dengan dalih masih proses investigasi pihak kampus.

Selama ini, polisi hanya bergerak menindaklanjuti kasus pelecehan seksual dengan hanya berbekal informasi pemberitaan di media massa dan media sosial.

Selanjutnya, Mirzal menerjunkan tim ke Unesa dan sempat bertemu pihak rektorat.

Namun sampai sekarang, rektoran belum memberikan nama, baik korban maupun oknum dosen yang disebut menjadi kooban dan pelaku dugaan kasus pelecehan seksual itu.

"Kami butuh satu nama korban saja yang jelas, supaya bisa kita lidik," tandas Perwira asal Surabaya itu.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved